Tampilkan postingan dengan label Islamologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Islamologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Oktober 2012

Mengenal Islam, Mengenal Fitrah Manusia

Mengenal Islam, Mengenal Fitrah Manusia 

 Secara naluri, manusia mengenal Tuhan dan penciptanya. Fakta ini bisa kita saksikan dalam sejarah perjalanan umat manusia dengan berbagai bentuk dan coraknya. Terkadang, naluri mengenal Tuhan ini tertutupi oleh kelalaian dan ada kalanya terpompa sedemikian cepat. Namun, naluri ini tidak akan pernah pudar pada makhluk yang disebut manusia ini.

Menurut Doktor Alexis Carl, "Dalam jiwa manusia terdapat pelita yang sangat terang yang menunjukkan kepadanya semua kesalahan, penyimpangan dan kesesatan yang dia lakukan. Pelita inilah yang mencegah manusia dari terus berada di jalan yang menyimpang."

Di alam yang luas ini, manusia sering berhadapan dengan berbagai hubungan yang rumit. Di satu sisi, dia menyaksikan adanya berbagai peristiwa yang terjadi karena faktor luar yang sama sekali di luar kontrolnya. Di sanalah, manusia akan merasa bahwa dia adalah makhluk kecil yang tidak berdiri sendiri. Dia merasa perlu bersandar kepada kekuatan yang Maha Besar dan Mutlak, saat menghadapi kesulitan dan terhimpit berbagai problema kehidupan. Dengan kata lain, manusia merasa sangat membutuhkan sebuah kekuatan besar di alam ini yang membantunya dalam mengarungi kehidupan. Karenanya, sejarah kehidupan umat manusia tidak bisa dipisahkan dari penghambaan kepada Tuhan.

Agama-agama ilahy turun dengan membawa misi yang sama dengan tuntutan fitrah atau naluri manusia. Agama turun untuk menujukkan kepada umat manusia jalan yang terbaik. Agama yang didapatkan dari sumber wahyu berhubungan secara langsung dengan fitrah. Agama yang memerintahkan umat manusia agar mengenal diri dan kemampuannya terlebih dahulu untuk kemudian mengenal Tuhannya. Agama adalah pegangan dan panutan bagi manusia di dunia yang misterius dan ajang pergulatan kebaikan dan keburukan ini. Di dalam agama, tujuan, jalan dan tugas masing-masing telah ditentukan. Agamalah yang menunjukkan jalan kebahagiaan dan kemajuan.

Dalam beberapa abad belakangan ini, kemajuan sains dan teknologi telah membuat mata sebagian orang buta dan merasa tidak lagi memerlukan kehadiran agama dalam kehidupan mereka. Dengan mental seperti ini, manusia generasi sekarang telah merasakan kehidupan tanpa agama. Namun, kehidupan model inilah yang hanya membuahkan peperangan dan krisis di mana-mana. Manusia saat ini sadar, bahwa dia memerlukan sebuah agama dan filsafat yang bisa menyelamatkannya dari kebingungan dan kehampaan ini. Manusia kini tengah sibuk mencari sebuah keyakinan dan pembimbing yang bisa menunjukkan kosmologi yang sebenarnya mengenai alam ciptaan ini, supaya dia bisa menjawab teka-teki rumit mengenai, `Bagaimana dia harus hidup?

Al-Quran menyebut agama Islam sebagai satu-satunya yang bisa menjawab tuntutan manusia. Al-Quran juga menyebut Islam sebagai agama dunia dan abadi yang diturunkan Allah, Tuhan yang Maha Bijaksana. Dengan menerapkan seluruh ajaran Islam, manusia dapat mewujudkan kondisi yang paling baik untuk kehidupannya. Islam adalah agama untuk semua bangsa dan seluruh lapisan masyarakat. Kaum fakir atau kaya, kulit putih atau hitam, dan seluruh etnis dan bangsa berhak untuk mengikuti ajaran suci ini.

Islam diturunkan untuk semua umat manusia, dengan tujuan untuk menerapkan keadilan sosial di tengah masyarakat. Agama ini mampu merasuk jauh ke lubuk hati manusia yang paling dalam dan menyadarkannya akan kesalahan dan kekeliruannya, untuk kemudian mengubahnya menjadi manusia yang suci, sadar, dan penuh pengertian serta giat.

Surah Ruum ayat 30 dalam hal ini menjelaskan,
"Berpalinglah kalian kepada agama yang murni. Fitrah Allah yang dengannya Allah menciptakan manusia. Tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Inilah agama yang kuat. Akan tetapi sebagian besar manusia tidak mengetahuinya."

Salah satu kelebihan agama Islam yang paling menonjol adalah bahwa agama ini sangat memperhatikan sisi jasmani, rohani, logika, perasaan, individu dan sosial. Seluruh ajaran Islam dapat dibagi ke dalam tiga kategori. Pertama, Akidah atau kepercayaan, kedua, Fiqih atau hukum dan ketiga, Akhlak.

Akidah adalah landasan filsafat dan ideologi seorang muslim. Akidah didasari oleh kosmologi dan ideologi agama mengenai Tuhan, manusia dan alam. Fiqih atau hukum berisikan perintah dan tugas yang harus dilakukan oleh manusia dalam aktifitas individu dan sosialnya. Sedangkan akhlaq adalah kumpulan perbuatan-perbuatan baik dan mulia yang mesti dilakukan oleh seorang muslim. Sudah selayaknya seorang muslim menghiasi dirinya dengan Akhlak ini.

Minggu, 07 Oktober 2012

Mengenal Islam, Agama Kunci Kebahagiaan

Mengenal Islam, Agama Kunci Kebahagiaan 

Jika Anda berencana untuk berekreasi selama beberapa hari, tentunya Anda akan memerlukan beberapa informasi berkenaan dengan tempat yang akan Anda tuju. Anda juga perlu memikirkan manfaat dari perjalanan itu, mencari tahu jalan terbaik yang harus Anda lalui untuk sampai ke sana. Dengan demikian, safari Anda benar-benar terprogram.

Dari contoh yang mudah ini, kita bisa menarik pelajaran bahwa informasi aktual, tujuan dan program sangat diperlukan dalam setiap perkerjaan yang kita lakukan, dan hal ini tidak hanya menyangkut pekerjaan keseharian kita. Dalam kehidupan, ketiga hal itu juga sangat menentukan. Dengan kata lain, setiap orang dengan pengetahun yang dimilikinya mengenai alam semesta harus menentukan tujuan hidupnya untuk selanjutnya menyusun program secara matang untuk bisa mewujudkan tujuan itu.

Agama adalah kunci menuju kebahagiaan. Al-Quran Al-Karim menyebut agama sebagai pedoman hidup paling baik bagi umat manusia yang dapat menghantarkan mereka ke tujuan penciptaan.
Perbedaan paling mencolok antara agama dengan seluruh aturan yang ada di dunia adalah bahwa agama diturunkan oleh Allah Swt, dan ada keterkaitan yang sangat erat antara kehidupan manusia, tujuan penciptaan dan Tuhan. Sedangkan undang-undang buatan manusia, tak lain adalah hasil karya akal pikirannya sendiri. Dan sangat wajar bila akal pikiran manusia akan berubah dengan bergantinya situasi dan kondisi. Tak jarang, ambisi kekuasaan dan nafsu untuk meraih keuntungan pribadi dapat membawa manusia ke jalan yang salah.

Agama menghubungkan manusia dengan kekuatan tak terbatas yang akan memberinya ketenangan dan ketenteraman jiwa. Tuhan yang secara sempurna mengenal segala rahasia dan kebutuhan manusia serta tidak terpengaruh oleh kekuatan apa pun hanya menginginkan kebahagiaan manusia. Allah Swt berfirman,

Artinya, "Allah bersama kalian di mana pun kalian berada." (Q. S. Al-Hadid: 4)

Agama adalah petunjuk dan pendorong kita untuk melakukan berbagai hal. Agama mengajak kita agar mempergunakan akal dan kekuatan batin untuk memikirkan bahwa alam maha besar dengan berbagai keajaiban dan kerapian sistemnya ini tidak muncul dengan sendirinya. Keserasian dan keteraturan alam yang bisa kita saksikan membuktikan adanya Pencipta yang dengan kemampuan dan ilmu-Nya yang tak terbatas telah menciptakan alam ini. Tak ada sesuatu pun di dunia yang muncul dengan kesia-siaan dan tak ada satu makhluk pun yang dikecualikan dari hukum alam. Dalam Surah Al-Mulk Allah Swt memerintahkan umat manusia agar mempergunakan kekuatan akal untuk memperoleh kebenaran.
Artinya, "Sekali-kali engkau tak akan menemukan ketidak seimbangan dalam ciptaan Tuhan yang Maha Pengasih. Maka lihatlah berulang-ulang adakah engkau menyaksikan adanya kekurangan? Pandanglah sekali lagi niscaya pandanganmu akan kembali dengan kelemahan tanpa mendapatkan kelemahan (dalam ciptaan Tuhan)."

Mengingat manusia adalah makhluk yang dibekali oleh serangkaian hawa nafsu, agama datang dengan misi mengajak makhluk mulia ini untuk menaiki tangga kesempurnaan setinggi mungkin. Agama mengajak manusia untuk menghias diri dengan budi pekerti luhur dan menjalani kehidupan melalui jalan yang lurus.

Dalam hal ini, Allah Swt menunjukkan jalan kebahagiaan itu kepada umat manusia melalui para dutanya yang lazim disebut dengan Nabi atau Rasul. Para Nabi dan Rasul datang dengan membawa berita bahwa segala perbuatan akan mendapatkan balasan. Orang-orang baik yang melakukan kebajikan di dunia tak perlu kecewa karena tidak mendapatkan balasan perbuatannya di dunia. Sebab ada hari akhirat yang merupakan hari pembalasan segala perbuatan. Perbuatan baik akan dibalas dengan pahala dan perbuatan buruk akan dibalas dengan siksa. (IRIB)

 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Agama dan Kosmologi

Agama dan Kosmologi 

Kosmologi yang benar adalah fondasi yang harus dibangun oleh setiap insan beragama. Dengan metode epistemologis apakah kosmologi ini bisa dibangun? Mungkinkan pengetahuan empiris dapat memecahkan masalah-masalah prinsipal kosmologis? Dimanakah posisi tasawwuf dalam perfeksi dan perjalanan spiritual manusia? Artikel ini akan menjawabnya dengan penjelasan yang lugas dan sesederhana mungkin.

Definisi Agama

Bicara soal agama, tidak bisa tidak kita harus memahami terlebih dahulu devinisi agama. Dalam bahasa Arab agama disebut ‘Din' yang secara bahasa berarti ketataan, pahala dsb. Dalam istilah, Din berarti keyakinan kepada Sang Pencipta manusia dan alam semesta serta ajaran-ajaran amaliah yang sesuai dengan keyakinan ini. Atas dasar ini orang yang tidak meyakini adanya Sang Pencita dan menganggap segala fenomena alam ini sebagai kejadian spontan atau semata-mata terjadi karena interaksi alam natural disebut sebagai orang yang tak beragama (ateis). Sebalik orang yang meyakini adanya Sang Pencipta semesta alam disebut sebagai orang yang beragama, sekalipun keyakinannya atau ritus-ritus agamanya mengalami penyimpangan dan khurafat. Maka dari itu, agama terbagi menjadi hak dan batil.

Agama yang hak adalah agama yang mengandung keyakinan yang sesuai dengan kenyataan serta membawa petunjuk kepada perilaku-perilaku yang memiliki jaminan yang valid untuk menggapai kebenaran.

Ushul dan Furu'

Dengan pengertian terminologis agama tadi jelaslah bahwa agama setidaknya terdiri dari dua elemen. Pertama, akidah atau keyakinan-keyakinan yang dilandasi dengan prinsip dan dasar yang valid. Kedua, hukum atau perintah-perintah amaliah yang sesuai dengan dasar-dasar akidah. Dengan demikian, tepatlah kiranya jika elemen akidah setiap agama disebut ‘ushul' (pokok-pokok) sedangkan elemen hukum amaliahnya disebut furu' (cabang). Dua istilah ini oleh para ulama Islam juga lazim disebut akidah Islam dan hukum Islam.

Kosmologi dan Ideologi

Istilah kosmologi dan ideologi artinya tak jauh berbeda satu dengan yang lain. Arti kosmologi antara lain ialah serangkaian keyakinan dan pandangan universal yang tersistematis mengenai manusia dan alam semesta, atau secara umum mengenai ‘ke-ada-an' (wujud). Sedangkan arti ideologi antara lain ialah serangkaian pandangan universal yang tersistematis mengenai perilaku manusia.

Sesuai dua pengertian ini bisa dikatakan bahwa rangkaian akidah dan ushul setiap agama adalah kosmologi agama ini sendiri, sementara sistem universal hukum-hukum amaliahnya adalah ideologinya, dan keduanya diterapkan sesuai ushul dan furu' agama ini. Patut diingat bahwa istilah ideologi tidak mencakup hukum-hukum parsial sebagaimana kosmologi juga tidak mencakup keyakinan-keyakinan parsial. Selain itu, kata ideologi juga sering diterapkan pada pengertian umum yang mencakup kosmologi.

Kosmologi Teisme dan Kosmologi Materialisme

Di tengah umat manusia terdapat aneka ragam kosmologi. Toh demikian, dengan pertimbangan diterima atau tidaknya alam immateri atau supranatural semuanya bisa dibagi dalam dikotomi kosmologi ketuhanan (teisme) dan kosmologi materialisme. Penganut kosmologi materialisme dulu disebut zindiq atau mulhid (ateis), sedangkan sekarang lazim disebut materialis. Ada banyak paham yang membidani lahirnya materialisme, dan diantaranya yang paling kesohor ialah Materialisme Dialektik yang menjadi elemen filosofis ajaran Marxisme.

Dari keterangan di atas jelas bahwa penerapan istilah kosmologi lebih luas daripada istilah keyakinan atau akidah agama, karena kosmologi juga meliputi paham-paham ateisme dan materialisme sedangkan akidah agama tidak mencakupnya. Ini serupa dengan istilah ideologi yang sebenarnya hanya mencakup rangkaian hukum-hukum agama.

Agama Samawi dan Ushulnya

Tentang proses munculnya berbagai agama para ahli sejarah agama dan sosiolog berbeda pendapat. Namun, berdasarkan apa yang bisa dipahami dari teks-teks keislaman (nash), agama muncul sejak manusia itu ada. Manusia pertama adalah Nabi Adam as yang merupakan nabi penyeru Tauhid (monoteisme), sedangkan keberadaan agama-agama yang mengandung paham-paham syirik (politeisme) tak lain adalah akibat penyelewengan, distorsi, dan tendensi-tendensi individual maupun kelompok.

Agama-agama monoteisme yang merupakan agama samawi dan hakiki memiliki tiga prinsip universal yang kolektif. Pertama, keyakinan kepada Tuhan Yang Esa. Kedua, keyakinan kepada kehidupan yang abadi untuk setiap manusia di alam akhirat serta ganjaran dan pahala untuk setiap perbuatannya ketika hidup di alam dunia. Ketiga, keyakinan kepada pengutusan para Nabi oleh Allah Swt untuk menuntun umat manusia kepada kesempurnaan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Tiga prinsip ini pada hakikatnya adalah jawaban untuk beberapa pertanyaan fundamental untuk setiap orang yang arif dan bijak yaitu, apa dan siapakah kausa prima atau sumber pertama wujud alam semesta ini? Apakah akhir dari kehidupan ini? Dan apakah yang bisa dijadikan sebagai jalur terbaik untuk menjalani program hidup? Adapun kandungan program yang dapat dipelajari dari jalur wahyu yang terjamin kebenarannya tak lain ialah ideologi religius yang terbangun berlandaskan kosmologi teisme.

Keyakinan-keyakinan prinsipal memiliki berbagai konsekwensi, korelasi, akses, dan rincian-rincian yang keseluruhannya membentuk konsetalasi keyakinan religius. Perselisihan dalam hal-hal inilah yang menumbuh-biakkan berbagai aliran keagamaan, mazhab, dan sekte. Perselisihan mengenai status kenabian sebagian nabi serta penentuan kitab suci yang valid, misalnya, telah memicu perselisihan antara agama-agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Perselisihan ini kemudian membawa akses berupa perselisihan-perselihan lain dalam keyakinan dan tradisi yang sebagian diantaranya tidak sejalan dengan keyakinan-keyakinan prinsipal. Contohnya adalah keyakinan trinitas dalam agama Kristen yang jelas-jelas berseberangan dengan paham monoteisme, walaupun umat Kristiani tetap berusaha mengemas keyakinan trinitas ini dengan penjelasan-penjelasannya sendiri. Dalam Islampun, umat Nabi Besar Muhammad saww juga terpecah menjadi Ahlussunnah dan Syiah akibat perselisihan mengenai mekanisme penentuan para pengganti Rasul Saw. Syiah meyakini bahwa yang berhak menentukannya hanyalah Allah Swt, sementara Ahlussunnah meyakini bahwa yang menentukannya adalah umat Islam sendiri.

Alhasil, Tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan adalah keyakinan yang paling fundamental dan prinsipal dalam semua ajaran agama samawi.

Masalah Masalah Prinsipal Kosmologis

Ketika manusia berniat memecahkan berbagai persoalan fundamental kosmologis dan mengenal ushuluddin yang benar, pertanyaan yang pertama kali mencuat ialah apakah jalan pemecahan masalah-masalah ini? Bagaimanakah pengetahuan-pengetahuan yang fundamental bisa diserap dengan benar? Di tengah berbagai metode yang ada, metode manakah yang valid untuk memperoleh pengatahuan-pengetahuan ini?

Semua pertanyaan ini dibahas secara rinci dalam epistemologi, yaitu satu disiplin ilmu yang menganalisis dan mengevaluasi berbagai pengetahuan dan metode penalaran manusia dalam memperoleh pengetahuan. Kita di sini akan membicarakan masalah ini sekadarnya.

Berbagai Jenis Pengetahuan

Dari satu aspek tertentu pengetahuan-pengetahuan manusia bisa diklasifikasikan ke dalam empat kategori:

Pertama, pengetahuan empiris. Pengetahuan ini diperoleh manusia dengan mengandalkan organ-organ inderawi, kendati akal juga berperan dalam eksepsi dan generalisasi pengetahuan-pengetahuan empiris. Pengetahuan empiris difungsikan dalam ilmu-ilmu empiris semisal kimia, fisika, dan biologi.

Kedua, pengetahuan rasional. Pengetahuan ini dibentuk oleh konsepsi-konsepsi yang diserap oleh akal pikiran. Dalam pengetahuan ini peranan akal sangat fundamental kendati adakalanya persepsi-persepsi empiris masih digunakan sebagai sumber serapan konsepsi atau digunakan sebagai bagian dari premis dalam silogisme. Ruang gerak pengetahuan ini meliputi ilmu logika, ilmu filsafat, dan ilmu matematika.

Ketiga, pengetahuan yang diterima begitu saja (ta'abbudi). Pengetahuan ini memiliki aspek sekunder dengan pengertian bahwa ilmu ini didapat berdasarkan pengetahuan-pengetahuan sebelumnya yang sudah dibuktikan sebagai sumber yang valid dan punya otoritas. Dengan kata lain pengetahuan ini diperoleh dari berita yang disampaikan oleh pembawa kabar yang terbukti bisa dipercaya. Contoh kongretnya adalah pengetahuan yang diperoleh para penganut agama dari pemuka agamanya. Pengetahuan ini adakalanya membentuk keyakinan yang jauh lebih kuat daripada keyakinan-keyakinan yang diperolehnya dari pengalaman-pengalaman empiris.

Keempat, pengetahuan intuitif (syuhudi). Tak seperti tiga kategori pengetahuan di atas, pengetahuan ini bersentuhan langsung dengan obyeknya tanpa perantara gambaran subyetif. Karena itu, ilmu atau pengetahuan ini tidak mungkin salah. Namun demikian, biasanya apa diklaim sebagai ilmu syuhudi atau irfani pada hakikatnya adalah interpretasi subyektif dari sesuatu yang telah disaksikan. Interpretasi inilah yang bisa salah.

Berbagai Jenis Kosmologi

Berdasarkan klasifikasi di atas, kosmologi bisa dibagi dalam empat bagian sebagai berikut:
Pertama, kosmologi ilmiah. Maksudnya ialah manusia membangun kosmologi universalnya mengenai alam semesta berdasarkan hasil-hasil ilmu pengetahuan empiris.

Kedua, kosmologi filosofis yang dicapai melalui proses argumentasi-argumentasi rasional.
Ketiga, kosmologi yang diperoleh melalui keimanan kepada para pemimpin agama sehingga semua kata-kata mereka diyakini sebagai kebenaran.

Keempat, kosmologi irfani yang diperoleh melalui jalur intuisi atau mukasyafah, syuhud, dan isyraq.
Pertanyaannya sekarang ialah apakah semua masalah fundamental kosmologis bisa dipecahkan secara seimbang melalui semua bagian kosmologi di atas? Ataukah ada satu diantaranya yang harus diprioritaskan atas yang lain?

 Evaluasi dan Tinjauan Kritis

 Seperti diketahui, ruang gerak pengetahuan empiris hanya terbatas pada fenomena-fenomena alam materi. Maka dari itu, hasil-hasil ilmu empiris tidak bisa mengenal fondasi-fondasi kosmologi dan menyelesaikan masalah-masalah kosmologis yang letaknya berada di luar peta ilmu pengetahuan empiris. Ilmu empiris tidak bisa mengisbatkan atau menafikannya. Hasil-hasil riset di laboratorium, misalnya, tidak akan bisa mengkonfirmasikan atau menolak keberadaan Tuhan. Ini tak lain karena pengalaman empiris sama sekali tidak akan bisa menjangkau alam immateri dan oleh sebab itu pengalaman ini jelas tidak akan bisa mengisbatkan atau menafikan sesuatu yang berada di luar zona alam materi.

Dengan demikian, kosmologi empiris lebih menyerupai fatamorgana. Karenanya, kata-kata ‘kosmologi' dalam pengertian yang sebenarnya tidak bisa diterapkan pada pandangan-pandangan universal empiris. Kita hanya bisa menyebutnya sebagai Ilmu Pengetahuan Alam Materi. Jadi, ilmu ini tidak akan bisa menjawab berbagai persoalan prinsipal menyangkut kosmologi.

Pengetahuan-pengetahuan ta'abbudi juga demikian. Sebagaimana yang dijelaskan tadi, pengetahuan ta'abbudi bersifat sekunder dalam pengertian bahwa pengetahuan ini bisa diyakini setelah sumbernya bisa dibuktikan valid sebelumnya. Jadi, sebelumnya harus bisa dibuktikan kenabian seseorang yang menjadi nara sumber pengetahuan itu. Sebelum ini pun harus pula dibuktikan keberadaan Tuhan, Zat yang mengutus nabi untuk membawa kabar (baca: pengetahuan). Dan keberadaan Pengutus nabi serta kenabian orang yang diutus-Nya jelas tidak bisa dibuktikan dengan pesan (baca: pengetahuan) yang dibawa oleh nabi. Misalnya, keberadaan Tuhan tidak bisa kita buktikan dengan pernyataan Al-Quran:"Tuhan itu ada". Dengan demikian, metode ta'abbudi juga tidak bisa menyelesaikan masalah-masalah prinsipal kosmologis.

Adapun berkenaan dengan motode irfani, syuhudi, intiusi, atau yang juga disebut mistis kita perlu memberikan penjelasan secara agak detail melalui beberapa poin sbb:

Pertama, Kosmologi adalah pengetahuan yang terdiri dari konsepsi-konsepsi subyektif (mafahim dzihniah), sementara dalam intuisi sama sekali tidak ada mafahim dzihniah.

Kedua, untuk menjelaskan dan menginterpretasi apa yang diketahui seseorang dengan jalan intuisi sangatlah memerlukan kepiawaian yang besar dalam berpikir, dan ini tidak akan bisa dicapai kecuali dengan latar belakang jerih payah berpikir dan analisis-analisis filosofis yang panjang. Jika tidak, maka seseorang yang mengalami intuisi akan terjebak pada penggunaan kata-kata yang ambigu sehingga bisa menjadi penyebab timbulnya kesesatan dan penyelewenangan.

Ketiga, dalam banyak kasus, hakikat yang diketahui seseorang melalui intuisi bisa mengundang kebingungan bagi orang ini sendiri manakala dia mencoba memberikan refleksi dan interpretasi subyektif.

Keempat, diketahuinya hakikat-hakikat yang setelah diinterpretasikan oleh pikiran bisa kita sebut kosmologi bergantung kepada proses penempuhan jalan suluk, sedangkan penerimaan metode suluk ini sendiri juga memerlukan teori-teori dasar dan masalah-masalah prinsipal dalam kosmologi. Jadi, masalah-masalah ini harus terpecahkan terlebih dahulu sebelum dimulai perjalanan suluk, sedangkan pengetahuan-pengetahuan intiusi berada pada tahap yang paling akhir. Suluk, irfan, atau yang disebut tasawwuf hanya akan bisa dialami oleh seseorang jika dia benar-benar ikhlas berusaha menempuh jalan Allah Swt, dan usaha ini hanya bisa ditempuh oleh yang orang yang memiliki pengetahuan sebelumnya tentang Allah dan jalan pengabdian kepada-Nya.

Kesimpulan

Setelah semua metode di atas terbukti tidak bisa difungsikan dalam penyelesaian masalah-masalah prinsipal kosmologis, maka tinggallah satu jalan yang bisa dijadikan alternatif, dan itu ialah jalan penalaran rasional. Dengan begitu, maka kosmologi yang yang valid dan realistis ialah kosmologi filosofis.

Sungguhpun demikian, ini bukan berarti bahwa untuk menemukan kosmologi yang benar semua persoalan-persoalan filosofis harus bisa dipecahkan. Sebaliknya, pemecahan beberapa persoalan filosofis yang sederhana dan mendekati aksiomatis sudah cukup untuk membuktikan keberadaan Tuhan yang merupakan masalah yang paling fundamental dalam kosmologi. Selain itu, menjadikan metode penalaran rasional (ta'aqqul) sebagai satu-satunya alternatif bukan berarti bahwa metode-metode lain tidak bisa dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah-masalah kosmologis, karena banyak sekali argumentasi-argumentasi rasional yang bisa dikemukakan melalui premis-premis yang didapat dari ilmu-ilmu empiris dsb. (Artikel ini disadur dari buku Amuzashe Aqaid yang ditulis Ayatullah Misbah Yazdi untuk para pemula pelajar akidah.) (IRIB)

 

Jumat, 05 Oktober 2012

Kawan Yang Baik Menurut Islam (Bagian kedua)

Kawan Yang Baik Menurut Islam (Bagian kedua) 

Salah satu tata krama dalam berkawan adalah kejujuran. Suatu hari seseorang yang amat mencintai Imam Hasan Mujtaba as mendatangi beliau dan berharap bisa bersahabat dengan beliau. Imam dengan wajah yang menyungging senyum membuka hati dan menyambut baik persahabatan dengannya. Beliau berkata, "Aku siap menjadi sahabat tapi dengan beberapa syarat." Orang tersebut menyatakan siap menerima syarat apapun yang diajukan beliau. Imam Hasan berkata, "Jika engkau ingin bersahabat denganku jangan pernah memujiku sebab aku lebih mengenal siapa diriku. Jangan pernah berbohong kepadaku sebab kebohongan tidak ada nilainya, dan jangan pernah mengumpat orang di sisiku." Orang itu terdiam membisu dan berpikir bahwa dia tidak mampu memenuhi semua syarat itu. Diapun berkata, "Wahai putra Rasulullah, izinkan aku pulang ke rumahku." Imam tersenyum menanggapinya dan berkata, "Baiklah jika itu yang kau inginkan." (Kalimat al-Imam al-Hasan hal: 168)

Adab yang lain dalam bersahabat adalah menghormati sahabatnya. Sebab dalam bersahabat, masing-masing pihak akan mendapatkan hak yang harus dijaga oleh sahabatnya. Salah satu hak itu adalah penghormatan. Islam menekankan keharusan bagi setiap orang untuk menghormati orang lain. Penghormatan terkadang menjadi kunci dalam meluruskan perilaku dan sifat orang.

Dikisahkan bahwa suatu hari Imam Ali (as) saat berjalan menuju Kufah berpapasan dengan seorang Yahudi yang juga sedang dalam perjalanan menuju pinggiran Kufah. Orang Yahudi itu tidak mengenali orang yang berpapasan dengannya itu, tak lain adalah khalifah kaum muslimin. Tapi karena kesamaan tujuan, mereka berjalan bersama. Selama perjalanan keduanya terlibat percakapan. Akhirnya mereka tiba di persimpangan jalan yang memisahkan Kufah dari desa-desa pinggirannya. Imam Ali (as) tidak memilih jalan ke Kufah tetapi ikut menyertai si Yahudi. Diapun bertanya-tanya keheranan. "Bukankah tujuanmu adalah kota Kufah?" Imam menjawab, "Benar". "Lalu mengapa engkau mengikutiku dan tidak berjalan ke arah kota?" tanyanya lagi. Imam Ali tersenyum dan berkata, "Kita sudah berkawan dalam perjalanan ini. Apa yang kulakukan adalah demi menutup persahabatan dalam perjalanan ini dengan baik. Sebab Nabi Saw memerintahkan kami untuk menghormati kawan seperjalanan dengan berjalan bersamanya beberapa langkah untuk melepas kepergiannya." "Orang Yahudi itu bertanya lagi, "Benarkah Nabi kalian yang memerintahkannya?" Imam Ali menjawab, "Benar." Menyaksikan akhlak mulia yang ditunjukkan Imam Ali, orang Yahudi itupun masuk Islam. (Al-Ushul min al-Kafi juz 2 hal: 670 hadis:5)

Tugas dan adab persahabatan yang lain adalah menjaganya dalam kondisi yang sulit seperti saat jatuh sakit. Luqman al-Hakim berkata, "Engkau tak akan pernah mengenal sahabatmu kecuali saat engkau memerlukannya." (Bihal al-Anwar Juz: 74 hal: 178)

Diriwayatkan bahwa suatu hari salah seorang sahabat Imam Ali (as) yang bernama Harits al-Hamdani jatuh sakit dan nampaknya ajal tak lama lagi akan menjemputnya. Mendengar berita itu, Imam pun bergegas menjenguknya. Imam duduk di sisi pembaringan sahabatnya. Ketika Harist membuka matanya, ia melihat pujaan hatinya berada di sisi pembaringan. Setelah berbasa-basi sekedarnya, Imam Ali (as) berkata kepada Harist, "Wahai Harits! Di alam sana, manusia akan dibangkitkan bersama orang yang dicintainya." Wajah Harits yang dikenal sebagai pencinta Ali terlihat berseri mendengar kata-kata Imam Ali yang diucapkannya sebanyak tiga kali itu. Untuk beberapa saat, Harits terlihat segar dan dia sempat duduk dan mengatakan, "Setelah ini, tak ada yang aku takutkan apakah aku yang menyongsong kematian atau kematian yang datang menjemputku." Tak lama setelah itu Harits meninggal dunia. (Bihar al-Anwar juz: 6 hal: 179)

Tatakrama berikutnya dalam bersahabat adalah menghindari kesombongan dan kecongkakan dalam berkawan. Persahabatan akan kokoh ketika seseorang tak hanya menghormati sahabatnya tetapi juga tak pernah melihat dirinya lebih tinggi dan mulia dari sahabatnya. Dalam banyak ayat al-Qur'an dan hadis disebutkan kecaman keras terhadap kesombongan. Bahkan ayat 60 surat al-Zumar menyebut neraka sebagai tempat bagi orang yang sombong. Ayat 215 surat al-Syu'ara memerintahkan Nabi Saw untuk merendah di hadapan kaum mukminin.

Menurut Islam, kesombongan hanya sifat yang layak disandang oleh kaum durjana dan congkak. Sementara, orang yang bertaqwa lebih bersikap rendah hati dan bergaul dengan keakraban. Sebab rendah hati akan memperkokoh persahabatan dan mendatangkan keakraban dan kasih sayang. Dalam sebuah hadis, Nabi Saw bersabda, "Sebaik-baik mukmin adalah orang yang mendatangkan keakraban di antara kaum mukminin. Dan tak ada kebaikan pada orang yang tidak membuat orang lain akrab dengannya dan tidak mengakrabkan diri dengan orang lain." (Bihar al-Anwar juz: 77 hal: 149)

Adab persahabatan yang lain adalah kepedulian untuk memberikan kritik membangun. Imam Sadiq (as) berkata, "Saudara seagama yang aku cintai adalah orang yang memberitahuku akan aibku." (Ushul al-Kafi juz: 2 hal: 610) dalam hadis yang lain, Nabi Saw bersabda, "Mukmin adalah cermin bagi mukmin yang lain." (Safinah al-Bihar juz: 1 hal: 40). Hadis tadi menjelaskan satu hal tentang keterbukaan hati untuk menerima kritik. Ibarat cermin, sahabat akan menunjukkan kekurangan dan kelemahan sahabatnya untuk diperbaiki yang tentunya hal itu dilakukan dengan cinta dan ketulusan. Sahabat yang baik menunjukkan kekurangan sahabatnya apa adanya. Sahabat yang baik dan bijak juga akan menunjukkan kepada sahabatnya akan kelebihan yang ada padanya. Orang yang bijak tentu akan senang jika mengetahui aib dan kekurangan dirinya untuk bisa memperbaikinya.

Adab lain dalam persahabatan adalah meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan pihak yang diminta maaf harus memaafkannya. Salah satu kriteria orang yang memiliki jiwa yang sehat adalah kesiapan dirinya untuk meminta maaf ketika melakukan kesalahan dan siap memaafkan orang lain yang melakukan kesalahan terhadapnya. Orang yang tidak mau mengakui kesalahan sebenarnya ia lari dari kenyataan. Orang yang lari dari kenyataan tak akan pernah bisa meniti jalan kesempurnaan insani. Sebab, langkah awal untuk memperbaiki diri adalah mengakui kesalahan. Salah satu hal yang membuat orang sukar mengakui kesalahan adalah kesombongan dan takabbur. Orang yang demikian tak mau memandang dirinya bersalah lalu meminta maaf kepada orang lain.

Islam mengajarkan kepada kita untuk meminta maaf saat bersalah dan memaafkan kesalahan orang lain. Imam Ali (as) berkata, "Salah satu sifat yang paling mulia adalah memaafkan kesalahan orang lain." (Syarah Ghurarul Hikam juz: 6 hal: 18) Dalam riwayat yang lain beliau berkata, "Orang yang paling buruk adalah yang tak mau memaafkan kesalahan orang." (Syarah Ghurarul Hikam juz: 6 hal: 165)

Orang yang meminta maaf adalah orang yang, pertama, mengakui kesalahan. Lalu dengan menghilangkan kesombongan diri dia mau meminta maaf kepada sahabatnya. Perbuatan ini jelas layak dipuji dan penghargaan terbaik untuknya adalah memberinya maaf dengan tangan terbuka. Imam Ali (as) berkata, "Orang yang paling banyak memaafkan berarti dia memiliki makrifat yang besar kepada Allah." (Syarah Ghurarul Hikam juz: 2 hal: 444) (IRIB)

Kamis, 04 Oktober 2012

Kawan Yang Baik Menurut Islam (Bagian pertama)

Kawan Yang Baik Menurut Islam (Bagian pertama) 

Salah satu nikmat Ilahi yang Allah berikan kepada manusia adalah rasa sosial dan kebutuhan untuk bergaul dengan orang lain dan menjalin hubungan persahabatan dengan anggota masyarakat. Orang yang memiliki teman yang baik dan memanfaatkan hubungan itu dengan benar dan logis akan memiliki kehidupan individu dan sosial yang lebih baik. Anda tentunya memiliki kawan untuk berbicara, berbagi perasaan, saling menasehati dan saling membantu di kala susah. Sebagian orang punya kelebihan yang bisa menjalin hubungan persahabatan dengan banyak kawan sementara sebagian yang lain hanya puas dengan memiliki beberapa orang teman yang jumlahnya tak lebih dari hitungan jari. Tentunya, di antara kawan yang kita miliki adalah yang punya hubungan sangat dekat dan siap membantu dengan tulus saat kita mendapat kesusahan dan masalah.

Islam memandang persahabatan sebagai nilai yang agung dan menentukan dalam nasib dan kehidupan seseorang. Karena itu, baik Nabi Saw maupun para Imam Maksum Ahlul Bait dalam banyak kesempatan menekankan untuk memilih sahabat dan kawan dengan benar. Misalnya dalam hadis Nabi disebutkan bahwa beliau bersabda, "Manusia beragama seperti sahabatnya. Karena itu, hendaknya dia teliti dengan siapa dia menjalin persahabatan." Hadis ini menerangkan sejauh mana pengaruh seorang kawan sehingga bisa mempengaruhi keberagamaan sahabatnya. Dalam hadis disebutkan, "Sahabat yang baik lebih baik dari kesendirian dan kesendirian lebih baik dari sahabat yang buruk."

Islam menekankan kepada kita untuk teliti dalam memilih kawan dan sahabat. Oleh karena itu, kecintaan kepada seseorang tidak lantas meniscayakan jalinan persahabatan. Sebab, untuk bersahabat kita harus melihat dengan teliti darimana munculnya kecintaan itu dan apakah orang tersebut layak untuk dijadikan sahabat. Imam Ali bin Abi Thalib (as) berkata, "Orang yang menjalin persahabatan setelah teliti dalam memilih sahabat, maka persahabatannya akan langgeng dan kokoh." Dari hadis tadi dapat difahami bahwa persahabatan yang dijalin tanpa dasar pemikiran yang benar akan berakhir buruk .

Kini yang menjadi pertanyaan, menurut Islam kriteria apakah yang mesti dimiliki sahabat yang baik? Menurut Islam, salah satu kriteria terpenting adalah kematangan orang dalam bernalar dan mengambil sikap yang logis dalam semua hal. Sahabat yang seperti ini adalah penasehat yang bisa dipercaya yang mencegah sahabatnya dari kesalahan. Banyak riwayat dan hadis yang menekankan untuk memilih sahabat yang bijak dan berakal. Diantaranya adalah hadis dari Imam Ali (as). Beliau berkata, "Bersahabat dengan orang yang arif dan bijak akan menghidupkan jiwa dan ruh." Hadis ini mengisyaratkan bahwa orang yang berakal adalah orang yang pandai bersikap. Orang yang demikian jelas akan mencegah sahabatnya dari perbuatan yang salah. Sementara, orang yang dungu dan bodoh justeru akan membuat malu orang lain karena perkataan, sikap dan perbuatannya.

Kriteria lain adalah akhlak dan budi pekerti yang baik. Menurut ajaran Islam, sahabat yang baik mesti memiliki akhlak yang baik dan jiwa yang bersih. Sebab, orang yang berperangai buruk akan mudah melakukan kejahatan, keburukan dan kesalahan. Dalam al-Qur'an al-Karim, Allah Swt mengingatkan kita untuk tidak memilih kawan yang jahat, buruk, dan pendosa. Ayat 28 dan 29 surat al-Furqan menjelaskan kisah kawan yang buruk di hari kiamat kelak. Disebutkan di ayat itu bahwa seseorang yang berada di neraka menyesali karena salah memilih sahabat dan mengatakan, "Andai saja aku tidak menjadikan si Polan itu sahabatku. Dia telah mencegahku dari mengikuti kebenaran yang sebenarnya telah sampai kepadaku."

Para pakar psikologi telah melakukan berbagai penelitian luas mengenai persahabatan. Mereka meyakini bahwa kawan dan sahabat di masa muda punya pengaruh besar dibanding sahabat yang dimiliki orang pada periode usia yang lain. sebab sahabat di masa muda punya peran besar dalam membentuk pemikiran dan agenda hidup seseorang. Para psikolog berpendapat bahwa secara kejiwaan, anak muda sangat mudah dipengaruhi dan salah satu yang punya pengaruh besar terhadapnya adalah sahabat. Islam mengenal dengan baik kriteria masa muda ini sehingga menekankan kepada pengikutnya untuk berhati-hati dan teliti dalam memilih kawan.

Mengenai persahabatan dengan orang yang tidak baik, Imam Ali (as) berkata, "Bersahabat dengan orang yang durjana akan mengakibatkan kesengsaraan tak ubahnya seperti angin yang menyapu bangkai dan menyebarkan bau busuk bersamanya." Riwayat ini mengingatkan kita akan bahaya dan kerugian yang ditimbulkan oleh persahabatan dengan orang-orang jahat. Orang mungkin akan menjaga diri untuk tidak terpengaruh dengan perbuatan buruk mereka. Tetapi dia tetap tak bisa melepas diri dari imbas persahabatan ini yang hanya menghadiahkan cela baginya di tengah masyarakat. Mungkin orang akan mengatakan bahwa dia bisa menjaga diri meski berkawan dengan orang-orang jahat dan pendosa. Tapi satu hal yang perlu diingat adalah bahwa manusia bukanlah batu atau kayu mati yang sama sekali tidak tepengaruh oleh perbuatan, perkataan dan sifat orang lain yang ada di sekitarnya. Semua itu akan berpengaruh pada diri kita tanpa kita sadari.

Kriteria lain dari sahabat yang baik menurut Islam adalah orang yang setia dengan tali persahabatan. Imam Sadiq (as) dalam sebuah riwayat menjelaskan hal itu dalam sebuah ungkapan indah. Beliau berkata, "Berkawan ada batasnya. Siapa saja yang menjaga batasan itu berarti dia adalah sahabat yang benar. Jika tidak, jangan bersahabat dengannya." Beliau lalu menjelaskan batas-batas persahabatan dan berkata, "Batasan-batasan persahabatan adalah; Pertama, dia mesti bersikap sama baik didepanmu maupun dibelakangmu (Yakni menjaga kejujuran dan persahabatan). Kedua, menganggap kebaikanmu sebagai kebaikannya dan celamu sebagai celanya. Ketiga, tidak mengubah perilaku ketika dia mendapat kedudukan atau harta. Keempat, jika memiliki harta, dia tak akan pernah segan membantumu. Kelima, tidak membiarkanmu seorang diri kala engkau ditimpa masalah dan kesulitan."

Kriteria berikutnya dari seorang sahabat yang baik adalah kesesuaiannya dengan kita. Sahabat yang baik adalah orang yang sederajat dengan kita dalam hal materi, kedudukan sosial, dan pemikiran. Imam Muhammad Baqir (as) berkata, "Bersahabatlah dengan orang yang sederajat denganmu. Jangan engkau bersahabat dengan orang yang menjaminmu sebab hal itu akan mengakibatkan kehinaan dan kerendahan bagimu." Hadis ini mengingatkan kita akan harga diri manusia. Mungkin orang akan senang bersahabat dengan orang yang lebih kaya yang bisa membantunya secara finansial. Tapi sebenarnya persahabatan ini hanya akan membuatnya hina dan rendah di mata sahabatnya yang kaya.

Kriteria lain dari sahabat yang baik adalah kesabaran. Imam Ali (as) berkata, "Bersahabatlah dengan orang yang penyabar, dengan begitu engkau bisa belajar meningkatkan kesabaranmu." Hadis ini menjelaskan pengaruh sahabat yang penyabar. Orang yang penyabar akan mudah merendahkan hati ketika muncul masalah dalam persahabatan. Dia akan mudah memaafkan kesalahan sahabatnya. Perselisihan yang mungkin muncul antara dia dengan kawannya tidak akan mudah merusak persahabatan. Tapi bagaimanakah kriteria orang yang penyabar? Imam Sadiq (as) menjelaskan, "Orang yang marah kepadamu sampai tiga kali tapi tak pernah mengucapkan kata-kata buruk terhadapmu, maka ia layak engkau jadikan sahabat."

Sampai disini kita sudah membicarakan beberapa kriteria sahabat yang baik menurut ajaran Islam. Ada baiknya kita juga mengenal kriteria-kriteria orang yang tidak layak dijadikan kawan. Ada banyak riwayat yang menjelaskan hal ini. Salah satu riwayat yang terbaik dalam hal ini adalah hadis Imam Sajjad (as). Beliau berkata, "Anakku, cermatilah lima kelompok manusia yang tidak layak bagimu untuk bersahabat dengan mereka, berbicara dengan mereka dan berjalan bersama mereka. Hindari persahabatan dengan orang pendusta. Sebab dia ibarat fatamorgana yang menampakkan hal yang dekat seakan jauh dan hal yang jauh seakan dekat. Jangan kau berkawan dengan orang pendosa sebab dia siap menjualmu dengan imbalan sesuap makanan atau lebih sedikit dari itu. Jangan berkawan dengan orang yang kikir, sebab dia akan meninggalkanmu ketika engkau memerlukannya. Jauhi persahabatan dengan orang yang bodoh sebab dia akan merugikan dirimu ketika berniat melakukan kebaikan untukmu. Jauhilah pula orang yang memutuskan tali kekerabatan sebab aku dapatkan al-Quran telah mengutuknya. (IRIB)

Rabu, 03 Oktober 2012

Istiqamah dan Dampaknya Dalam Pandangan Al-Quran

Istiqamah dan Dampaknya Dalam Pandangan Al-Quran 

Keberhasilan dalam sebuah pekerjaan bergantung pada istiqamah dan komitmen. Sebaliknya, tanpa istiqamah sangat sulit untuk meraih keberhasilan dan kemenangan. Betapa banyak ilmuwan yang begitu serius dan istiqamah dalam menyingkap sebuah rahasia alam, akhirnya sampai pada tingkat keilmuwan yang tinggi. Begitu juga banyak orang besar yang membersihkan dirinya dengan penuh kesabaran akhirnya mampu menggantikan karakter kesehariannya dengan sifat-sifat terpuji. Pribadi-pribadi besar tetap kokoh dan tegar menghadapi segala bentuk keinginan hawa nafsu yang menyesatkan.

Upaya memperbaiki kondisi masyarakat termasuk perbuatan yang membutuhkan istiqamah dan ketegaran. Siapa saja yang berniat memperbaiki masyarakat dan berusaha menuntunnya ke jalur kebahagiaan, maka ia harus mempersiapkan dirinya menghadapi segala rintangan, permusuhan dan gangguan. Ia harus siap menanggung segala masalah yang ada hingga sampai pada kemenangan puncak. Allah Swt dalam banyak ayat al-Quran mengajak manusia agar senantiasa beristiqamah di jalan kebenaran.

Ulama Islam memperkenalkan istiqamah sebagai buah dari pohon keimanan, sama seperti perbuatan baik. Mereka meyakini iman yang mendalam bakal mengajak manusia untuk beristiqamah dalam agama dan menentang ajakan setan. Derajat istiqamah yang paling tinggi dalam pandangan al-Quran adalah beristiqamah di jalan Allah, menjaga iman dan menyebarkan nilai-nilai relijius. Bila manusia mampu meninggalkan perbuatan dosa dan berjuang menghadapi bisikan setan, maka sudah barang tentu ia akan meraih derajat kemanusiaan yang tinggi dan kedekatan yang lebih kepada Allah. Al-Quran memuji usaha semacam ini dan memberikan penilaian yang tinggi. Sebaliknya, usaha keras dan tegar di jalan kebatilan bakal membuat manusia celaka dan sesat.

Sebagai contoh, al-Quran mengutip pembicaraan orang-orang Kafir yang berbicara satu sama lainnya. Masing-masing dari mereka begitu bangga dengan sikap keras kepalanya mempertahankan keyakinannya yang batil. Mereka tetap tidak mau menerima risalah dan ajaran Rasulullah Saw. Kepada satu sama lain mereka berkata, "Apakah pribadi ini yang dipilih oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya? Bila kita tidak mempertahankan tuhan-tuhan dan berhala kami, hampir saja kita dipengaruhi oleh ucapan orang ini (Muhammad) dan kita tidak lagi menyembah tuhan-tuhan kita."

Dalam sejarah Islam banyak diceritakan kisah dan contoh tentang istiqamah yang bisa menjadi pelajaran bagi seluruh umat manusia. Kisah mengenai kehidupan keluarga Yasir yang hidup di masa Rasulullah Saw. Mereka merupakan keluarga kecil dan lemah, tapi telah memeluk agama Islam. Warga Mekah melakukan penyiksaan yang beragam kepada mereka. Tapi keimanan yang dalam serta keteguhan mereka dalam menghadapi segala siksaan mampu memberikan pelajaran istiqamah yang paling manis kepada manusia dalam sejarah panjang kehidupan manusia.

Keluarga Yasir terdiri dari empat orang; Yasir, Sumayyah dan dua orang anak bernama Ammar dan Abdullah. Yasir adalah kepala keluarga yang tetap mempertahankan keislamannya di bawah cambukan dan siksaan musuh Islam. Begitu tabah dan tegarnya Yasir mempertahankan keimanannya hingga akhirnya syahadah menjemputnya. Sumayyah isteri Yasir yang usianya telah lanjut mempertunjukkan ketegaran dan ketabahannya di hadapan musuh. Namun pada akhirnya pukulan telak Abu Jahal (laknat Allah kepadanya) ke arah perut Sumayyah menjadi siksaan terakhir baginya hingga akhirnya ia menjemput syahadah.

Abdullah, anak Yasir tidak berbeda dengan keadaan ayah dan ibunya. Di bawah siksaan yang pedih, ia tetap tegar dan menunjukkan keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Ammar juga tidak aman dari siksaan dari orang-orang Kafir Mekah. Suatu hari ini dibawa ke padang pasir yang sangat panas. Mereka melepaskan seluruh pakaiannya dan memakaikannya pakaian dari besi. Panas matahari ditambah dengan pakaian besi yang dikenakan kepadanya membuat kulit Ammar terkelupas akibat panas luar biasa yang menderanya. Kepadanya mereka berkata, "Ucapkan bahwa engkau tidak mengikuti Muhammad dan hanya akan menyembah arca Latta dan Uzza."

Ammar tidak menyerah. Ia tetap bersikeras mempertahankan agamanya. Tapi bekas kulitnya yang terbakar tampak seperti orang yang terkena penyakit belang. Bekas terbakar ini masih tampak di wajah, lengan dan badan Ammar. Sekaitan dengan keluarga Yasir, Rasulullah Saw bersabda, "Wahai keluarga Yasir, tetaplah bersikap tegar. Bersabarlah, karena sudah pasti balasan bagi kalian adalah surga."

Benar, mereka yang telah mempersenjatai dirinya dengan istiqamah akan mudah untuk melawan segala masalah. Kepada manusia al-Quran memberikan nasihat agar meminta bantuan sabar dan shalat bila menghadapi kesulitan dalam hidup. Dalam ayat ke 153 surat al-Baqarah Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."

Ayat ini dengan indahnya menghubungkan kesabaran, ketegaran dengan nilai-nilai spiritual kepada Allah lewat shalat. Sejatinya ayat ini menjadi obat bagi seluruh masalah yang menimpa umat manusia. Kesabaran sangat bernilai tinggi dalam ajaran Islam, tapi istiqamah mempunyai derajat yang lebih tinggi dari sabar. Karena istiqamah berarti teguh dan tegar di jalan yang benar serta meninggalkan jalan yang salah. Kesabaran dan ketegaran mampu membuat masalah yang besar menjadi kecil, sekaligus membawa perhatian manusia kepada Allah pencipta alam semesta. Istiqamah mampu membangunkan potensi keimanan manusia. Pada saat itu, manusia baru sadar ketika tidak ada lagi tempat bernaung, ternyata ia memiliki tempat bersandar yang sangat kuat.

Satu dari metode al-Quran dalam menjelaskan nilai dan pentingnya kesabaran dan istiqamah adalah dengan jalan menceritakan kisah orang-orang besar dalam sejarah. Kisah yang diceritakan al-Quran akan menjadi teladan bagi orang-orang yang beriman. Dalam al-Quran Allah Swt menceritakan kisah Nabi Ayyub as yang dikenal akan kesabaran dan istiqamahnya. Dalam surat Shaad ayat 41 Allah Swt berfirman, "Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan." Tidak hanya satu ayat yang berbicara tentang masalah kesabaran dan istiqamah. Banyak ayat lain yang menceritakan kisah para nabi seperti Nabi Ya'qub, Yusuf, Ismail dan nabi-nabi yang bergelar Ulul Azmi.

Allah Swt dalam surat Ahqaaf ayat 35 kepada Rasulullah Saw berfirman, "Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka..." Berdasarkan fakta-fakta sejarah dan penjelasan para Imam as, Rasulullah Saw termasuk teladan bagi seluruh umat manusia terkait kesabaran dan istiqamah sama seperti keutamaan lainnya yang beliau miliki. Nabi Muhammad Saw saat mendakwahkan agama dan menuntun masyarakat senantiasa mendapat siksaan yang lebih ketimbang yang dialami oleh para nabi sebelumnya.

Istiqamah terkait agama sangat sulit dan membutuhkan kekuatan jiwa. Oleh karenanya ia membutuhkan keimanan dan semangat yang kuat. Tapi hasil dari istiqamah yang dilakukan terkait agama sangat manis dan indah. Tidak hanya itu saja, sebab sangat banyak berkah duniawi dan ukhrawinya. Al-Quran memberikan kabar gembira tentang adanya pahala yang besar bagi orang-orang yang teguh dalam agamanya. Ayat 13 dan 14 surat al-Ahqaaf mengingatkan hasil dari ketegaran orang-orang yang beristiqamah. Allah Swt berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan."

Dalam ayat lain disebutkan bahwa orang-orang yang beristiqamah akan mendapat pahala berupa hilangnya rasa takut dari dalam diri mereka. Tapi kabar gembira paling besar bagi orang-orang yang mengesakan Allah dan berbuat baik adalah surga buat mereka dan mereka kekal di sana. Yang tidak boleh dilupakan, balasan lain yang akan diberikan Allah kepada mereka yang beristiqamah di dunia adalah rezeki yang banyak. (IRIB)

Selasa, 02 Oktober 2012

Shalat, Jelmaan Ibadah yang Terindah

Shalat, Jelmaan Ibadah yang Terindah 

Filosofi dari penciptaan manusia adalah untuk penghambaan dan pengabdian kepada Allah, Tuhan pencipta alam. Itulah yang ditegaskan dalam al-Quran. Di Surah al-Dzariyat ayat 56 Allah Swt berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan manusia dan jin kecuali untuk menyembahKu."

Shalat adalah amalan ibadah yang paling tinggi nilainya. Shalat adalah bentuk munajat, doa dan penghambaan yang paling indah. Semua nabi dalam pesannya selalu menekankan kepada umat manusia untuk menegakkan shalat. Saat meninggalkan istri dan putranya yang masih bayi bernama Ismail di sebuah padang tandus yang tanpa tanaman, Nabi Ibrahim (as) mengatakan bahwa hal itu dilakukannya supaya mereka menunaikan shalat. Ketika masih berada di ayunan dan Allah mengizinkannya untuk berbicara, Nabi Isa (as) berkata, "(Tuhanku) berpesan kepadaku untuk menunaikan shalat dan zakat."

Nabi Muhammad Saw sebagai penutup silsilah para nabi menyebut shalat sebagai tiang agama. Dalam sebuah hadis, beliau dengan indah menjelaskan kesenangannya yang mendalam kepada shalat. Beliau bersabda, "Allah menjadikan shalat sebagai cahaya mataku dan membuatnya menjadi amalan yang sangat aku sukai seperti orang lapar dan dahaga menyukai makanan dan air. Orang lapar akan merasa kenyang setelah makan dan orang yang dahaga akan puas setelah meminum air sedangkan aku tak pernah merasa puas dengan shalat."

Sebagai negara Islam yang menerapkan sistem pemerintahan Islam, Republik Islam Iran menaruh perhatian yang besar kepada masalah shalat. Beberapa waktu lalu di Iran digelar Konferensi Nasional Shalat ke-19. Konferensi yang digelar setiap tahun ini ditujukan untuk mensosialisasikan shalat di tengah masyarakat dan menjelaskan peran shalat dalam meningkatkan derajat spiritual manusia. Konferensi kali ini mengangkat tema ‘Shalat, Masjid dan Keluarga'.

Keluarga sebagai institusi kecil masyarakat dan masjid sebagai tempat ibadah adalah dua pusat yang penting dalam membangun kesempurnaan individu dan masyarakat. Jelas bahwa jembatan yang memadukan dua pusat penting ini memegang peran yang sangat signifikan dalam membangun pendidikan agama dan kepribadian masyarakat. Salah satu hal yang diangkat dalam konferensi kali ini adalah metode yang benar dalam menarik hati para pemuda ke lingkungan agama termasuk masjid dan menjaga kesinambungan hubungan mereka dengan spiritualitas.

Shalat adalah bentuk munajat yang paling suci dan tulus di hadapan Allah, Tuhan Maha Asih yang telah menciptakan alam semesta ini, Tuhan Maha Mengetahui, Maha Kuat, dan Maha Pengatur. Jelas bahwa Tuhan yang Maha Sempurna, Maha Kuasa dan Maha Bijaksana tidak pernah memerlukan ibadah dari hamba-hambaNya. Justeru manusialah yang perlu beribadah dan tunduk serta khusyuk di hadapan Allah, menjalin hubungan denganNya dan memanfaatkan lautan anugerahNya yang tak terhingga. Dengan jiwa dan pemahaman seperti inilah seseorang berdiri di mihrab untuk melaksanakan shalat dan menyadari bahwa dia sedang berada di hadapan sumber kekuatan dan kasih sayang hakiki.

Kekhusyukan dalam menjalankan shalat akan mempererat hubungan hati manusia dengan Khaliqnya. Dengan begitu ia akan merasakan dekat dengan Allah dan dalam kehidupannya akan selalu waspada untuk tidak tergelincir dalam dosa yang membuat murka Allah. Buah dari itu adalah keterhindaran dari dosa. Itulah makna dari apa yang Allah firmankan dalam surat al-Ankabut ayat 45. "Sesungguhnya shalat mencegah dari perbuatan keji dan munkar."

Dalam kitab Nahjul Balaghah, khotbah ke-196, Imam Ali (as) menjelaskan berbagai dimensi pendidikan dari shalat. Beliau berkata, "Shalat memberikan ketenangan pada diri manusia, membuat matanya khusyuk dan tertunduk, menjinakkan jiwa pembangkang pada dirinya, dan menyingkirkan rasa sombong dan takabur."

Saat-saat ketika seseorang melepaskan diri dari hiruk pikuk kehidupan duniawi dan berdiri melaksanakan shalat, ibadah yang penuh kekhusyukan dan ketenangan, maka sebenarnya dia sedang melangkah di sebuah alam yang dipenuhi cahaya benderang yang tak ada tandingannya. Sebagian besar kesulitan yang dialami oleh ruh dan jiwa manusia akan teratasi saat berlindung di bawah naungan rahmat Ilahi. Dalam pandangan Islam, sumber kekuatan jiwa dan psikologis manusia adalah jalinan hati dan hubungan dengan Allah Swt. Sebaliknya, penyakit kejiwaan dan masalah etika yang melilit umat manusia karena jauh dari Allah dan melalaikan zikir kepadaNya.

Dalam perputaran sehari semalam manusia mungkin mengalami tekanan jiwa yang berujung pada serangan berbagai penyakit kejiwaan yang berbahaya. Karena itu, manusia harus selalu mencari pertolongan dari kekuatan yang tak berbatas dan sumber kehidupan. Dari sanalah ia bisa memperoleh kekuatan jiwa dan mental. Atas dasar itulah, di dalam al-Qur'an, Allah Swt memerintahkan manusia untuk meminta pertolongan dari kesabaran dan shalat kala ditimpa musibah dan kesulitan.

Sebagaimana yang tadi sudah kami singgung, beberapa waktu lalu di Iran digelar Konferensi Nasional Shalat ke-19 yang mengangkat tema masjid dan keluarga. Dalam konferensi tersebut, Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengirimkan pesan tertulis yang menyebutkan perbedaan utama antara masjid dan tempat ibadah agama yang lain. Dalam pesan tertulis itu beliau menyatakan:

"Membangun sebuah sentra bernama masjid, pertama-tama di Quba' lalu di Madinah adalah salah satu inovasi Islam yang paling indah dan cerdas di awal kelahiran masyarakat Islam. Masjid adalah rumah Allah dan rumah manusia; pusat zikir, mikraj spiritual, serta medan ilmu, jihad dan manajemen keduniaan; masjid adalah tempat ibadah dan markas politik. Kesemua itu adalah dua sisi saling berkaitan yang mengenalkan masjid dalam budaya Islam sebagai sentra yang berbeda dengan pusat-pusat ibadah agama lain. Di masjid, gelora dan kekhusyukan ibadah yang murni berbaur dengan gairah kehidupan yang bersih, cerdas dan sehat. Masjid mendekatkan individu dan masyarakat ke posisi idealnya dalam Islam. Masjid adalah manifestasi perpaduan antara dunia dan akhirat."

Rahbar menyinggung peran para ulama dan rohaniawan yang saleh, cerdas, pandai, dan peduli di masjid ibarat peran dokter dan perawat di rumah sakit. Dia menjadi spirit dan jiwa kehidupan bagi masjid. Ayatollah al-Udzma Khamenei menekankan pula peran imam jamaah di masjid-masjid dan kewajibannya untuk mempersiapkan diri menjalankan peran sebagai dokter spiritual bagi masyarakat. Dalam pesan tertulisnya, Pemimpin Besar Revolusi Islam memaparkan solusi yang tepat untuk memakmurkan masjid dengan menyatakan:

"Masjid harus menjadi tempat belajar ilmu tafsir dan hadis, mimbar bagi ilmu-ilmu sosial dan politik, serta pusat nasehat dan penempaan akhlak. Suara penuh kasih dari para pengelola masjid harus dapat menarik hati para pemuda yang masih suci. Kehadiran para pemuda dan semangat Basij harus bisa menghidupkan dan menggairahkan lingkungan masjid serta membangkitkan optimisme akan masa depan. Antara masjid dan pusat-pusat pendidikan di setiap tempat harus terjalin kerjasama dan hubungan yang jelas dan tepat.

Alangkah baiknya jika pelajar teladan di setiap tempat mendapat penghargaan dari tangan imam jamaah di dalam masjid dengan disaksikan oleh masyarakat setempat. Masjid harus bisa menjalin dan mempererat hubungan dengan para pemuda yang berniat membangun rumah tangga; dengan mereka yang mengukir prestasi di bidang keilmuan, sosial, seni dan olahraga; dengan mereka yang menaruh kepedulian kepada orang lain sebagai tekadnya yang tinggi; dengan orang-orang berduka yang mencari tempat berkeluh kesah; bahkan dengan anak-anak bayi yang baru lahir ke dunia. Di semua tempat, masjid harus menjadi tempat berlindung yang aman serta sumber kebaikan dan berkah."

Konferensi Nasional Shalat ke-19 mengangkat berbagai tema penting diantaranya manajemen agama dalam keluarga, partisipasi perempuan di masjid, serta peran media massa dalam mendorong keluarga untuk melaksanakan shalat dan berpartisipasi di masjid. Konferensi ini menghasilkan banyak makalah dan solusi ilmiah tentang hubungan shalat dan keluarga. (IRIB)

 

Senin, 01 Oktober 2012

Shalat, Ritual Samawi Terindah

Shalat, Ritual Samawi Terindah 

Setiap tahun, Komite Penegakan Shalat Republik Islam Iran menggelar sidang nasional bertemakan shalat. Seminar itu diselenggarakan sebagai upaya untuk mengungkap hakikat shalat dan menyebarkan budaya shalat di kalangan masyarakat.
Shalat merupakan ibadah yang membuka jalan kebenaran dan keselamatan bagi umat manusia. Allah swt menyebut shalat sebagai salah satu tanda orang beriman, sebagaimana yang dinyatakan Al-Quran dalam surat An-Nisa ayat 103: "...Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman".
Di mata para ahli agama, shalat memiliki tiga karakteristik utama yang berperan penting dalam membangun akhlak dan meningkatkan spiritualitas manusia. Pertama, shalat yang dilakukan dengan memperhatikan etika dan persyaratannya akan menjadikan manusia terhindar dari dosa dan maksiat. Kedua, shalat bisa menghidupkan kembali jiwa penghambaan dan ketaatan kepada Sang Khaliq. Dan Ketiga, shalat akan membuat kalbu seorang mukmin menjadi tenang dan damai, sehingga akan mudah mengantarkannya untuk memperoleh keberhasilan di pelbagai sendi kehidupan. Sebab, ketenangan hati dan jiwa merupakan kunci utama untuk memperoleh kesuksesan.
Sebagaimana kita ketahui bersama, kegundahan dan kebimbangan hati merupakan salah satu hambatan serius ketika manusia memilih jalan hidupnya. Shalat sebagai ritual keagamaan, memberikan rasa ketenangan jiwa kepada manusia. Sedemikian pentingnya peran shalat dalam praktek agama, sampai-sampai Rasulullah saw menyebut shalat sebagai tiang agama. Beliau bersabda: "Shalat bagaikan tiang kemah. Selama tiang itu tegak dan berdiri kokoh, tali, pasak, dan tenda kemah pun akan berdiri kokoh. Namun jika tiang itu patah, maka tidak pasak, tidak juga tali dan tenda bakal berguna".
Pekan lalu, Komite Penegakan Shalat Republik Islam Iran menggelar Seminar nasional shalat ke-17 di kota suci Qom. Dalam seminar kali ini, ketertarikan generasi muda kepada agama dan meningkatnya spiritualitas di kalangan mereka mendorong para penggiat kebudayaan Islam berupaya mengaitkan semangat keagamaan kaum muda dengan masjid sebagai basis aktifitas keislaman.
Generasi muda dikenal memiliki semangat yang membara, idealis, dan optimis dalam memandang hidup. Karena itu, iklim spiritual yang terdapat di masjid, bisa berpengaruh positif terhadap mereka. Karena itu, tema utama yang dipilih dalam Seminar Nasional Shalat tahun ini adalah "Masjid, Pemuda, dan Shalat". Seminar ini digelar untuk mencari pendekatan dan solusi yang tepat untuk menjawab tuntutan generasi muda yang kritis dan haus akan spritualitas Islam.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei menyatakan, "Kalbu dan jiwa suci pemuda, merupakan lokus yang siap menerima tebaran hangat dan kebenderangan shalat sebagai pancaran cahaya dan kehadiran ilahi. Sehingga jalan suluk dan pencapaian spiritual dapat terungkapkan di tengah kesesatan yang ada. Memperkenalkan pemuda pada keceriaan yang terpancar dalam shalat dan zikir merupakan pelayanan besar terhadap mereka dan masa depan yang mesti dibangun dan diserahkan kepada kemampuan dan tekad muda mereka. Pesan saya adalah jadikanlah masjid seperti kalbu para pemuda yang suci, bersih, dan penuh dengan suka cita dan keceriaan. Masjid juga harus menjadi tempat cahaya shalat terpancar dan menyebarkan cahaya makrifat, cinta, kasih-sayang, dan keceriaan".
Rasulullah saw dalam hadisnya mengenai gambaran orang-orang yang selamat bersabda: "Allah swt di hari kiamat nanti memberikan rahmatnya kepada beberapa golongan. Pertama, golongan para pemimpin yang adil, dan golongan lainnya adalah para pemuda yang tumbuh dewasa dengan beribadah kepada Allah swt".
Para pakar psikologi berkeyakinan, perasaan religi sejatinya disertai dengan sebentuk rasa tenang dan kenikmatan batin. Banyak pemuda yang menyukai rasa spiritual semacam itu. Setiap pemuda yang tumbuh dan dididik di tengah lingkungan yang sehat dan bersih serta jauh dari noda dosa, akan membuat perasaan religinya mampu melapangkan jiwa dan mentalnya". Carl Rogers, psikolog AS menyatakan, "Pemuda menginginkan lingkungan yang tenang dan bercahaya, sehingga ketika memasukinya ia mampu menundukkan pengulangan kehidupan materialis".
Dalam Seminar Nasional Shalat ke-17 di Qom, para peserta kembali menekankan pentingnya ajaran agama seperti shalat sebagai pemenuh kebutuhan dan perasaan religi para pemuda, sekaligus sebagai penyeimbang instingnya yang lain. Jika shalat dikerjakan dengan penuh kekhusyukan dan kesungguhan, maka hati dan jiwa sang pelaku dan lingkungan di sekitarnya. Cahaya shalat akan menerangi, rumah, keluarga, lingkungan kerja, dan ruang hidup. Karena itu semakin banyak orang yang melakukan shalat dengan benar, maka lingkungan masyarakat di sekitarnya pun akan lebih tentram dan terlindung dari beragam gangguan sosial. Ibarat kata Imam Ali as, "Dengan shalat, zakat, dan puasa yang sulit, Allah swt menyucikan orang-orang mukmin dari rasa angkuh dan kesombongan, memberinya ketenangan jiwa, mendidiknya dengan rendah hati dan menjauhkannya dari sikap memuji diri.
Banyak kalangan yang menegaskan bahwa akar kegagalan manusia lantaran mereka lalai terhadap perintah dan larangan Allah swt dan tunduk terhadap keinginan hawa nafsu. Shalat akan membebaskan manusia dari kegelapan dan kesulitan hidup materialis serta akan mengaktualisasikan potensi dirinya menuju kebaikan dan keutamaan. Karena itu, di semua agama ilahi, pelaksanaan shalat merupakan ritual agama yang paling pokok dan tanda iman yang paling nyata.
Ayatollah Reza Ostadi, guru besar sekolah tinggi teologi Qom, dalam pidatonya di Seminar Nasional Shalat ke-17 menyatakan, "Dalam agama Islam, segala hal yang yang berpengaruh positif terhadap perkembangan dan penyempurnaan manusia dan masyarakat, selalu mendapat perhatian yang lebih. Oleh karena tidak ada keutamaan yang lebih mulia ketimbang mendirikan shalat setelah makrifat ilahi, maka peran keluarga dan masyarakat dalam mendorong para pemuda untuk melaksanakan shalat merupakan hal yang sangat mendasar dan penting".
Di mata para pakar agama, shalat merupakan pengantar mendasar untuk melakukan perjalanan spiritual. Karena shalat memiliki faedah dan potensi yang sangat besar untuk membantu manusia dalam menghadapi pelbagai tantangan hidup. Dengan memperkenalkan hakikat shalat serta filosofi dan etika dari ibadah mulia itu, maka masyarakat, khususnya para pemuda pun bakal lebih tertarik untuk mengenal dan melakukan shalat secara benar. Tentu saja, makrifat mengenai shalat bakal tercapai, jika shalat dilakukan secara benar dan diiringi dengan penghayatan terhadap makna yang terkandung dalam bacaan dan gerakan shalat.
Sejatinya, ibadah seperti shalat merupakan pengantar menuju kebahagiaan sejati. Penulis asal AS, Dale Carnegie menandaskan, "Jika saya tak mampu mengungkap filosofi dan rahasia ibadah, tak ada alasan bagi saya untuk tidak memperoleh kehidupan bahagia yang dikaruniakan ibadah untuk manusia". Dengan demikian, shalat mesti dijalani dengan sepenuh hati dan kenikmatan spiritual yang dihasilkannya harus kita manfaatkan semaksimal mungkin. (IRIB)

 

Minggu, 30 September 2012

Pengaruh Agama Pada Jiwa dan Psikologis Manusia (Bagian pertama)

Pengaruh Agama Pada Jiwa dan Psikologis Manusia (Bagian pertama)

Dewasa ini, pembahasan mengenai agama dan pengaruh-pengaruhnya yang signifikan terhadap berbagai sisi kehidupan, merupakan sebuah topik yang banyak dibicarakan. Meskipun terdapat berbagai gambaran dan deskripsi mengenai agama, kehadiran agama dalam berbagai bidang, seperti politik, sosial, dan kemasyarakatan semakin hari semakin meluas, sehingga agama menjadi pusat perhatian banyak pihak.

Hingga kini, para ahli psikologi dan kejiwaan telah melakukan berbagai usaha di bidang, pengobatan penyakit-penyakit jiwa dan psikologis. Meskipun telah dilakukan berbagai metode medis yang mampu mencegah munculnya berbagai penyakit kejiwaan tersebut. Sebagian penelitian menunjukkan bahwa rata-rata orang-orang yang telah menjalani terapi pengobatan kejiwaan masih belum mencapai tingkat kesembuhan yang memuaskan. Sekelompok peneliti juga berusaha mencari jalan agar berbagai penyimpangan perilaku akibat penyakit kejiwaan tidak meluas dalam masyarakat, namun hingga kini mereka masih belum berhasil menemukan jalan tersebut.

Dalam satu atau dua dekade terakhir, muncul kecenderungan baru di kalangan para psikolog dalam usaha untuk menyembuhkan penyakit-penyakit kejiwaan. Kecenderungan baru ini merupakan hasil dari perhatian mereka yang lebih besar terhadap penggunaan agama dalam penyembuhan berbagai penyakit kejiwaan. Dari hasil penelitian yang mereka lakukan, mereka menemukan bahwa iman kepada Tuhan akan menumbuhkan semacam kekuatan spiritual kepada manusia dalam menerima beratnya beban kehidupan.

Kecenderungan kepada materialisme dan kehidupan serba mesin telah menimbulkan tekanan pada jiwa manusia. Itulah sebabnya, manusia dalam kondisi seperti itu akan berada dalam tekanan mental dan depresi, yang lama-kelamaan akan berkembang menjadi penyakit kejiwaan yang serius. William James, seorang filsuf dan ahli kejiwaan AS adalah orang pertama di dunia psikologi medis yang mengemukakan pentingnya pemanfaatan agama dalam terapi psikologi.

James berpendapat, "Iman, adalah obat yang paling mujarab dalam menyembuhkan depresi." Selanjutnya James mengatakan, "Di antara kita dan Tuhan terdapat sebuah hubungan yang tidak terputus. Jika kita meletakkan diri di bawah naungan kekuasaan Tuhan dan berserah diri kepada-Nya. Semua harapan dan angan-angan kita akan terwujud. Pada saat yang sama, gelombang kesulitan hidup dan tekanan kehidupan tidak akan mampu menggoyahkan ketenangan dan kestabilan jiwa manusia yang memiliki iman kepada Tuhan." William James juga menekankan bahwa manusia yang beragama akan mampu menjaga keseimbangan jiwanya dan selalu siap menghadapi berbagai tantangan hidup.

Henry Link, seorang psikolog AS dalam sebuah bukunya yang berjudul "Kembali kepada Iman" menulis, "Setelah melakukan penelitian panjang terhadap kondisi psikologis para buruh, saya menyimpulkan bahwa orang-orang yang beragama dan orang-orang yang rajin mendatangi rumah-rumah ibadah, memiliki kepribadian yang lebih kuat. Mereka lebih baik daripada orang-orang yang tidak beragama atau orang-orang yang tidak rajin mendatangi rumah peribadatan."

Psikolog lain bernama Katre menyakini bahwa agama dan ketenangan jiwa memiliki kaitan yang sangat erat. Karena, agama mampu memberi pengaruh pada perasaan kepemilikan dan keterikatan yang dimiliki manusia, sehingga manusia mampu mengontrol kehidupannya sendiri. Dengan melakukan berbagai aktivitas keagamaan, seperti datang ke rumah ibadah. Manusia juga akan membuka lingkungan sosialnya sehingga kepribadiannya pun akan semakin berkembang. Selain itu, aturan-aturan agama juga akan memberi pengaruh pada perilaku manusia dan memberikan keselamatan jasmani, ruhani, dan keseimbangan jiwa.

Dewasa ini terungkap fakta bahwa aktivitas keagamaan memberikan nilai positif dalam menunjukkan arah kehidupan seorang manusia. Sikap-sikap keagamaan seperti ibadah dan tawakal, akan memunculkan harapan dan pandangan positif terhadap kehidupan, serta memberikan ketenangan kepada jiwa manusia. Kepercayaan bahwa Tuhan itu ada dan segala aspek kehidupan manusia berada di bawah kekuasaan Tuhan, akan mengurangi rasa tertekan atau depresi dalam jiwa manusia. Secara umum, manusia yang beriman akan memiliki hubungan erat dengan Tuhannya, sebagaimana eratnya hubungan manusia dengan sahabatnya.

Manusia yang beriman menyakini bahwa dengan berserah diri dan bersandar kepada Tuhan, dia akan mampu menghadapi berbagai kondisi kehidupan yang datang tak terduga. Orang yang tawakal kepada Tuhan, selain menggunakan berbagai sarana untuk mencapai tujuannya, juga mempercayai bahwa pertolongan Allah adalah faktor penting dalam tercapainya sebuah tujuan. Tawakal kepada Tuhan akan memberikan kepercayaan diri kepada manusia dan menumbuhkan keberanian untuk mengambil keputusan. Manusia-manusia besar dan pembuat sejarah seperti Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa, dan Nabi Muhammad saaw, adalah teladan bagi manusia dalam masalah ketawakalan kepada Tuhan.

Bila kita menengok ke dalam ajaran agama Islam, kita akan menjumpai sebuah metode penyehatan jiwa, yaitu muhasabah atau instospeksi diri. Islam menganjurkan umatnya agar setiap hari, menjelang tidur, mereka melakukan instrospeksi atau menilai sendiri segala perilaku dan perbuatan yang dilakukannya sepanjang hari. Introspeksi diri akan membantu manusia menemukan titik kelemahan atau kekurangan dalam dirinya, serta menemukan titik kelebihan yang dimilikinya. Manusia yang mengetahui dengan benar letak keburukan yang dimilikinya, akan mudah menemukan jalan untuk menghilangkan keburukan itu.

Sebagaimana kita ketahui, sifat-sifat hasud, iri, cepat marah, atau terlalu banyak berangan-angan adalah sifat-sifat yang buruk dan merupakan sumber dari berbagai tekanan jiwa. Betapa banyak manusia yang menderita stress, depresi, atau penyakit kejiwaan lain sebagai akibat dari rasa iri dan hasudnya kepada orang lain. Bila seorang manusia berhasil mendeteksi adanya sifat-sifat buruk ini dalam dirinya, ia dapat mengobati penyakit kejiwaan yang menimpanya dengan cara menghilangkan sifat-sifat buruk ini.

Selain itu, agama Islam juga memberikan ajaran yang akan mencegah manusia tertimpa berbagai penyakit kejiwaan. Al-Quran dalam surat Al An'am ayat 82 mengatakan: "Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk." Artinya, untuk melindungi diri agar tidak tertimpa penyakit kejiwaan seperti stress, depresi, atau bahkan penyimpangan perilaku, manusia harus tetap teguh memegang iman dan tidak melakukan berbagai perbuatan yang dilarang oleh agama. (IRIB)