Minggu, 30 September 2012

Hayat Anne Collins: Memeluk Islam Telah Membuat Seluruh Dosaku Terampuni

Hayat Anne Collins: Memeluk Islam Telah Membuat Seluruh Dosaku Terampuni 

Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen yang religius. Pada masa itu, orang-orang Amerika lebih agamis dari sekarang. Misalnya sebagian besar keluarga akan ke gereja setiap Ahad. Keluarga saya terlibat dalam komunitas gereja. Kami mempunyai pendeta protestan dalam rumah. Ibu saya mengajar sekolah hari Minggu, dan saya ikut membantunya.
Saya lebih agamis dari anak-anak lain walaupun saya tidak begitu memperhatikannya. Ibu saudara saya akan menghadiahkan saya Injil kepada saya, manakala adik perempuan saya mendapat boneka. Di waktu yang lain, saya meminta buku doa dari kedua orang tua saya. Saya membacanya setiap hari selama bertahun-tahun.
Ketika saya di sekolah menengah, saya mengikuti program studi Injil selama dua tahun. Saya telah membaca beberapa bagian dari Injil, tetapi saya tidak begitu memahaminya dengan baik. Inilah peluang bagi saya untuk belajar. Malangnya, kami belajar banyak bagian dari Buku Perjanjian Lama dan Buku Perjanjian Baru, dan saya mendapati banyak bagian yang tidak dapat diterima akal dan kabur.
Misalnya, Injil mengajar ide Dosa Original, yang bermaksud semua manusia lahir berdosa. Saya mempunyai seorang adik lelaki yang masih bayi, dan saya yakin benar bahwa bayi itu tidak berdosa. Injil juga mempunyai kisah-kisah aneh dan tidak masuk akal berkaitan dengan Nabi Ibrahim dan Nabi Daud. Saya tidak dapat menerima mengapa nabi bisa berperilaku demikian seperti yang disebutkan Injil.
Banyak sekali perkara-perkara yang membuat saya bingung tentang Injil, tetapi saya tidak pernah menyoal. Saya takut untuk bertanya ,saya lebih ingin dikenali sebagai seorang ‘anak yang baik'. Alhamdulillah, masih ada seorang anak lelaki yang sering bertanya.
Perkara yang paling kritikal adalah konsep Trinitas. Saya tidak dapat memahaminya. Bagaimana mungkin Tuhan punya tiga bagian dan salah satunya manusia? Saya pernah belajar sejarah mitos Yunani dan Roma di sekolah, saya pikir ide Trinitas dan kuasa luar biasa orang kudus begitu sama dengan ide-ide Yunai dan Roma tentang berbagai wujud ‘Tuhan' yang mengurusi aspek-aspek kehidupan yang berlainan.
Anak lelaki yang menyoal berbagai pertanyaan tentang Trinitas mendapat berbagai jawaban, tetapi dia tidak pernah puas hati. Saya juga demikian. Akhirnya, guru kami seorang profesor Teologi Universitas Michigan meminta dia berdoa untuk memperkokohkan imannya. Saya turut berdoa.
Ketika saya berada di sekolah tinggi, secara rahasia saya ingin menjadi biarawati. Saya tertarik dengan cara penyembahan yang masanya telah ditetapkan, gaya hidup yang sepenuhnya untuk Tuhan, cara berpakaian yang memperlihatkan cara hidup agamis. Satu-satunya halangan saya untuk mencapai cita-cita ini, saya bukan seorang Katolik.

Saya tinggal di kota Midwestern di mana Katolik merupakan minoritas yang tidak dipandang dan tidak popular! Lagi pula pendidikan protestan yang saya terima menyebabkan saya tidak dapat menerima keterasingan agamis, sebuah kepercayaan yang tidak sehat bahwa orang kudus yang mati punya upaya untuk membantu saya.
Di kolej, saya terus berfikir dan berdoa. Para pelajar sering membahas tentang agama dan saya mendengar berbagai ide. Seperti Yusuf Islam, saya juga belajar apa yang disebut agama orang-orang Timur seperti paham Buddhisme, Konfusisme dan Hinduisme. Semuanya tidak dapat membantu saya.
Saya bertemu seorang Muslim dari Libya. Dia memberitahu serba sedikit tentang Islam dan al-Quran. Dia memberitahu saya bahwa agama Islam adalah agama yang paling up-to-date. Saya pernah berpikir bahwa Afrika dan Timur Tengah adalah negara-negara terkebelakang, maka saya tidak dapat melihat Islam sebagai agama yang modern atau sesuai dengan zaman ini.
Keluarga saya membawa lelaki Muslim Libya ini ke acara Natal di gereja. Acara tersebut berlangsung dengan baik sekali. Pada akhir acara, dia bertanya, "Siapa yang menyusun aturan ini? Siapa yang mengajar kalian kapan untuk rukuk dan bertekuk lutut? Siapa yang mengajar anda untuk berdoa? Saya memberitahunya tentang sejarah gereja. Pada mulanya pertanyaan-pertanyaannya menimbulkan kemarahan saya, tetapi kemudian hal membuat saya berpikir.
Adakah orang yang mengatur acara penyembahan ini benar-benar layak untuk berbuat demikian? Bagaimana mereka bisa mengetahui bentuk penyembahan yang harus dilakukan? Adakah mereka menerima arahan dari langit?
Saya sadar sebenarnya saya tidak begitu mempercayai ajaran Kristen, tetapi saya tetap saja ke gereja. Saat perhimpunan membaca bagian yang saya anggap begitu karut, seperti Nicene Creed, saya mendiamkan diri, saya tidak turut membacanya. Saya rasa seperti alien dalam gereja, seperti orang asing.
Sebuah kejutan! Seseorang yang dekat dengan saya, punya masalah perkawinan. Dia ke gereja untuk mendapatkan nasihat. Pembantu pendeta menasihatinya malah mengambil kesempatan atas kehampaan dan kekecewaannya lalu membawanya ke motel dan memperkosanya.
Pada masa ini, saya masih belum berpikir secara teliti peran pendeta dalam kehidupan Kristen. Kini saya membuat keputusan untuk melakukannya. Sebagian besar percaya bahwa keampunan hanya bisa dilakukan dalam acara ‘Hubungan Suci'/perjamuan kudus tetapi pendeta yang telah dilantik harus memimpin acara ini. Tanpa pendeta maka tidak ada keampunan.
Saya kembali ke gereja, saya duduk dan melihat para pendeta yang berdiri di hadapan. Mereka kelihatan tidak lebih baik dari orang lain, malah sebagian kelihatan lebih parah. Sejauh mana benarnya sekelompok orang atau seseorang diperlukan untuk menjalin hubungan dengan Tuhan? Kenapa saya sendiri tidak bisa berhubung terus dengan Tuhan, dan menerima keampunan langsung dari-Nya?
Tidak lama kemudian, saya menemui terjemahan al-Quran di sebuah toko buku, sayapun membeli dan membacanya. Kadang-kadang saya membacanya, ini berlangsung selama 8 tahun. Pada masa yang sama saya turut meneliti agama lain.
Saya menjadi sadar dan takut pada dosa-dosa saya. Bagaimana saya bisa mengetahui bahwa Tuhan akan mengampuni saya. Saya tidak yakin dengan model Kristen, tidak mungkin cara Kristen itu dapat diterima. Dosa-dosa saya menjadi beban berat bagi saya. Saya tidak tahu bagaimana untuk bisa lari dari beban ini. Saya merindukan pengampunan.
Saya membaca dalam al-Quran surat al-Maidah ayat 84 yang artinya, "Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh."
Saya mulai menaruh harapan kepada Islam. Bagaimana saya dapat mencarinya? Saya melihat orang-orang Islam shalat dalam berita-berita televisi, dan saya tahu bahwa mereka mempunyai cara shalat yang khusus. Saya menemui sebuah buku yang menjelaskannya, sebuah buku yang ditulis oleh non muslim. Saya coba mengamalkannya. (saya tidak tahu apa-apa tentang wudhu) Saya shalat dengan cara tersebut secara rahasia selama bertahun-tahun.
Akhirnya selepas 8 tahun membeli Quran, saya membaca ayat 3, surat al-Maidah yang artinya, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu."
Kini, saya sedar masih banyak yang perlu saya pelajari contohnya, bagaimana untuk mengerjakan shalat dengan benar. Karena Quran tidak memberi penjelasan yang detil. Masalahnya saya tidak punya kenalan Muslim.
Tidak seperti sekarang, dulu umat Islam tidaklah ramai seperti sekarang. Saya tidak tahu di mana untuk menemui mereka. Saya menemui nomor telepon masyarakat Islam dalam sebuah buku telepon. Saya pun menelepon, ada seorang lelaki yang menjawab, saya menjadi panik dan lantas meletakkan gagang telepon. Apa yang akan saya kata? Apakah jawaban mereka? Adakah mereka akan menaruh syak kepada saya? Mengapa mereka memerlukan saya?
Untuk beberapa bulan, saya menelepon masjid beberapa kali. Setiap kali saya menjadi panik dan meletakkan telepon. Seperti seorang penakut, saya menulis surat meminta informasi. Lelaki Muslim di masjid menelepon saya, kemudian menghantar pamflet berkaitan Islam. Saya memberitahunya bahwa saya ingin memeluk agama Islam. Tetapi dia memberitahu saya, "Tunggulah sampai anda benar-benar pasti." Saya merasa kecewa karena dia suruh saya menanti. Sekalipun demikian saya memahami bahwa apa yang dia kata benar. Saya haruslah mendapatkan kepastian. Sekali saya menerima Islam, tidak ada jalan kembali.
Saya menjadi begitu tertarik dengan Islam. Saya memikirkannya siang dan malam. Beberapa kali saya menyupir ke masjid (pada masa itu sebuah rumah lama diubah menjadi masjid) dan mengelilinginya beberapa kali dengan harapan saya dapat bertemu dengan muslim serta membayangkan apa yang terdapat dalam masjid tersebut.
Akhirnya, ketika saya sedang bekerja di dapur, tiba-tiba saya tahu bahwa saya adalah seorang Muslim. Seperti seorang penakut, saya menghantar surat ke masjid. Dalam surat itu saya menulis; Tiada Tuhan melainkan Allah, Nabi Muhammad adalah pesuruh-Nya. Saya ingin dihitung sebagai penganutnya.
Keesokkan harinya, lelaki Muslim itu menelepon saya dan saya melafazkan dua kalimat syahadah kepadanya. Dia memberitahu saya bahwa Allah Swt telah mengampuni dosa-dosa saya pada masa ini, dan saya seperti seorang bayi yang baru lahir ke dunia.

Saya merasakan beban dosa yang saya tanggung selama ini jatuh berguguran, saya menangis kegembiraan. Saya tidur sedikit malam itu, saya hanya bisa menangis dan berulang kali menyebut nama Allah. Pengampunan telah diberikan. Alhamdulillah. (IRIB Indonesia/ onislam.net)

0 komentar:

Posting Komentar