Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 September 2012

Dialog Nabi Musa as dan Allah di Bukit Tursina

Tadarus; Membaca Ulang Dialog Nabi Musa as dan Allah di Bukit Tursina


Musa satu di antara nabi yang memiliki gaya dalam bermunajat yang indah dan mampu menenangkan hati manusia yang mengucapkannya di hadapan Allah. Dialog dan percakapan Allah dengan Musa di gunung Tursina menghidupkan kelezatan dan kerinduan manusia untuk bercengkerama dengan Allah. Dialog dan percakapan ini mampu menggetarkan hati setiap manusia yang menginginkan kebenaran.

Nabi Musa as tersesat jalan ketika kembali ke Mesir bersama keluarganya. Dari jauh ia melihat sebuah cahaya dan kepada istrinya ia berkata, "Tunggu di sini sebentar dan saya akan pergi  mencari api!"

Kemudian dengan tongkatnya ia segera pergi ke arah cahaya itu. Tiba-tiba muncullah suara langit dari sebuah pohon yang disangkanya sebuah cahaya itu, "Hai Musa! Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka lepaskanlah sandalmu. Sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Tursina. Dan Aku pilih kamu (sebagai utusan). Sekarang dengarkan apa yang akan diwahyukan kepadamu!"

Hai Musa! Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat Aku."

"Segungguhnya Hari Kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan."

"Maka jangan sekali-kali orang yang tidak beriman kepadanya dan orang yang mengikuti hawa nafsunya membuatmu berpaling darinya yang menyebabkan kamu jadi binasa."

Musa tertegun di tempat ia berdiri. Indahnya ucapan itu merasuk ke dalam dirinya. Kembali ada suara yang menghentakkan dirinya, "Hai Musa! Apa yang ada di tangan kananmu?

Musa berkata, "Ini adalah tongkatku. Aku bersandar padanya. Aku pergunakan ia memukul dedaunan untuk kambingku dan untuk menyelesaikan urusan-urusan lainnya."

Allah berfirman, "Hai Musa! Lemparkanlah ia!"

"Musa melemparnya, maka tiba-tiba berubah menjadi seekor ular dan bergerak merayap dengan cepat."

Musa ketakutan dan mundur ke belakang. Allah berfirman, "Ambillah dan jangan takut! Kami akan mengembalikannya seperti semula!" (QS. Thaha; 12-21)

Dengan perintah Allah, ketika Musa mengambil ular, tongkatnya kembali berada di tangannya.

Allah berfirman, "Dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar."

Allah berfirman lagi dan memilih musa menjadi utusan-Nya, "Pergilah kepada Fir'aun; sesungguhnya ia telah melampaui batas."

Musa merasa keberatan menanggung beban risalah ini dan bermunajat kepada Allah seraya berkata:

"Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku."

"Dan mudahkanlah untukku urusanku."

"Dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku."

"Supaya mereka mengerti perkataanku."

"Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku."

"(yaitu) Harun, saudaraku, (yang lisannya lebih fasih dariku, kirimlah bersamaku agar menjadi penolongku)

"Dengannya teguhkanlah kekuatanku."

"Dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku." (karena aku khawatir mereka mendustakan aku)

"Supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, (karena mensyukuri kebaikan ini) (QS. Thaha: 25-34)

Dalam munajat yang indah dan hubungan maknawi, Allah Swt menciptakan situasi yang kondusif dan aman bagi Nabi Musa as dan berfirman bahwa apa yang engkau inginkan sudah diberikan kepadamu. Kami telah memperkuat dirimu dengan saudaramu dan untukmu Kami berikan kelebihan dan kemenangan. Musuh-musuh kalian tidak akan dapat mencapai kalian berkata ayat-ayat Kami.

Nabi Musa as di akhir munajatnya mengatakan, "Sesungguhnya Engkau adalah Maha Melihat (keadaan) kami". (QS. Thaha: 35)

Kamis, 27 September 2012

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nisaa Ayat 80-82

Tafsir Al-Quran, Surat An-Nisaa Ayat 80-82

Ayat ke 80


Artinya:
Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.  (4:80)

Manajemen yang baik dalam mengelola masyarakat perlu menetapkan peraturan pemerintah yang baik dan ditaati oleh rakyat. Perlu diingat juga bahwa agama Islam tidak diturunkan oleh Allah Swt kepada manusia hanya untuk mengatur masalah pribadi manusia, tapi juga masalah sosialnya. Islam melihat kebahagiaan manusia berada  di balik kebahagiaan sosial dan perannya di berbagai pentas sosial.

Kewajiban seperti zakat, haji, jihad adalah contoh jelas perintah-perintah sosial dan menindaklanjuti hukum ini memerlukan jaminan pelaksanaan dan tiada lain jaminan itu adalah pembetukan pemerintahan Islam.

Menurut al-Quran, Rasul Saw bukan hanya bertanggung jawab menyampaikan perintah-perintah ilahi, tetapi beliau juga menjadi hakim dan pemimpin masyarakat Islam. Menaati Rasulullah Saw sejajar dengan mengikuti perintah Tuhan. Sebaliknya, melanggar beliau sama artinya melanggar perintah Allah.

Poin penting yang patut diperhatikan, ayat ini menyatakan bahwa Rasul Saw di depan masyarakat tidak bertugas memaksa masyarakat menerima kebenaran dan melaksanakannya, sekalipun beliau merupakan pemimpin masyarakat. Tanggung jawab beliau hanya mengarahkan dan memimpin masyarakat, bukan memaksa mereka melaksanakan perintah-perintah  ilahi.

Dari ayat tadi terdapat  dua  pelajaran yang dapat dipetik:‎
1.  Taat kepada Tuhan bukanlah berarti melaksanakan shalat dan puasa saja, tapi juga termasuk taat kepada para pimpinan sosial ilahi dan penanggung jawab agama.
2.  Tugas para nabi adalah menyebarkan agama bukan memaksakannya dan manusia harus memilih agama  lewat kehendaknya.

Ayat ke 81

Artinya:
Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: "(Kewajiban kami hanyalah) taat". Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi Pelindung.  (4: 81)

Ayat ini kembali memperingatkan bahaya orang-orang Munafik yang ditujukan kepada Nabi Saw dan Muslimin. Waspadailah bahwa di antara kalian terdapat kelompok yang lemah imannya atau munafik yang pada lahiriahnya seakan-akan bersama Muslimin. Karena dalam pertemuan rahasia di malam hari mereka mengambil keputusan lain dan berupaya melakukan konspirasi terhadap umat Islam. Cara menghadapi orang-orang seperti ini adalah dengan mengenali mereka dan tidak boleh cemas terhadap konspirasi mereka. Karena Tuhan memantau ucapan dan keputusan mereka dan harus dipatahkan tepat waktunya. Oleh karenanya sudah sepatutnya muslimin  bertawakal dan meminta bantuan dari-Nya.

Dari ayat tadi terdapat  tiga  pelajaran yang dapat dipetik:‎
1.  Janganlah kita lalai terhadap konspirasi musuh dalam negeri. Jangan juga bepikir musuh hanya ada di luar perbatasan.
2.  Janganlah cepat percaya semua pernyataan persahabatan. Ingat, bila lisan semakin manis dan suka memuji, maka semakin besar kemungkinan kemunafikannya.
3.  Allah Swt adalah pelindung sejati Mukminin. Allah membantu umat Islam dengan bantuan lahiriah dan gaib.

Ayat ke 82

Artinya:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.  (4: 82)

Para  penentang Islam yang tidak memiliki alasan di depan logika dan argumentasi gamblang Rasul  Saw, mereka melontarkan berbagai tudingan. Di antaranya mereka mengatakan, al-Quran adalah hasil pikiran Muhammad dan Allah Swt. Dalam ayat ini menyatakan, mengapa kalian tidak tadabbur atau merenung mengenai ayat-ayat  al-Quran? Padahal al-Quran sepanjang lebih dari 20 tahun era risalah Nabi, diturunkan dalam kondisi yang berbeda-beda, baik itu kondisi damai dan perang. Sekiranya hasil dari  pikiran manusia sudah sewajarnya akan dijumpai banyak perselisihan, baik dari sisi kandungan maupun dari sisi bentuk dan keindahan pengungkapan.

Pada prinsipnya, salah satu dari mukjizat al-Quran adalah kekuatan dan kebernilaian ayat-ayat al-Quran di sepanjang sejarah manusia. Karena, para penulis yang paling hebat sekalipun tidak dapat membandingkan tulisannya saat ini dengan hasil karyanya 20 tahun yang akan datang. Dalam rentang waktu ini akan terjadi perubahan dan perkembangan.

Dari ayat tadi terdapat tiga pelajaran yang dapat dipetik:‎
1.  Berbeda dengan mereka yang mendefinisikan agama bertentangan dengan pikiran dan ilmu pengetahuan, ayat ini secara gamblang mengajak semua manusia merenungkan ayat-ayat ilahi agar dapat sampai kepada kebenaran Islam.
2.  Al-Quran dapat dimengerti oleh semua zaman dan generasi dan semua mukminin diwajibkan merenungkannya.
3.  Apabila masyarakat kembali kepada al-Quran, perselisihan dan pertikaian akan sirna.  Karena dalam al-Quran tidak ada sesuatu yang menyebabkan perselisihan.

Rabu, 26 September 2012

Tadarus >> Dialog Ashab Al-Kahfi Dalam Mempertahankan Keimanannya

Tadarus; Dialog Ashab Al-Kahfi Dalam Mempertahankan Keimanannya

Iman kepada Allah merupakan sebuah modal yang menjadikan manusia senantiasa aktif dan berkembang. Dengan menyambungkan diri dengan Sang Pencipta alam, seseorang akan melihat kehidupan ini menjadi indah, namun pada saat yang sama ia tidak terikat dengan keindahan duniawi. Bahkan menjadikannya sebagai jembatan untuk mencapai kebahagiaan ukhrawi.


Di bawah naungan spiritual dan lezatnya keakraban dengan Allah, jiwa manusia akan bersemi dan segar. Ia tidak akan merasa lelah dan putus asa. Ia tidak akan disibukkan oleh hal-hal yang hina dan rendah. Dalam kondisi seperti ini kedudukan dan jabatan serta kelezatan duniawi tidak memiliki nilai abadi di matanya.

Al-Quran dalam ayat 9 sampai 26 surat al-Kahfi menceritakan tentang pemuda-pemuda yang beriman. Dengan resistensi dan keteguhannya mereka telah menghidupkan jiwa tauhid. Allah telah menambahkan petunjuk-Nya dan memberikan keyakinan kepada mereka. Pemuda-pemuda ini hidup di tengah-tengah suasana kekufuran, kesyirikan dan kebodohan. Mereka adalah para pendamping raja. Mereka menyaksikan masyarakat bersujud di hadapan rajanya dan sekolompok lainnya memberikan hadiah kepada tuhan-tuhannya yang tidak bernyawa. Perbuatan dan sikap-sikap masyarakat ini membuat hati mereka sesak dan tertekan. Akhirnya raja mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang bertauhid dan menyembah Allah. Raja memanggil mereka. Kepada satu sama lainnya orang-orang mukmin ini berkata, "Kita datang menghadap raja bersama-sama tapi tetap teguh dengan keyakinan kita dan tidak akan melepaskan keimanan kita."

Ketika raja melihat mereka, langsung berkata dengan suara keras, "Di istanaku kalian membicarakan tentang keesaan Tuhan?"

Maximilian menantu raja berkata, "Kami betul-betul telah berpikir tentang Tuhan Yang Esa. Tuhan kami adalah Pencipta langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru tuhan selain Dia. Bila kami berbicara demikian, sungguh kami telah berbicara nyeleneh."

Raja memberikan peluang selama satu hari kepada mereka untuk meninggalkan agamanya dengan upaya bisa mendapatkan kembali segala fasilitas darinya sebagaimana sebelumnya.

Para pemuda pecinta Allah ini bermusyawarah bersama dan mengambil keputusan untuk meninggalkan lingkungan penuh kekufuran itu dan hijrah ke tempat lain supaya bisa menjaga keimanannya dan menyebarkan ideologi tauhid.

Allah berfirman, "Kami telah meneguhkan hati mereka dan mengilhami mereka bila kalian telah menjauh, maka berlindunglah ke goa dan Allah akan meluaskan rahmat-Nya untuk kalian serta membukakan jalan kemudahan dan keselamatan bagi kalian."

Mereka berjalan menuju goa dan tinggal di dalamnya, sementara anjingnya meluruskan kedua tangannya di depan pintu goa. Karena yakin akan pertolongan Allah, mereka berdoa seraya berkata, "Wahai Tuhan kami! berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)."

Dan Allah pun mengabulkan doa mereka dan menjadikan mereka tertidur selama bertahun-tahun.

Selanjutnya al-Quran menceritakan tentang kondisi dan lingkungan mereka:

"Dan kalian akan melihat matahari ketika terbit, condong dari goa mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam goa itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kalian tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya."

"(bila kamu melihat mereka) kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka meluruskan kedua lengannya di muka pintu goa. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka."

"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kalian berada (disini?)" Mereka menjawab, "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi), "Tuhan kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian untuk pergi ke kota dengan membawa uang perak kalian ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untuk kalian, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kalian kepada seorangpun."

"Karena bila mereka mengetahui kondisi kalian, maka mereka akan merajam kalian atau memaksa kalian untuk kembali kepada keyakinan dan agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya."

Di sini al-Quran mengisayaratkan tentang tidurnya Ashab Kahfi selama 309 tahun dan bangunnya mereka atas kehendak Allah. Allah memberitahukan tentang kepastian Hari Kiamat dan kembali bangkitnya manusia seraya berfirman, "Dan demikianlah Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan Hari Kiamat tidak ada keraguan padanya."

Setelah Ashab Kahfi bangun, mereka tidak hidup lama. Ketika mereka pergi ke kota untuk membeli makanan, mereka memahami bahwa dirinya bukan orang-orang yang hidup di zaman itu. Segala menunjukkan bahwa zaman telah lama berlalu dan tidak lagi kelihatan tanda-tanda kesyirikan dan kekufuran. Mereka meninggal dunia setelah menemukan mukjizat ilahi dan dari situlah mulai terjadi perselisihan di tengah-tengah masyarakat.

Sekelompok orang berkata, "Dirikan sebuah bangunan di atas (goa) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka."  Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya."

Kemudian Allah mengisyaratkan jumlah Ashab Kahfi dan lamanya mereka tidur dan berfirman, "Katakanlah, "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit." Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka."

"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)."

"Katakanlah, "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di goa); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan." (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)