Tampilkan postingan dengan label Hidayah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hidayah. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Oktober 2012

Abdul Rahman dari Amerika

 Abdul Rahman dari Amerika

Selangkah dari saya, dua langkah dari Tuhan
Abdul Rahman adalah seorang anak muda Amerika yang memeluk agama Islam dalam usia yang sangat muda.
Ia tertarik pada Islam dan memeluk agama suci ini selepas membaca biografi Malcolm X.

Tahun-tahun permulaan

Saya lahir dalam keluarga Kristen, tetapi kami tidak pernah mengamalkannya. Kami hanya ke gereja beberapa kali dalam setahun untuk menghadiri acara krismas/natal, easter dan cuti. Tuhan hanya wujud pada hari Minggu di gereja untuk keluarga saya, bukan di luar gereja. Beginilah kondisi mayoritas keluarga Amerika dewasa ini.

Saya seorang pemikir yang logis. Ketika saya berusia 11 atau 12 tahun, saya sudah muda berfikir tentang diri saya. Saya bertanya sendiri, adakah Tuhan itu wujud? Pertanyaan ini muncul mungkin karena timbulnya pertentangan antara sains dan agama atau antara rasionalitas dan agama di Amerika; saya fikir perkara ini bertolak belakang pada gereja Kristen di Eropa. Ada saja isu-isu yang timbul di gereja berkaitan pertentangan gereja katolik dengan sains dan kemajuan.

Ketika saya membandingkan apa yang saya lihat dalam Injil, dan apa yang saya tahu tentang trinitas serta kepercayaan-kepercayaan lain dalam Kristen, dan dengan sains dan evolusi serta bukti, saya akan condong pada sains dan saya memilih untuk tidak percaya pada Tuhan.

Pertama kali berkenalan dengan Islam ialah ketika teman saya Michael Dan, seorang teman di sekolah tinggi yang juga tetangga saya yang kemudian memeluk agama Islam. Ketika Michael memeluk Islam, banyak perubahan yang kusaksikan pada dirinya. Sebelum Islam, ia sering melakukan perbuatan yang menyebabkan kehidupannya ambaradul. Ketika itu ia benar-benar berada di jalan yang salah.

Ia menjadi seorang muslim pada usia 15 tahun. Ketika itulah ia meninggalkan banyak sekali perbuatan-perbuatan keji dan mengamalkan perbuatan baik. Saya bertanya apakah yang menyebabkan ia berubah dan menjadi seperti itu??

Ia menjelaskan bahwa kini ia adalah seorang muslim. Perkara ini berlaku sebelum peristiwa 11 september. Orang di Amerika tidak begitu tahu tentang Islam. Malah hingga sekarangpun mereka belum tahu banyak tentang Islam.

Menemukan Islam
Saya bertanya kepadanya apa itu Islam? Siapakah muslim?

Ia menjelaskan Islam kepada saya dan saya begitu terkejut karena Islam amat dekat sekali dengan Kristen dan Judaisme. Dan agama ini begitu logis sekali. Karena hanya ada Tuhan yang Esa yang menurunkan wahyu kepada para nabi dan utusan-Nya. Mereka semua adalah manusia biasa seperti kita yang diutus oleh Tuhan untuk manusia. Pada ketika itu saya belum punya keinginan menjadi muslim, tetapi semuanya kelihatan begitu logis sekali.

Tidak lama kemudian saya membaca buku "The Autobiography of Malcolm X". Dalam buku itu, saya benar-benar mengapresiasi penjelasan Malcolm X tentang muslim. Saya ingin menjadi muslim karena saya dapati bahwa Islam merupakan satu-satunya solusi untuk mengatasi rasisme dan banyak masalah lain yang wujud di Amerika. Sayangnya saya tidak mempercayai Tuhan.

Namun saya membaca satu paragraf dari Malcolm X yang menyebut, "Jika anda mengambil satu langkah kearah Tuhan, Daiaakan mengambil dua langkah kearah kamu." Saya tidak lagi memakan babi, dan saya juga meninggalkan sebagian perkara yang dilarang Islam dengan niat semoga Tuhan membimbing saya.

Saya mula belajar lebih banyak tentang Islam, saya sungguh terkejut ketika mendapati semua pertanyaan saya terjawab dalam Islam, dan semuanya dapat saya terima dengan mudah. Saya turut membaca mukjizat quran, mukjizat saintifik Quran dan banyak lagi…….

Saya ingin menambah di sini, bahwa Islam adalah sebuah perkara terindah dalam hidup saya. Ia merupakan sumber segala kebaikan. Ia merupakan risalah untuk setiap ruh yang ingin mencari kedamaian, mencapai tujuan, kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki.

Saya mengajak setiap orang untuk mengambil langkah menuju Tuhan, mereka akan mendapati bahwa Tuhan akan mengambil dua langkah menuju mereka. Karena ia merupakan cahaya dari Allah, dan dari arah mana anda melihat cahaya tersebut ia akan benar. Maka, jika anda bertanya dan memilih untuk melihatnya dari sains atau dari jiwa anda sendiri atau dari orang lain; pergilah ke arah mana yang anda sukai dan saya pasti anda akan menemukannya bahwa inilah risalah yang anda cari selama ini.

Jalal, rekan Abdul Rahman
Abdul Rahman mendapat biasiswa untuk melanjutkan pelajaran dalam bidang bahasa Arab di Yordania dengan sekumpulan pelajar-pelajar lain. Di antara mereka terdapat seorang bernama Jalal yang tinggal di apartemen yang sama.

Jalal berkata, "Saya kenal dengan Abdul Rahman lewat program yang dibiayai oleh Departmen Negeri yang disebut  program Biasiswa Bahasa Kurikuler dimana kami perlu berada dua bulan di sebuah Negara arab, kebetulan kami diantar ke Amman, Yordania."

Ia menambahkan, "Di sinilah saya mengenali Abdul Rahman. Sebenarnya, saya bertemu dengannya dalam sebuah program orientasi di Washington DC. Beberapa perkara yang membuat saya berfikir bahwa Abdul Rahman adalah orang yang istimewa. Ia masuk Islam dengan pengetahuan penuh tentang Islam. Ia tidak memeluk Islam tanpa mengetahui apa-apa tentang kami. Ia benar-benar serius belajar bahasa Arab dan membaca Quran secara rutin. Saya sering melihat ia membaca Quran sebelum kelas, biasanya waktu lapangnya akan ia gunakan untuk membaca Quran. Ia menumpukan perhatian penuh bagaimana untuk menyebutkannya dengan betul. Perkara lain yang saya lihat ialah ramai pelajar Amerika lain yang berminat untuk mempelajari Islam, Abdul Rahman senantiasa bersedia untuk membimbing mereka dan mengadakan perbincangan."  (IRIB Indonesia / onislam.net)

Minggu, 07 Oktober 2012

Ibrahim Long: Tepat di Usia 23 Tahun, Aku Memeluk Islam

Ibrahim Long: Tepat di Usia 23 Tahun, Aku Memeluk Islam 

Saya dibesarkan dalam sebuah keluarga kristen dengan aliran yang berbeda-beda. Ibu saya adalah seorang penganut setia Katolik Roma. Ia menerima lamaran ayah saya dengan terlebih dahulu memaksanya berjanji di hadapan pendeta bahwa mereka akan membesarkan anak-anak mereka sebagai penganut Katolik. Ayah saya menerima syarat itu, sekalipun ia penganut setia Mormon, cabang Kristen.


Akhirnya kami yang lahir dari mereka berada di tengah-tengah faham Kristen. Paman saya pernah bergurau mengapa saya menjadi muslim. Menurutnya, hal itu saya lakukan karena tidak dapat memutuskan untuk memilih keyakinan ayah atau ibu saya. Paman saya tidak tahu bahwa saya memeluk Islam setelah melewati pencarian yang lama.

Ibu saya adalah seorang yang kuat dalam mengamalkan agamanya. Tidak ada satu hari kami tidak mendengar nyanyian riang doa hariannya, atau ia mengingatkan kami akan Tuhan.

Ayah saya tidak pernah menyuarakan keimanannya, walaupun pada hakikatnya ia begitu patuh pada ajarannya. Jika saya atau adik-adik saya terlibat dengan sebarang masalah, kami akan menyelesaikannya sendiri.

Saya tidak menyadari sejauh mana amalan mereka memberikan kesan kepada saya sehinggalah saya lulus dari sekolah tinggi. Pada hari-hari terakhir saya di sekolah Tinggi Folsom,Tuhan memberikan ujian terbesar ke atas keluarga saya.

Ibu saya, yang sebelum ini mengidap tumor yang kronik telah didiagnosa dengan kanker perut yang langka. Para dokter tidak bisa memberi harapan lagi buatnya. Dengan semangat tinggi, ibu menghadiri sesi kemoterapi walaupun akibat dari rawatan tersebut, rambutnya gugur. Ia juga turut mendapat rawatan-rawatan lain.

Ia bertekad untuk melihat anak-anaknya besar. Anggota keluarga memberikan dukungan penuh padanya. Semua anak-anak berada di sisinya. Terutama adik perempuan saya yang terkecil.

Ketika itu saya berusia 17 tahun, saya tidak tahu bagaimana saya bisa membantu untuk mengurangi kesakitan ibu. Sekolah tinggi tampaknya menambahkan masalah yang sudah ada, dengan tekanan dan rekan-rekan yang tidak memberi dukungan, saya merasa kecewa dan malu terhadap ketidakmampuan saya untuk mengubah kondisi ibu. Saya sering meninggalkan rumah untuk berpikir sendirian atau saya berpura-pura seolah-olah saya tidak punya masalah sedikitpun.

Ketika kasur rumah sakit dipindah ke rumah, saya baru tersadar tidak memiliki waktu untuk bersamanya. Saya harus membuat ibu paham bahwa saya amat menyayanginya. Karena saya bimbang tidak punya kesempatan lain.

Suatu petang, ketika saya merasakan bahwa saya punya peluang untuk bersama ibu sendirian, saya berdiri di sisi kasurnya. Ia kelihatan kurus sekali dan terdapat tabung oksigen untuk membantu pernafasannya, tetapi saat itu ia melihat saya. Ibu tersenyum lebar seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Saya berdiri di situ beberapa menit. Walaupun mungkin hanya beberapa detik berlalu, saya merenunginya. Matanya bersinar dengan cinta dan optimisme. Sebuah senyuman yang tidak ada tandingannya. Dalam menghadapi ujian terbesar dalam hidup, ia kelihatan tangguh melawannya. Satu kekuatan yang tidak saya miliki.

Saya memberitahu ibu bahwa saya menyayanginya. Senyumannya semakin lebar, seakan merasakan mengapa saya memilih waktu itu untuk melahirkan perasaan saya. Ia menarik dirinya ke depan dan mengatakan bahwa saya tidak perlu bimbang, semuanya akan selesai. Saya dapat merasakan keyakinannya terhadap apa saja yang direncanakan Tuhan untuknya, dan kata-kata tersebut meninggalkan kesan di hati saya.

Beberapa pekan kemudian, adik saya mengetuk pintu kamar untuk menyampaikan berita tentang kematian ibu kami.

Ibu saya adalah seorang sahabat setia, saudara penyayang, anggota masyarakat yang masyarakat dan juga seorang ibu yang penuh dedikasi. Pemakamannya dihadiri oleh ratusan anggota keluarga dan sahabat handai taulan. Setiap dari mereka mengatakan tentang kebaikan ibu saya.

Sepatah kata yang telah mengubah hidup saya selamanya. Ketika pendeta memberikan pidatonya, ia meminta setiap dari kami memikirkan sifat ibu saya yang paling kami hargai, dan menerapkan sifat tersebut dalam diri kita. "Itu adalah warisannya," kata sang pendeta.

Saya langsung saja tahu apa yang paling saya hargai, yaitu kekuatan batin dan jiwanya yang membenarkan dirinya menjadi begitu optimis dan mencintai walaupun terpaksa menempuh ujian dan kesukaran hidup. Saya tahu benar bahwa kekuatan tersebut bersumber dari keimanannya yang kokoh terhadap Tuhan. Saya benar-benar ingin mencari kekuatan yang sama, tetapi ia hanya akan datang dengan pencarian saya terhadap keyakinan yang saya pasti terhadapnya.

Saya tidak ingat apakah dalam hidup ini saya pernah tidak mempercayai Tuhan, walaupun banyak kali saya rasa melakukan kesalahan karena mengkritik Tuhan. Ibu saya membesarkan kami dalam ruang Katolik, tetapi saya tidak pernah paham mengapa kita harus memanggil ruh kudus apabila kita diajar bahwa Tuhan Maha Berkuasa dam saya kesulitan untuk menerima manusia sebagai pencipta saya.

Bukan tidak ada keimanan dalam hari saya terhadap Tuhan, tetapi saya tidak tahu bagaimana untuk memahami-Nya. Terinspirasi dengan seorang tokoh sejarah pada usia 18 untuk sukses pada usia 23, saya membuat perjanjian untuk mencari jalan yang benar – apa saja hasilnya- pada usia yang sama.

Saya mulai membaca Injil. Saya membagi pertanyaan tentang Tuhan dengan teman-teman saya, tetapi mereka tampaknya tidak serius tentang agama. Dengan hati yang terbuka saya berusaha mencari titik terang dalam Injil.

Tanpa sebarang kepastian, saya membiarkan Injil bercakap sendirian. Di celah-celah ayat saya menemukan garis panduan etika, sejarah dan informasi geneologikal. Saya percaya dengan para nabi Tuhan, saya menyukai kata-katanya, tetapi mempercayai Nabi Isa sebagai Tuhan adalah konsep yang paling sulit untuk saya terima.

Saya ingin sekali mempercayainya, tetapi saya tidak dapat memaksa diri saya untuk menerimanya. Merasa kehilangan, suatu malam saya meminta Tuhan memberikan saya kepercayaan bahwa Nabi Isa adalah Tuhan. Untuk seketika saya merasa bahwa ia adalah benar, tetapi kemudian ia segera sirna. Saya mula mencari keyakinan dalam agama lain.

Saya menyelami Hinduisme, Hara Krishna, Era baru, dan Buddhisme. Mereka menawarkan kata-kata dan kisah-kisah indah yang menjelaskan upaya orang-orang bermoral, sayangnya saya tidak dapat menemukan sesuatu yang bisa memberikan saya sedikit kepastian.

Meditasi dan fokus ke atas pengawalan diri dalam Buddhisme memberikan sejenis amalan yang lebih jelas dalam kepercayaan lain yang saya pelajari, tetapi perwujudan Tuhan yang saya cari tidak ada dalam ajaran ini.

Selepas memikirkan apa yang harus saya lakukan dengan semua agama tersebut, saya serahkan kepada Tuhan karena apa yang saya inginkan telah disimpangkan oleh tangan-tangan manusia atau disalahartikan oleh penganutnya. Saya percaya bahwa kebenaran hanya dapat ditemui dengan memisahkan semua tambahan manusia dengan meneliti dan mengkajinya secara jujur. Masih tidak pasti dengan apa yang patut saya yakini, saya meninggalkannya kepada Tuhan, semoga Dia dapat membantu saya menemui-Nya.

Saya bernasib baik saat seorang teman mengundang saya untuk tinggal bersamanya di Santa Barbara, California. Kami benar-benar menghargai ide menjauhkan diri dari teman-teman lama yang mengkritik upaya kami. Kami mencari Tuhan dan diri kami sendiri. Saya baru berusia 21 tahun, dan melihat tawaran ini sebagai peluang untuk saya mengumpulkan waktu saya mencari Tuhan sebelum berusia 23 tahun, lantas memenuhi janji yang saya buat sendiri.

Tinggal jauh dari rekan dan keluarga memberi peluang kepada saya untuk menilai diri dan bertemu dengan orang-orang yang mempunyai minat yang sama. Di sini saya bertemu dengan berbagai ragam manusia yang saling bertukar ide; sebagian kelihatan amat indah, manakala sebagian lagi menyebabkan  saya menyoal visi realita mereka. Saya menyukai pembahasan mengenai keyakinan, tetapi saya tidak menemukan apa-apa yang baru yang dapat menawarkan sesuatu yang bisa saya pegang.

Saya ingin mengetahui kebenaran yang bisa saya pegang, bukan sekadar percakapan tentang apa itu kebenaran. Walaupun saya bertambah informasi, sayangnya saya masih tidak menemukan pegangan yang saya cari di Santa Barbara.

Saya kembali ke rumah saya di Sacramento dan dengan beberapa bulan lagi usia saya akan mencapai 23 tahun, saya mula merasa kehilangan dan depresi. Perjanjian paling penting yang saya buat tampaknya tidak dapat dipenuhi. Merasa kecewa, saya berhenti membaca sebarang buku agama, dan mulai membaca peristiwa-peristiwa kotemporer.

Saya begitu berminat untuk mengetahui lebih banyak mengenai konflik Timur Tengah, terutamanya bumi suci. Saya pergi ke toko buku lokal, dan membeli sebuah buku tentang konflik Israel dan Palestina yang kononnya menganut agama yang mengajar manusia kekerasan dan kebencian. Penulis begitu ingin memperlihatkan bahwa agama ini merupakan problema di Timur Tengah, tanpa mengetahui apa-apa tentang agama ini, saya percaya saja dengan apa yang ingin disampaikan oleh sang penulis.

Dalam pembahasan, saya akan merujuk kepada penulis, bahwa agama Islam adalah sebuah agama yang tidak punya toleransi. Saya melakukannya sehingga seorang rekan yang baik menyoal saya jika saya sadar bahwa saya hanya berprasangka. Ia benar, sebenarnya saya hanya tahu Islam dari buku yang saya baca.

Saya mula bertanya lebih kepada pengurus toko saya, Danyelle yang telah memeluk Islam. Ia memberikan saya sebuah al-Quran, dan suaminya, Jabari menyarankan saya bertemu mereka di rumah mereka untuk berbahas lebih lanjut.

Untuk sebulan setengah, saya menemui mereka setiap malam Jumat dan bercakap-cakap dengan mereka tentang agama. Mereka sangat dermawan, menghidangkan makan malam setiap kali saya datang, dan menjawab pertanyaan saya tanpa menyingkirkan apa yang saya percaya.

Saya sendiri telah membaca sebagian dari Quran sebelum ini, tetapi kini dengan ada orang untuk menjawab pertanyaan saya, hati saya terbuka, dan saya benar-benar berusaha untuk memahami apa yang tersirat dalamnya.

Al-Quran merupakan sebuah kitab yang unggul dari apa yang pernah saya baca selama ini. Jauh dari intoleransi, malah isinya begitu seimbang. Ia sering mengingatkan tentang peraturan bermasyarakat dan kasih sayang yang semuanya masuk akal. Ayat-ayatnya mengungkapkan pengetahuan yang dalam tentang perilaku manusia. Konsep benar yang saya temui dalam buku lain terdapat dalam al-Quran, jikapun ia berbeda, saya temui bahwa al-Quran sebenarnya lebih dapat diterima.

Selepas 6 pekan melakukan diskusi dan pembacaan, akhirnya saya yakin bahwa al-Quran adalah wahyu Allah Swt.

Pada tanggal 25 Februari, hari Jumat, saya membuat pengakuan bahwa saya akan memeluk Islam. Pada hari Ahadnya, saya dengan penuh kesadaran mengucapkan dua kalimat Syahadah.

Saat matahari terbit hari berikutnya, sedang saya memikirkan tentang keimanan baru saya, saya teringat bahwa hari itu adalah hari lahir saya yang ke 23 dan Tuhanlah yang telah membantu saya untuk memenuhi janji yang saya perbuat. Setelah segala pencarian, Tuhan mengungkapkan kepada saya sebuah keimanan yang sebelum ini tidak terlintas dalam benak saya, dan ini merupakan hadiah yang terbesar buat diri saya.

Setiap kali saya membaca al-Quran atau mempelajari sesuatu yang baru darinya, semua itu hanya membuat iman saya bertambah. Inilah yang ingin saya cari selama ini, dan inilah yang memberikan saya kekuatan yang selayaknya buat saya hari ini. (IRIB Indonesia/onislam.net)

 

Sabtu, 06 Oktober 2012

Catherine: Perlu Waktu Teman Pria di Kampus Memahami Saya Seorang Muslimah

Catherine: Perlu Waktu Teman Pria di Kampus Memahami Saya Seorang Muslimah 

Catherine Heseltine adalah seorang guru TK berusia 31 tahun. Wanita muda Inggris ini yang tinggal di Utara London telah memeluk agama Islam.

Jika anda bertanya saya ketika saya berusia 16 tahun adakah saya ingin masuk Islam, saya akan menjawab, "Tidak, terima kasih. "Saya senang minum-minum, berfoya-foya dengan teman-teman."

"Dibesarkan di utara London, kami tidak pernah mengamalkan agama di rumah. Saya menganggap agama adalah sesuatu yang kuno dan tidak sesuai dengan zaman. Tetapi ketika saya bertemu dengan suami saya, Syed, di sekolah tinggi, ia menantang segala pandangan saya." Ia masih muda, muslim, percaya ada Tuhan tetapi dia normal. Yang berbeda adalah ia tidak seperti anak-anak muda lain. Ia tidak pernah minum minuman keras.

Setahun kemudian, kami benar-benar saling menyintai. Kami segera sadar, bagaimana mungkin kami dapat bersama jika dia muslim dan saya tidak?

Sebelum menemui Syed, saya tidak pernah bertanya dengan apa yang saya yakini. Saya pun mula membaca beberapa buku tentang Islam karena rasa ingin tahu.

Pada mulannya, al-Quran menarik minat saya dari sudut intelektualnya, sementara sisi emosional dan spiritualnya datang kemudian. Saya senang sekali dengan penjelasan al-Quran tentang dunia dan apa yang lebih menarik ia telah ada sejak 1500 tahun lalu. Islam memberi hak-hak kepada wanita yang tidak dimiliki di sini, di Barat, yang baru memberikan hak itu baru-baru ini. Ia merupakan wahyu.

Agama bukanlah sesuatu yang ‘cool' untuk diucapkan. Selama tiga tahun saya menyimpan minat saya pada Islam dalam diri saya sendiri. Tetapi pada tahun pertama di universitas, Syed dan saya mengambil keputusan untuk menikah. Sudah sampai masanya untuk saya memberitahu kedua orang tua saya mengenai masalah ini.

Reaksi pertama ibu saya ialah "tidak dapatkah kalian tinggal bersama terlebih dulu?" Ia bimbang dengan keputusan saya untuk segera menikah dan dan berperan sebagai wanita Islam dalam rumah tangga, tidak ada siapapun yang tahu bahwa saya benar-benar serius untuk memeluk Islam.

Saya masih ingat ketika kami keluar makan malam dengan ayah saya, ia berkata: "Minumlah minuman keras itu, saya tidak akan memberitahu Syed!". Banyak yang menyangka bahwa saya memeluk Islam sekadar untuk membuat keluarga suami saya merasa gembira, bukan karena saya meyakininya.

Pada tahun tersebut, kami mengadakan majlis perkawinan ala Bengali secara besar-besaran, kami berdua berpindah ke sebuah rumah apartemen, tetapi saya tidaklah dirantai di dapur. Malah saya tidak mengenakan hijab pun pada mulanya dan hanya mengenakan topi dan ikat kepala.

Saya terbiasa mendapat perhatian dari teman lelaki saat saya berada di kelab-kelab hiburan dan bar, tetapi saya telah meninggalkan semuanya. Saya perlahan-lahan mengadopsikan cara berpikir Islam. Saya ingin orang menilai saya karena kebijaksanaan dan perilaku saya bukan sekadar lahiriah saya.

Saya tidak pernah menjadi bagian dari minoritas agama sebelum ini, maka ia merupakan sebuah perubahan besar, tetapi rekan-rekan saya menerima saya. Sebagian dari mereka agak terkejut, "Apa? Tidak boleh minum-minum, tidak ada narkotika dan tidak ada lelaki?" "Kami tidak bisa melakukannya!!"

Perlu beberapa waktu untuk rekan-rekan pria saya di universitas untuk ingat bahwa mereka tidak boleh mencium pipi saya ketika memberi salam ‘hello' seperti dulu. Saya terpaksa menjelaskan kepada mereka, "Maaf, ini dilarang dalam agama Islam".

Masa berjalan, saya menjadi bertambah religius dari suami saya. Kami perlahan-lahan menjauhkan diri. Selepas tujuh tahun bersama, kami akhirnya mengambil keputusan untuk bercerai.

Ketika saya pindah ke rumah orang tua, mereka terkejut melihat saya masih mengenakan kerudung ketika keluar rumah. Bagaimanapun, setelah berpisah dengan suami, keimanan saya menjadi lebih kuat. Saya mula merasakan diri saya sebagai seorang muslim, tidak lagi bergantung kepada suami saya.

Islam memberikan saya arah dan tujuan. Saya melibatkan diri dengan komite urusan publik muslim dan memimpin kampanye menentang Islamphobia, diskriminasi terhadap wanita di masjid, kemiskinan dan situasi di Palestina.

Ketika orang memanggil kami ekstrimis atau bagian gelap politik Inggris, saya pikir ini sesuatu yang tidak masuk akal. Terdapat banyak masalah dalam masyarakat Islam, tetapi ketika orang mengetahui bahwa  mereka berada dalam keadaan terhimpit, maka menjadi sulit untuk mencapai kemajuan.

Saya masih merasakan diri saya sebagai bagian dari warga kulit putih Inggris, tetapi saya juga seorang muslim. Ini perlu waktu untuk saya dapat menyesuaikan diri, tetapi sekarang saya merasa lebih yakin dan percaya diri. Saya adalah bagian dari dua dunia tersebut dan tidak ada siapapun yang bisa mengambilnya dari saya. (IRIB Indonesia / Rohama.org)

Jumat, 05 Oktober 2012

Tanya: Saya Begitu Terharu, Sehingga Sulit Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat

Tanya: Saya Begitu Terharu, Sehingga Sulit Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat 

 Kehidupan sebelum Islam
Kehidupan saya sebelum Islam tidak punya akar yang kokoh. Saya tinggal bersama orang tua saya. Ibu saya tidak punya latarbelakang agama yang kuat. Dia datang dari sebuah keluarga Kristen. Karena saya tidak bisa akur dengan ibu, maka saya tidak tinggal di rumah. Untuk beberapa bulan saya tinggal gelandangan sehingga saya ditemui dan ditempatkan di rumah keluarga angkat.

Saya tinggal di tiga rumah keluarga angkat sebelum yang terakhir, di mana rumah tersebut menjadi rumah tetap saya. Saya tinggal selama enam tahun di sini. Pada masa tersebut saya benar-benar sendirian. Saya tidak punya ibu, tidak punya ayah dan tidak punya kawan. Tiada tempat untuk saya mengadu. Saya kira itulah yang telah membuka pintu untuk saya dan mengapa saya mula mencari karena saya merasa sendiri.

Ibu saya tidak pernah mengajar saya tentang agama. Saya sendiri yang melakukannya. Saya melupakan segala penderitaan saya dengan membenamkan diri dalam Kristen. Saya mengikuti gereja Pantekosta. Saya menanti setiap kedatangan hari Minggu untuk dapat pergi ke gereja. Kebaktian hari minggu seperti pendidikan ruhani bagi saya. Mungkin itulah sebabnya saya tidak berada di rumah sendiri. Setiap hari Minggu, saya ke gereja dan saya akan bertanya tentang Nabi Isa as. Di rumah kami diajar berdoa oleh ibu saya sekadar doa sebelum makan malam dan sebelum tidur, tidak lebih dari itu.

Saya mendengar teori telur klasik dari guru sekolah hari Minggu saya. Kononnya teori kulit telur, kuning telur dan putih telur: dan bagaimana ketiga ini bisa menjadi sebiji telur. Jika anda mengambil salah satu darinya, maka anda tidak akan punya sebiji telur, begitulah penjelasan tentang trinitas Nabi Isa, bapa dan ruh suci. Saya meyakininya tetapi seperti ada sesuatu yang ganjil dalam ajaran tersebut.

Bagaimana saya menjadi seorang muslim?
Tidak lama selepas saya berada di sekolah tinggi, saya mula melibatkan diri dalam kegiatan gereja tetapi kemudian perlahan-lahan saya menarik diri darinya. Seperti anak-anak muda lain saya juga turut bersama dengan rekan-rekan sebaya. Tetapi hati saya tetap tidak puas dan masih bertanya tentang apa itu kehidupan. Terdapat seorang pelajar lelaki di sekolah tersebut yang beragama Islam. Saya berusaha untuk menjelaskan Kristen padanya dan dia pun berusaha untuk menjelaskan tentang Islam kepada saya. Saya masih ingat, saya hanya menjelaskan tentang Kristen padanya dan dia menolak beberapa hal tentang Kristen. Saya agak terkejut bagaimana dia bisa bercakap seperti itu tentang Kristen.

Apa yang terlintas dalam benak saya ialah dari ditarik oleh pandangan seseorang, saya ingin mencari sendiri pandangan saya berkaitan Islam. Saya tidak ingin dibimbing oleh orang lain atau berada di bawah pengaruh orang lain. Saya mulai mengunjungi perpustakaan dan mencari lebih banyak mengenai apa itu agama; Islam, Kristen,dan lain-lain. Dari situlah pintu mulai terbuka untuk saya.

Apa yang menarik saya pada Islam adalah keindahan yang terdapat di dalamnya. Saya tidak terbuka pada segala macam stereotype atau media maupun segala macam konotasi negatif. Saat saya membaca buku-buku berkaitan Islam saya hanya berhadapan dengan pendidikan masa saya masih kecil, cara hidup yang saya amalkan saat itu, yaitu hidup tanpa arah, dan kini Islam datang.

Jiwa saya berada dalam keadaan trauma. Saya tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa berfikir. Saya tidak dapat menjalani hidup dengan baik. Saya tidak tahu apa yang benar. Semuanya kelihatan tidak masuk akal. Saya berusaha untuk mendapatkan apa saja, siapa saja yang bisa memberikan penjelasan kepada saya tentang Tuhan. Saya rasa Dia hanya nama. Dia tidak hidup. Dia belum hidup dalam jiwa saya.

Saya masih ingat, satu ketika saya lari keluar di tengah malam yang gelap dan menangis kepada Sang Pencipta serta berdoa "tolonglah beri saya jawaban, tolonglah tunjukkan jalan buat saya, tolonglah beri tempat saya untuk berpijak, berilah saya sesuatu untuk saya berpegang karena saya berada dalam keadaan sesat". Saya sungguh merasa kecewa. Saya tidak lagi ingin hidup karena saya tahu bahwa saya tidak mungkin bunuh diri karena ada sesuatu yang harus saya lakukan. Tetapi pada masa yang sama saya tidak tahu kepada siapa harus saya mohon bantuan. Adakah saya harus memanggil Tuhan seperti yang diajar agama Kristen atau Tuhan yang diajar Islam atau haruskah saya berada dalam keadaan terapung-apung seperti ini. Saya terus berdoa dan berharap, "Tolonglah beri saya jawaban, saya perlu mengetahui, saya tidak berdaya lagi untuk terus hidup seperti ini.

Alhamdulillah, selepas dua hari saya berdoa, saya mendapat jawaban. Ketika itu saya berada dalam grade 11 kelas matematika. Saya sedang membaca sebuah buku dan apa saja berkaitan dengan keyakinan yang pernah saya tolak satu ketika dahulu. Saya tidak bisa menjelaskan secara transparan, apa yang berlaku ialah semuanya datang sendiri. Saya yakin dan mempercayai semuanya, dan saya juga pernah belajar tentang syahadah melalui pembacaan buku-buku Islam. Saya juga belajar tentang Nabi Muhammad Saw dan lain-lain tentang Islam. Semuanya datang ke benak saya. Saya mengatakan inilah jawabannya.

Beginilah, saya telah menemuinya, saya merasa terharu sekali. Air mata bergenang di mata saya. Jiwa saya diselimuti dengan kegembiraan, saya keluar dari kelas. Guru saya bertanya, "Tanya, engkau mau kemana?" Saya tidak dapat memberi jawaban, lidah saya menjadi kelu, tidak ada bahasapun dalam kepala saya. Saya lari ke kamar kecil. Ketika itu saya masih belum mengenal wudhu. Saya membasuh wajah saya untuk menjadikannya bersih. Mungkin seperti melakukan wudhu! Terlintas dibenak saya, inilah yang saya cari selama ini.

Saya bertemu seorang muslimah di sekolah saya, dia memakai hijab dan saya berkata kepadanya, "Adakah anda seorang muslim?"

Dia menjawab, "Ya".

Saya berkata kepadanya, "Saya perlu bercakap dengan anda, karena saya fikir saya adalah seorang muslim".

Dia membawa saya menemui keluarganya. Mereka menerima saya dengan tangan terbuka. Mereka mengundang saya untuk datang ke rumah mereka.

Mereka memberikan saya pakaian, buku-buku, makanan dan apa saja. Mereka begitu baik dan ramah sekali. Mereka kemudian membawa saya ke masjid. Di tempat ini saya mengucapkan dua kalimat syahadah. Saya mengucapkan dua kalimat syahadah dengan keluarga yang mengambil saya menjadi anak angkat mereka dan seorang muslimah yang bekerja di kantor tersebut. Saya begitu terharu sehinggakan kata-kata syahadat tersebut sukar untuk saya lahirkan.

Kehidupan selepas menerima Islam
Kehidupan saya berubah sama sekali. Kini saya berpijak di bumi nyata. Saya punya opini yang tidak sama dengan ibu saya tentang keimanan. Ibu saya berkulit putih, ayah saya berkulit hitam. Saya tidak dibesarkan oleh ayah saya. Oleh karena itu, sering kali orang akan bertanya kepada saya, "Anda dari mana?" Mereka akan menyoal saya, apa latarbelakang saya dan saya memang tidak tahu apa yang harus saya katakan. Saya adalah seorang Kanada. Saya hanya mengenali keluarga dari ibu.

Kini saya tidak lagi merasa ragu, saya tahu mengapa saya berada di muka bumi ini, kemana saya akan pergi. Saya akan kembali kepada Sang Pencipta dan ini membuat saya ingin belajar. Masa lalu saya bermula dengan belajar, meneliti dan terus melanjutkan pencarian sehingga Allah memerintahkan untuk berhenti. Saya mengajak semua orang untuk terus berusaha mencari kedamaian hati dan ketenangan jiwa.

Saya ingin berbagi rasa yang terdapat dalam hati saya. Adakalanya sebagian orang memeluk agama Islam dengan cara demikian. Hanya dengan contoh kita dapat tunjukkan kepada non muslim, apa itu Islam. Alhamdulillah itulah tujuan saya yaitu berbagi rasa sedikit cahaya yang telah Allah karuniakan kepada saya dengan orang lain. (IRIB Indonesia / revert muslim)

Kamis, 04 Oktober 2012

Leilah Ahmad: Saya Bangga Mengatakan Diriku Sebagai Muslimah

Leilah Ahmad: Saya Bangga Mengatakan Diriku Sebagai Muslimah


Kedua orang tua saya memberikan kebebasan untuk saya membuat pilihan

Nama saya adalah Leilah Ahmad. Ibu saya warga Australia, sementara ayah saya berasal dari Pakistan. Saya mempunyai seorang saudara lelaki. Saya tidak dibesakan dalam keluarga yang religius. Ibu saya memberikan saya kebebasan untuk membuat pilihan. Oleh karenanya, saya mempunyai peluang untuk memahami Islam dengan cara saya sendiri. Tidak ada siapapun yang memaksa saya dalam hal ini.

Ketika saya menyedari bahwa setiap hari Jumat ayah saya pasti akan keluar dari rumah. Saya bertanya kepada ibu saya, "Ayah pergi ke mana?"

Ibu menjawab, "Dia menunaikan shalat jamaah".

Sebenarnya saya tidak paham apa itu shalat jamaah. Saya malah tidak mengetahui bahwa ayah beragama Islam. Suatu hari saya bertanya kepadanya tentang Islam.

Dia menjelaskan kepada saya tujuan shalat berjamaah. Apa itu shalat jamaah. Dia menjelaskan bahwa shalat tersebut merupakan bagian dari shalat lima waktu sehari semalam. Ia termasuk dalam shalat zuhur. Saya meminta izin darinya untuk ikut bersamanya ketika dia pergi menunaikan shalat jemaah. Dia memberikan saya kesempatan untuk ikut bersamanya.

Kunjungan ke Masjid
Dia meminta saya mengenakan pakaian sopan, kerudung dan berlengan panjang. Saya menurutinya. Ketika saya mendengar khutbah Jumat, ia memberi kesadaran kepada saya. Seolah-olah Islam adalah sesuatu yang baru buat saya. Saya tidak mempunyai sedikitpun ide tentang agama ini. Saya melihat umat Islam dan saya tidak faham mengapa wanita Islam harus mengenakan hijab.

Kunjungan ke masjid itu, sebenarnya bukanlah sebuah masjid. Asalnya di tempat saya dibesarkan di kota Cannes, ada sebuah rumah tempat mereka menggelar shalat jamaah dan acara-acara Islami. Pada hari pertama, saya mendengar bacaan surat al-Fil. Imam tersebut membacanya dalam dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Arab. Saya merasakan bahasa Arab yang dilantunkan begitu indah dan menimbulkan kedamaian dalam diri saya.

Kemudian saya mula bertanya berbagai macam persoalan kepada ayah saya. "Apakah tujuan shalat, mengapa anda memilih Islam sebagai agama anda? Mengapa wanita muslim harus mengenakan kerudung? Apa itu al-Quran? Apakah maksudnya? Dan sebagainya. Apakah maksud Islam secara khusus?" Dia menjelaskan semuanya kepada saya. Malah dia memberikan kepada saya sebuah al-Quran.

Melihat ayat-ayat di dalam Quran, terasa begitu mempesona. Al-Quran kelihatan begitu indah. Cantik menawan, tidak ada yang dapat menandinginya. Suatu hari saya memutuskan, selepas melakukan penelitian dan merenung dengan dalam, apalagi selepas ayah membawa saya mengikuti shalat jamaah, Magrib, Isha, semua shalat dan juga hari raya. Ketika itu saya belum Islam sepenuhnya. Saya masih belajar, belum memeluk Islam.

Keputusan Final
Satu hari, saya memutuskan untuk memeluk agama Islam dan inilah keputusan final saya. Akhirnya saya akan menjadi seorang muslimah. Kami pergi ke masjid, imam masjid tersebut menyaksikan saya mengucap dua kalimat syahadah. Saya telah memilih untuk menjadi muslim. Saya percaya bahwa tiada Tuhan yang saya sembah selain Allah Swt dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Selepas satu setengah tahun kemudian, selepas mengamalkan ajaran Islam dan membaca al-Quran (saya mengambil masa selama setahun untuk mempelajari huruf-huruf bahasa Arab) kami berpindah ke Gold Coast. Orang tua kami membuat keputusan tersebut untuk memudahkan saya dan saudara lelaki saya mempelajari lebih banyak tentang Islam. Saudara lelaki saya turut memeluk agama Islam sama pada waktu saya memeluk Islam. Walaupun ia mengambil masa yang lebih lama dari saya untuk memahami Islam. Alhamdulillah kami sama-sama menjadi muslim dan bisa membaca al-Quran dengan baik.

Famili dan Kawan
Tidak banyak penganut Islam di Cannes. Saya kehilangan banyak teman karena kefahaman dan persepsi mereka tentang Islam amat berbeda. Banyak di antara mereka yang tidak menghormati Islam. Tidak ada siapapun yang memberi dukungan saat saya memeluk Islam kecuali ibu, ayah dan saudara lelaki saya serta keluarga. Tanpa Islam tidak mungkin saya dapat menempuh waktu-waktu kesulitan. Islam memperlihatkan kepada saya siapa kawan saya sebenarnya. Jika mereka memahami, sudah tentu mereka akan tetap bersama saya melewatinya.

Ketika pindah ke Gold Coast, pada mulanya saya tidak mengenali ramai kawan padahal tempat ini lebih ramai penganut Islam dan anak-anak disini lebih memahami Islam serta menjalin persahabatan lebih mudah.

Saya punya dua teman yang benar-benar baik. Semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka. Mereka sering mengikuti saya mendengar khutbah dan ceramah agama. Mereka mengatakan bahwa mereka suka mendengarnya. Saya amat gembira. Mereka merupakan teman terbaik saya. Andai saja mereka terbuka hati untuk memeluk agama Islam, sudah pasti ianya bertambah baik.

Kehidupan dalam jilbab
Saya mengambil masa setahun sebelum mula mengenakan kerudung, itupun setelah kami berada di Gold Coast. Berada di tempat ini ramai memandang umat Islam dan banyak yang menghormati umat Islam. Hal ini membuat saya lebih mudah untuk mengamalkan ajaran Islam secara terbuka, tanpa perlu menyembunyikan diri. Saat seseorang bertanya apakah agama saya, saya tidak perlu lagi mendiamkan diri. Kini saya bisa secara leluasa menyebutkan agama saya; Saya adalah seorang muslimah, dan saya bangga dengannya. Saya tidak lagi merasa takut untuk menyebutkannya.

Saya memberitahu kepada ayah saya, "Saya akan mengenakan kerudung esok. Saya akan ke sekolah dengan mengenakan jilbab". Dan itulah yang saya lakukan. Saya mengenakan kerudung dan berjanji tidak akan melepaskannya. Saya merasa lebih tenang. Orang melihat saya. Sebagian melihat saya dengan rasa penuh hormat. Sebagian lagi tidak, tetapi saya tidak merasakan orang merenung saya seolah-olah saya menunjukkan tubuh saya. Seolah-olah saya merasa jelek atau sepertinya, saya merasa lebih gembira. Saya merasa lebih damai. Jiwa saya merasa lebih ringan. Perasaan saya memang indah..alhamdulillah. Saya tidak akan mengubahnya dengan dunia. Saya lebih rela mati dari melepaskan kerudung saya.

Apa yang bisa diberikan oleh Islam?
Kehidupan saya tidak mengalami perubahan besar. Saya masih orang yang sama. Saya masih seperti manusia biasa macam orang lain. Saya makan macam orang lain. Tetapi kehidupan saya lebih murni, dan semuanya lebih masuk akal. Saya menjauhkan diri dari yang haram dan memelihara yang halal. Itulah jalan benar. Dan untuk memberikan petunjuk kepada orang lain, sudah tentu ia merupakan perbedaan besar.

Islam banyak sekali memberikan jalan. Bagi saya, Islam memberikan kedamaian, kesejahteraan, kebenaran, cinta, kebersihan dan jalan hidup.

Bagi saya, Islam merupakan jalan hidup.

Dan saya masih orang yang sama. Saya adalah warga Australia tetapi keimanan saya berbeda. Saya adalah seorang muslimah. Saya seorang muslimah Australia. Dan saya bangga untuk mengatakan saya adalah seorang muslimah…. Alhamdulillah. (IRIB Indonesia/rohama.org)

Rabu, 03 Oktober 2012

Aysha: Kata Ibuku, Saya Melahirkan Anak Kristen, Bukan Muslimah Berjilbab

Aysha: Kata Ibuku, Saya Melahirkan Anak Kristen, Bukan Muslimah Berjilbab

Nama saya Aysha. Saya berasal dari Utara Hungaria. Saya mendengar tentang Islam ketika saya berada di sekolah menengah, dalam pelajaran sejarah, karena Hungaria pernah berada di bawah kekuasaan Turki selama 150 tahun.

Kemudian saya memasuki universitas untuk melanjutkan pelajaran dalam bidang biologi molecular, di sini saya menemui banyak pelajar muslim dari luar negeri. Saya senantiasa ingin tahu mengapa umat Islam bangga dengan agama mereka.

Saya adalah seorang penganut katolik, tetapi sering punya keraguan dan saya tidak setuju dengan sebagian ajaran agama saya. Contohnya, bagaimana bisa Tuhan mempunyai putra dan demikian juga konsep trinitas.

Pernah suatu ketika saya sedang makan malam bersama dengan teman-teman saya, tiba-tiba terdengar suara azan. Salah seorang teman minta saya memberhentikannya, tetapi saya menolak. Saya begitu terpesona dengan keindahan suara azan dan sesuatu sepertinya menyentuh hati naluri saya.

Pada musim panas saya mendownload program al-Quran secara tidak sengaja. Saya tertegun mendengar lantunan bahasa Arab dan membaca teks Inggrisnya. Saya mulai berfikir tentang Islam dan membaca buku-buku berkaitan dengannya.

Selepas dua bulan, saya memeluk agama Islam. Saya mengucapkan syahadah di hadapan dua teman saya. Saya menyaksikan bahwa tiada Tuhan melainkan Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.

Saya memilih Islam sebagai agama saya dan menentang budaya, keluarga terutama ibu saya.

Ramadhan pun tiba, saya memutuskan untuk melaksanakan puasa sebagai permulaan kehidupan baru dalam Islam. Alhamdulillah saya berhasil melaksanakannya.

Saya mula menunaikan shalat. Pada mulanya memang agak sulit bagi saya karena orang di sekitar saya bukan muslim. Jadi saya tidak bisa bertanya kepada siapapun.

Saya belajar shalat sendirian dengan melihat internet. Karena tidak ada seorangpun yang menunjukkan kepada saya bagaimana cara untuk melaksanakan shalat, bagaimana melakukan wudhu, apa yang perlu saya baca sebelumnya atau bagaimana melakukan mandi atau apakah etika dan hukum dalam Islam yang harus saya patuhi??

Saya pernah punya teman, sayangnya dia benar-benar membuat saya kecewa. Dia memberitahu saya bahwa saya tidak akan pernah memahami Islam karena saya tidak lahir dalam Islam. Saat saya memberitahu dia bahwa saya akan berpuasa, dia mengatakan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar saja. Pada masa itu saya benar-benar baru. Saya baru memeluk Islam kira-kira sebulan.

Saya menjadi takut, bagaimana jika saya tidak dapat belajar bagaimana untuk shalat dalam bahasa Arab? Bagaimana jika saya tidak dapat melaksanakan dengan cara yang benar? Saya tidak punya kerudung, saya tidak punya sajadah untuk menunaikan shalat, saya juga tidak mendapat bantuan dari seorangpun. Saya memiliki banyak keraguan.

Ketika saya mula menunaikan shalat, saya gambarkan Tuhan sedang melihat saya dengan senyuman. Malah saya pernah menulis teks bacaan shalat di atas kertas serta panduan-panduannya, saya memegang kertas tersebut di tangan kanan sambil membaca kuat dan rukuk. Kemudian membaca lagi, begitulah seterusnya. Saya pasti kelihatan sangat aneh.

Kemudian saya berhasil menghafal bahasa Arab, masalah yang saya hadapi teratasi. Saya membuka akun facebook. Di sini saya mempunyai banyak teman baru. Dari sahabat-sahabat di facebook, saya mendapat perhatian dan dukungan.

Malah ada seorang lelaki muslim membelikan saya kerudung, sajadah dan buku-buku Islam untuk saya. Untuk pertama kalinya saya mendapat al-Quran dalam bahasa Arab dari Yordania yang dihantar lewat pos. Kita tidak akan dapat menemukan al-Quran di Hungaria. Kini saya turut mengenakan jilbab.

Hubungan saya dan ibu saya menjadi tegang. Dia menuduh saya akan menjadi teroris dan saya akan meninggalkan dia seperti mana saya meninggalkan Kristen. Saya juga akan meninggalkan Hungaria. Dia sengaja meletakkan daging babi dalam kulkas. Saya enggan memakannya, perkara ini menimbulkan perselisihan besar di antara kami.

Dia tidak tahan melihat saya shalat atau memakai jilbab. Oleh karenanya, saya shalat di dalam kamar saya. Dia tidak akan memandang saya saat saya mengenakan jilbab dan dia akan merengut dengan berkata, "Saya melahirkan seorang anak Kristen bukan seorang muslimah yang berhijab."

Hubungan kami benar-benar menghadapi masalah serius. Tetapi saya tidak pernah berlaku kasar padanya. Alhamdulillah kini dia lebih tenang dan tampaknya dia menerima saya. Saya sungguh bersyukur kepada Allah. Kini dia tidak lagi merengut saat saya mengenakan jilbab.

Saya tidak pernah bercakap dengan ayah saya, dan dia juga tidak ingin menemui saya. Tetapi kini karena Islam, saya berbuat baik terhadapnya. Kini dia sering mengunjungi kami.

Ya, kehidupan saya merupakan ujian besar tetapi Alhamdulillah saya mempunyai kesabaran dan harapan. Pada Hari Kiamat nanti saya amat bersyukur kepada mereka. Saya akan terus berusaha untuk meningkatkan ilmu yang ada dan menjadi lebih baik dalam memahami ajaran Islam.

Saya percaya bahwa segala yang berlaku telah ditentukan oleh Allah Swt dan saya tidak dapat mengubahnya tetapi saya bisa memilih untuk hidup dengan lebih baik.

Saya berusaha untuk membantu orang lain di Debrecen. Saya menyelenggarakan proyek menghimpun pakaian terpakai untuk kamp pengungsi. Terdapat ramai muslim yang tidak punya rumah karena perang. Kami menghimpun pakaian dan membawanya ke sana. Saya membuat roti Pakistan untuk anak-anak dan kaum perempuan. Mereka amat gembira sekali dan kami merasa senang.

Dulu saya berteriak jika ada orang yang menggangu saya. Tetapi kini saya lebih suka menunjukkan contoh ke mana saja saya pergi. Saya juga berusaha untuk membimbing mereka yang baru memeluk agama Islam. Baru-baru ini saya bertemu dua orang muslimah Hungaria yang baru memeluk Islam. Saya memberikan mereka buku-buku, sajadah saya dan al-Quran. Alhamdulillah, kami shalat bersama dan mereka amat gembira sekali.

Saya berusaha untuk memperlihatkan citra bahwa kita umat Islam adalah orang yang baik, ramah dan memiliki hati yang bersih. Kini saya sedang belajar bahasa Arab, supaya bisa membaca al-Quran dengan baik. Saya membaca al-Quran dalam bahasa Hungaria, saya menunaikan shalat lima kali sehari semalam. Saya berusaha untuk menuruti al-Quran dan Sunnah Nabi, dan saya membaca buku untuk bisa mendapat pemahaman yang lebih baik tentang Islam. (IRIB Indonesia/Rohama.org)

Selasa, 02 Oktober 2012

Gerda: Betapa Indahnya Menjadi Seorang Muslim

Gerda: Betapa Indahnya Menjadi Seorang Muslim 

Saya berasal dari negara Eropa Timur bernama Lithuania, sebuah negara yang didominasi oleh agama Kristen. Saya tidak pernah menganut faham ateis tetapi saya bukanlah seorang Kristen yang baik. Pernah terlintas difikiran mengapa ayah dan ibu saya tidak pernah bertanya sama ada saya ingin menjadi Kristen. Setiap hari Ahad, saya akan pergi ke gereja, berdoa, membantu pendeta dan menyanyi dalam koir. Saya menyakini kewujudan Tuhan, tetapi saya tidak pernah memahami agama ini.

Ketika remaja, saya masih ingat betapa saya berusaha keras untuk menjadi penganut Kristen yang baik. Sebenarnya saya tidak dapat memahami agama ini, untuk itu saya berusaha mendalaminya. Saya membaca buku tentang Kristen. Saya mengemukakan berbagai pertanyaan kepada pendeta. Saya mempunyai banyak informasi, sekalipun demikian saya tidak bisa memanggil diri saya Kristen. Saya tidak dapat mengatakan bahwa saya adalah seorang Kristen.

Saya menjalani kehidupan tanpa mendapat bimbingan Tuhan, seperti orang yang takut dan buta. Di mana saja saya berada, saya akan mencari Tuhan. Saya dapat merasakan betapa Tuhan begitu dekat. Saya dapat merasakan perlindungan dari-Nya, malah adakalanya saya dapat merasakan seolah-olah Dia sedang berbicara dengan saya. Saya merasa bahwa saya perlu mencari arah saya, kehidupan yang harus saya jalani dan saya perlu bekerja keras ke arah ini. Jika saya mencari lebih dalam sudah pasti saya akan dapat memahami tanda-tanda. Tanda-tanda tersebut bagi saya seperti huruf-huruf bercampur baur yang memerlukan saya untuk meleraikannya.

Saya merupakan anak kedua dalam keluarga. Ibu saya mengalami kesulitan saat melahirkan saya. Saya sungguh beruntung karena selamat. Dalam kehidupan ini saya selamat sebanyak dua kali dalam kejadian serius. Orang-orang menyuarakan rasa kagum mereka karena saya masih hidup. Saya percaya bahwa Tuhan telah menyelamatkan saya. Ketika mengingat-Nya, saya mula menghargai kehidupan saya. Saya menyadari betapa rapuhnya kehidupan manusia ini. Hanya Tuhan yang mengetahui kapan kehidupan ini akan berakhir.

Kesadaran ini menyebabkan saya memahami dan mempercayai Tuhan serta mendapat rahmat-Nya. Walaupun ketika itu saya merasa sakit. Apa saja yang Tuhan karuniakan kepada kita adalah dengan harapan, harapan yang kita akan menghargai semua karunia-Nya, harapan agar kita memahami apa yang Dia lakukan untuk kita.

Saya terlibat dalam sebuah tabrakan mobil yang serius sebelum ujian kelayakan memasuki universitas berlangsung. Saya tidak dapat bergerak, hanya sekadar terbaring di kasur lebih kurang selama 6 minggu. Saya hanya dapat mengerakkan kepala saya saja. Memang sukar sekali, tetapi dengan kekuatan yang diberikan Tuhan kepada saya, saya bisa menamatkan ujian tersebut dan lulus untuk masuk universitas. Doktor yang merawat saya merasa amat takjub dan tidak percaya bagaimana saya bisa menempuh kesulitan tersebut dan malah bisa menamatkan ujian saya. Dia mengatakan bahwa jika orang lain yang tertimpa masalah seperti saya, menurut pengalamannya, sudah pasti mereka hanya akan bergantung kepada obat penahan sakit.

Dokter mengatakan bahwa apa yang terjadi bukanlah nasib baik tetapi lebih merupakan sebuah mukjizat. Selepas kejadian tersebut, keyakinan saya pada Tuhan semakin bertambah, setiap hari saya merasa dekat dengan-Nya. Walaupun demikian, rasa kedekatan tersebut tidak bisa saya peroleh di gereja.

Bertahun-tahun saya ingin memahami Tuhan lewat sebuah agama. Perkara ini berlaku selepas saya bertemu dengan suami saya, seorang muslim. Dialah yang membimbing saya kepada Islam dan memberi ketenangan kepada jiwa saya. Pada mulanya kami tidak bercakap banyak tentang agama, kami hanya saling mencintai dan memahami. Suatu hari, dalam suasana riang, dia memberikan saya sebuah hadiah. Dia mengatakan, "Inilah hadiah saya buat anda, iman saya." Saya begitu terharu dengan setiap kata-katanya. Ketika dia membaca Quran, saat dia memberitahu saya mengenai mukjizat Quran, saya tertarik untuk belajar. Dia memberikan inspirasi sedemikian besar sehingga saya mula mempelajari Islam. Saya mencari informasi sebanyak mungkin. Selepas membaca buku, selepas melewati setiap halaman buku, saya bertambah yakin bahwa saya akan memeluk agama besar ini. Jiwa saya mula menjadi tenang.

Selepas beberapa bulan mempelajarinya saya memeluk agama Islam. Sungguh menakjubkan, terasa seolah-olah saya dilahirkan kembali. Tuhan begitu menyayangi saya sehingga mengizinkan saya untuk lahir kembali ke dunia ini. Dia mengizinkan saya menikmati pemberian ini. Usia saya mencapai 21 tahun, lebih matang dan bijak untuk memahaminya.Kini saya seorang muslim, tidak ada siapapun yang dapat memahami betapa indah dan berbedanya menjadi seorang muslim kecuali dia menjadi seorang muslim.

Tuhan menunjukkan matahari dari sudut pandang yang berbeda kepada saya ketika saya seorang Kristen. Matahari kini mempunyai maksud lain buat saya. Ketika matahari muncul, Tuhan memberikan kita cahaya dan melestarikan kehidupan. Dia menunjukkan cinta-Nya pada kita. Dia membenarkan kita merasakan kehangatan, tidak kedinginan, kita dapat melihat Dia lewat sinar cahaya ini, berwarna warni dan berbagai ragam. Tuhan memberikan malam untuk melihatkan betapa Dia peduli dengan kita. Dia mengizinkan kita tidur dan mengistirahatkan tubuh dan memastikan bahwa keesokkan harinya kita akan mendapatkan cahaya semula. Kita belajar untuk menaruh harapan kepada-Nya setiap hari. Dengan cara ini Dia senantiasa berbicara dengan kita dan kita dapat melihat kalimah dalam setiap mukjizat-Nya lewat mata kita.

Saya sungguh merasa bersyukur atas pemberian ini. Tuhan telah mengaruniakan sebuah kehidupan baru untuk saya. Dia mengizinkan saya melihat dunia lewat mata yang dikarunia-Nya. Kemana saja saya pergi dan apa saja yang saya lakukan, Tuhan senantiasa berada di sisi saya. Tuhan menyambut saya dan saya melihat segala tanda-tanda di sekitar saya dan saya tahu saya melangkah di jalan yang benar.

Ia mengambil masa untuk saya berubah seperti ini lewat suami saya yang telah membawa saya kepada Islam. Ketika kehidupan saya mula berubah, hati saya terbuka untuk Islam, jiwa saya dipenuhi dengan cinta untuk Allah Swt.

Apa yang saya harapkan ialah dunia bisa berubah seperti ini. Terlalu banyak wajah-wajah yang marah, yang lelah, yang mencari kesuksesan demi meraih kehidupan yang lebih baik. Mereka berjalan di muka bumi ini dengan perasaan salain membenci, saling cemburu, saling berselisih demi menjaga kepentingan diri sendiri. Mereka seolah-olah tidak dapat hidup damai. Mereka hanya ingin berperang. Setiap hari manusia semakin jatuh ke dalam kehampaan. Hanya ada satu jalan untuk memberhentikannya, andai saja Islam merupakan cara hidup untuk semua manusia dan mereka semua menemuinya dan menyakininya, sudah pasti peperangan tidak akan berlaku. Dengan Allah di dalam setiap hati, kita akan menemui kebahagiaan yang sebenarnya, kehidupan akan dipenuhi dengan kegembiraan. Kita akan dapat membina masa depan yang lebih baik untuk anak-anak kita dan kita tidak lagi akan merasa saling takut antara satu sama lain. (IRIB Indonesia/reverts muslim)

 

Senin, 01 Oktober 2012

Zuzana: Tinggal Satu Langkah Lagi Aku Memeluk Islam

Zuzana: Tinggal Satu Langkah Lagi Aku Memeluk Islam 

Nama saya Zuzana. Saya dilahirkan pada tahun 1977 di Czechoslavia. Saya pikir kedua orang tua saya pernah di baptis, tetapi dikarenakan pengaruh komunis yang kuat di negara kami, maka mereka tidak pernah berbicara mengenai kepercayaan mereka. Ibu saya malah tidak percaya dengan keberadaan Tuhan. Ayah saya baru-baru ini menemui kepercayaan pada Tuhan. Dia menganut ajaran guru spiritual India yang disebut sebagai Sang Mat. Ajaran ini begitu menghormati para sufi dan urafa (sebagian guru mereka ialah Sham e Tabrizi, Kabir, Bulle Shah…dan lain-lain).


Saya dan saudara lelaki saya dibesarkan dalam suasana yang sama sekali non-agamis, sama seperti yang dialami oleh anak-anak lain saat itu. Percaya pada Tuhan dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman, tidak sesuai dengan era sains dan teknologi. Di sekolah anak-anak diajar bahwa percaya pada Tuhan adalah hasil dari pikiran yang tidak matang orang-orang primitif. Konon pikiran ini menjelaskan keberadaan dan fenomena alam dengan kewujudan luar biasa yang adakalanya dikaitkan dengan petir dan sebagainya sebagai petunjuk ‘marah' sang Pencipta.

Ketika masih sekolah, (sebagai propaganda anti agama) kami diajar tentang gereja dan segala kejahatannya, mengenai memburu sihir, inkuisisi suci di Spanyol dan sebagainya. Syukurlah saya tidak pernah simpati dengan gereja Katolik. Konsep Trinitas juga tidak jelas dan membingungkan saya. Konsep ‘dosa asli' dirasakan tidak masuk akal.

Di balik ini, sebagai seorang anak kecil, saya pernah terpikir berkaitan "Permulaan" semua wujud, saya berpikir bagaimana semuanya bermula. Terbaring di atas kasur sebelum tidur, pikiran saya dipenuhi dengan segala persoalan yang tidak terjawab. Saya suka dengan ide orang yang lebih tua mengawasi kami. Saya pernah berdoa, dengan menggunakan "malaikat pelindung" memohon pelindungan ketika saya tidur.

Bertahun-tahun  berlalu, usia saya semakin bertambah, mungkin juga karena situasi pra komunis Czechoslavakia, saat setiap orang menikmati kebebasan dan perkara-perkara menarik yang datang dari Barat, musik Barat, fashion dan sebagainya. Saya mula melupakan ‘permulaan' dan berhenti memohon perlindungan dari malaikat untuk menjaga saya. Sebaliknya pikiran saya dipenuhi dengan fashion dan musik baru. Karena saya bukan dari keluarga kaya, banyak yang tidak dapat saya peroleh. Ini benar-benar mengecewakan saya. Saya hanyalah seorang anak gadis biasa Czechoslavakia, yang punya minat seperti anak-anak gadis lain di zaman saya. Seperti menyukai budaya hura-hura.

Sebenarnya saya tidak merasa gembira. Tempat yang sering saya kunjungi dan orang-orang yang saya temui, terasa semuanya dipenuhi dengan kedangkalan, ketamakan, egoisme dan materialisme. Tidak ada siapapun yang peduli dengan orang lain kecuali dirinya sendiri. Setiap orang berusaha mengeksploitasi orang lain sebanyak mungkin. Tidak ada tempat rasa peduli dan afeksi. Saya terus saja mengunjungi tempat-tempat tersebut. Sekalipun demikian saya tetap merasakan seperti orang asing.

Pada ketika itulah saya menamatkan pelajaran saya di Sekolah Tinggi dalam bidang ekonomi dan bekerja sebagai pembantu sebuah toko di Praque yang merupakan kota tujuan terkenal turis dari berbagai belahan dunia. Pemilik perusahaan tersebut adalah seorang doktor dari Iran. Sementara teman-teman sekerja saya sebagian dari Pakistan dan sebagian lagi dari Iran. Saat kami tidak punya pelanggan, kami sering saling berbincang. Adakalanya teman-teman tersebut berbicara mengenai Islam. Mula-mula timbul juga kewaspadaan, mengetahui bahwa mereka semua beragama Islam. Apa yang saya dengar tentang Islam sampai saat ini adalah ‘lagu lama' berkaitan Islam - bahwa Islam adalah agama ganas, tidak ada toleransi, agama ketinggalan zaman dan penganutnya kejam terhadap perempuan. Perempuan tidak punya hak dalam agama ini.

Masa di sekolah dasar dan sekolah tinggi, kami mempunyai pelajaran berkaitan Islam, tetapi ia tidak detil dan dipenuhi bias. Saya masih ingat pertama kali saya punya perasaan positif terhadap Islam, adalah saat pelajaran tentang orang-orang Spanyol di ekolah tinggi, ketika itu kami belajar mengenai Reconquista (era Spanyol mengalahkan muslim dan menguasai Spanyol tahun 1492). Profesor kami memberitahu bahwa ketika umat Islam memerintah di Sepanyol, Yahudi dan Kristen bebas mengamalkan kepercayaan mereka, tetapi ketika Spanyol menguasai negara tersebut, mereka memaksa penduduk di situ memeluk agama mereka, yaitu katolik. Pada masa itu terpikir dibenak saya, "Ada juga sisi positif tentang agama Islam…"

Inilah kali pertama saya menemui Muslim di tempat kerja. Saya begitu terkesan. Mereka merupakan orang yang baik perilaku dan berbudi bahasa. Bos kami tidak pernah membenarkan kaum perempuan melakukan kerja-kerja berat. Malah dia sendiri yang akan melakukannya. Begitu juga dengan rekan-rekan kerja yang lain, walaupun mereka mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari kami. Sebaliknya, manajer kami warga Czechoslavakia tidak pernah berlaku demikian. Dia adalah seorang playboy , rekan-rekan muslim kami juga tidak menyenanginya.

Selepas menemui mereka ini, timbul minat saya untuk mengkaji Islam. Saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih banyak berkaitan Islam. Mesti ada sesuatu yang tidak benar. Andainya agama ini begitu buruk, mengapa mereka yang mengamalkan Islam begitu baik? Saya pernah bertanya kepada mereka tentang hak-hak perempuan dalam Islam, jihad dan banyak lagi. Dan apa saja yang saya pertanyakan kepada mereka, jawabannya masuk akal, transparan dan hati saya mudah menerimanya. Tidak lama kemudian, saya menikah dengan rekan sekerja dari Pakistan. Dia tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang ateis. Dia ingat saya adalah seorang Kristen. Ianya merupakan peluang baik bagi saya untuk melihat sendiri bagaimana perilaku seorang suami muslim.

Saya sudah membaca buku ‘Not Without My Daughter' dan banyak lagi buku berkaitan dengan kasus perilaku buruk suami muslim terhadap isteri mereka sama ada mereka itu muslim atau tidak. Sebenarnya saya tidak merasa cemas. Saya bekerja dengannya, maka saya tahu dia adalah seorang yang baik. Saya teringat satu peristiwa, ketika itu saya baru bergabung dengan perusahaan tersebut. Saya baru bekerja dua minggu. Saya berbicara dengan ibu saya lewat telepon, rekan setugas (kini suami saya) kebetulan mendengar perbicaraan saya. Saya memberitahu ibu saya bahwa saya terlihat sehelai jaket cantik dan ingin membelinya tetapi saya belum punya uang yang mencukupi.

Dia menghampiri saya dan bertanya berapa harga jaket tersebut, lalu memberikan uang sebelum gaji saya tiba, malah lebih dari yang saya perlukan. Baik sekali jejaka ini! Dia pernah melakukan hal yang sama terhadap salah seorang pekerja perempuan di perusahaan ini. Malangnya orang tersebut adalah seorang penipu. Dia telah mengambil kesempatan dengan memberitahu bahwa ibunya sakit dan sedang dirawat di rumah sakit, maka dia memerlukan uang untuk operasi. Suami saya pun memberikan sejumlah uang kepadanya. Perempuan itu tidak pernah lagi kembali ketempat kerja. Suami sayalah yang terpaksa menggunakan uangnya untuk membayar kepada perusahaan.

Sebagai teman sekerja, dia memang seorang yang sopan, sebagai seorang suami, semoga Allah Swt merahmatinya, saya sungguh beruntung sekali mempunyai suami sepertinya. Malah rekan non muslim turut mengakui betapa dia adalah seorang yang istimewa.

Dia rajin membantu saya dengan kerja-kerja rumah, dia mengajar saya masak makanan Pakistan. Kadang-kadang dia yang memasak untuk saya. Ketika saya jatuh sakit, dialah yang merawat saya. Setelah berlalu 10 tahun perkahwinan, dia tidak pernah berubah…Alhamdulillah.

Dia sering bercerita kisah Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait kepada saya. Saya mula jatuh cinta pada sosok pribadi yang memiliki moral tinggi. Lantas saya mengambil keputusan untuk mempelajari Islam. Saya pergi ke perpustakaan dan meminjam buku-buku berkaitan Islam. Ibu saya seorang yang berpikiran terbuka pernah menghadiahkan buku tentang Islam sebagai hadiah Natal. Sayangnya, buku-buku tersebut hanya membuat saya bingung. Ketika suami saya berbicara mengenai Islam dan sejarah Islam, ia begitu logis dan indah sekali. Saat saya membaca buku-buku tersebut, saya merasa tidak selesai dengan fakta-fakta yang terdapat dalamnya. Ia tidak masuk akal dan Islam tampak tidak murni. Saya merasa kecewa dan terpikir bahwa saya tidak harus mempercayai tulisan non muslim. Semua orientalis bias terhadap Islam (sekalipun benar). Kemudian hari saya baru mengetahui siapa yang bertanggungjawab terhadap apa yang ditulis oleh orientalis-orientalis tersebut.

Ketika itu saya masih belum dapat membedakan antara Syiah dan Sunni (waktu itu saya ketahui bahwa semuanya adalah Islam), hanya apa yang saya tahu ialah Syiah meyakini bahwa Allah sajalah yang layak memilih siapa pengganti Nabi Muhammad Saw dan Tuhan melantik Ali as sebagai penggantinya. Manakala Sunni percaya bahwa Nabi tidak memilih siapa dan umat yang membuat pilihan siapa yang akan menjadi khalifah. Suami saya tidak banyak berbicara tentang perbedaan-perbedaan ini, dia meninggalkan kepada saya untuk mencarinya sendiri. Saya tidak dapat menerima kepercayaan Sunni. Bagi saya, hal ini tidak masuk akal, bagaimana bisa perkara yang sedemikian penting diserahkan kepada orang biasa, karena Allah mengetahui segalanya.

Secara perlahan-lahan, saya mula memahami mengapa saya tidak senang dengan buku-buku tulisan orientalis. Banyak sekali peristiwa sejarah Islam di dalamnya yang telah didistorsikan. Oleh sebab itulah saya memilih untuk menjadi pengikut Imam Ali as karena dia yang dapat memimpin umat selepas kewafatan Rasulullah. Beliau yang menegakkan Sunnah Rasulullah dan memelihara Islam dari penyimpangan.

Sebelum penemuan-penemuan ini, suami saya sering membawa saya menemui bos kami, warga Iran. Dia mempunyai pengetahuan tentang Islam, dia turut memberikan jawaban-jawaban pada pertanyaan saya. Saya puas hati dengan jawabannya. Saya menikmati pembahasan-pembahasan dengannya. Dia juga adalah seorang yang ramah dan sopan, demikian juga isteri dan anaknya. Mereka merupakan contoh keluarga Islam yang baik.

Apa yang membuat saya belum dapat menerima Islam ialah seperti anda ketahui saya adalah seorang ateis, saya belum dapat merasakan kewujudan Tuhan. Saya harus mencarinya. Saya harus menyakini kewujudan Tuhan dalam hati saya. Pernah, saya berkata pada bos saya, "Saya ingin mencintai Tuhan." Saya pikir inilah keyakinan benar pada Tuhan, untuk mencintaiNya, untuk mencintaiNya lebih dari yang lain. Bos saya berkata, " Anda tidak tahu betapa gembiranya saya mendengarkannya." Saya membuat keputusan untuk mencari kewujudan Tuhan dalam buku. Apa yang mereka katakan mengenai-Nya. Bagaimana mereka menjelaskan berkaitan Tuhan. Saya menemukan sebuah buku. Bukan buku Islam. Tetapi ianya ditulis oleh seorang wanita, mungkin Kristen, dia menulis berkaitan 3 kepercayaan monoteisme dan bagaimana mereka memandang Tuhan. Ia begitu filosofis membahasanya, bagaimanapun saya bersyukur, karena saya mendapat ide tentang Tuhan. Saya lupa judul buku tersebut dan nama penulisnya. Bagaimanapun saya mempercayai kewujudan Tuhan.

Yang tinggal adalah langkah terakhir, saya mengucapkan syahadah. Mula-mulanya memang agak sulit. Saya mulai berpikir bagaimana reaksi orang lain, bagaimana pandangan mereka ketika saya mengenakan hijab. Saya memang memutuskan untuk mengenakan hijab dari awal karena saya tahu bahwa hal ini diharuskan ke atas muslimah. Suami saya membantu menangani kebimbangan saya. Dia bertanya kepada saya, "Anda yakin dengan Islam?" Saya menjawab "Ya". Dia berkata; "Jika anda menyakininya, apa yang menyebabkan anda ragu untuk memeluk agama Islam?"

Dia mengajak saya untuk bertemu bos kami dan mengucapkan syahadah. Suami saya menelepon bos kami, bos dan isterinya sangat gembira. Bos kami menyusun acara untuk kami, isterinya menyediakan makanan enak buat kami. Mereka juga memberikan hadiah kepada saya, sehelai selendang sutera yang terus saya gunakan selepas mengucapkan syahadah. Saya masih menyimpan selendang tersebut.

Sebelum memeluk agama Islam, saya ingin memberitahu perkara ini kepada kedua orang tua saya. Mereka hanya mengetahuinya selepas saya memeluk agama Islam karena saya tidak dapat menghubunginya. Mereka memahami saya, berkaitan selendang saya, bapa saya menceritakan bahwa ketika dia masih muda, wanita di tempatnya tinggal tidak pernah keluar rumah tanpa mengenakan selendang di atas kepala mereka (dia berasal dari Slovakia). Dia membelikan saya dua selendang saat pulang dari India dan ketika rekannya membawa selendang Pashima sekembalinya dari berbulan madu, ayah saya menelepon saya untuk datang ke tempat kerjanya. Dia meminta saya memilih selendang buat diri saya. Ayah saya ke India lagi, dan anda bisa tebak apa yang dia belikan untuk saya-selendang (saya kira saya harus membuka toko hijab).

Tidak ada anggota keluarga saya yang menimbulkan masalah buat saya. Saya masih diterima sebagai anggota keluarga. Kami saling memahami dan menghormati. Saya berharap mereka juga menjadi muslim. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka. Amin. (revert muslim)

 

Minggu, 30 September 2012

Hayat Anne Collins: Memeluk Islam Telah Membuat Seluruh Dosaku Terampuni

Hayat Anne Collins: Memeluk Islam Telah Membuat Seluruh Dosaku Terampuni 

Saya dibesarkan dalam keluarga Kristen yang religius. Pada masa itu, orang-orang Amerika lebih agamis dari sekarang. Misalnya sebagian besar keluarga akan ke gereja setiap Ahad. Keluarga saya terlibat dalam komunitas gereja. Kami mempunyai pendeta protestan dalam rumah. Ibu saya mengajar sekolah hari Minggu, dan saya ikut membantunya.
Saya lebih agamis dari anak-anak lain walaupun saya tidak begitu memperhatikannya. Ibu saudara saya akan menghadiahkan saya Injil kepada saya, manakala adik perempuan saya mendapat boneka. Di waktu yang lain, saya meminta buku doa dari kedua orang tua saya. Saya membacanya setiap hari selama bertahun-tahun.
Ketika saya di sekolah menengah, saya mengikuti program studi Injil selama dua tahun. Saya telah membaca beberapa bagian dari Injil, tetapi saya tidak begitu memahaminya dengan baik. Inilah peluang bagi saya untuk belajar. Malangnya, kami belajar banyak bagian dari Buku Perjanjian Lama dan Buku Perjanjian Baru, dan saya mendapati banyak bagian yang tidak dapat diterima akal dan kabur.
Misalnya, Injil mengajar ide Dosa Original, yang bermaksud semua manusia lahir berdosa. Saya mempunyai seorang adik lelaki yang masih bayi, dan saya yakin benar bahwa bayi itu tidak berdosa. Injil juga mempunyai kisah-kisah aneh dan tidak masuk akal berkaitan dengan Nabi Ibrahim dan Nabi Daud. Saya tidak dapat menerima mengapa nabi bisa berperilaku demikian seperti yang disebutkan Injil.
Banyak sekali perkara-perkara yang membuat saya bingung tentang Injil, tetapi saya tidak pernah menyoal. Saya takut untuk bertanya ,saya lebih ingin dikenali sebagai seorang ‘anak yang baik'. Alhamdulillah, masih ada seorang anak lelaki yang sering bertanya.
Perkara yang paling kritikal adalah konsep Trinitas. Saya tidak dapat memahaminya. Bagaimana mungkin Tuhan punya tiga bagian dan salah satunya manusia? Saya pernah belajar sejarah mitos Yunani dan Roma di sekolah, saya pikir ide Trinitas dan kuasa luar biasa orang kudus begitu sama dengan ide-ide Yunai dan Roma tentang berbagai wujud ‘Tuhan' yang mengurusi aspek-aspek kehidupan yang berlainan.
Anak lelaki yang menyoal berbagai pertanyaan tentang Trinitas mendapat berbagai jawaban, tetapi dia tidak pernah puas hati. Saya juga demikian. Akhirnya, guru kami seorang profesor Teologi Universitas Michigan meminta dia berdoa untuk memperkokohkan imannya. Saya turut berdoa.
Ketika saya berada di sekolah tinggi, secara rahasia saya ingin menjadi biarawati. Saya tertarik dengan cara penyembahan yang masanya telah ditetapkan, gaya hidup yang sepenuhnya untuk Tuhan, cara berpakaian yang memperlihatkan cara hidup agamis. Satu-satunya halangan saya untuk mencapai cita-cita ini, saya bukan seorang Katolik.

Saya tinggal di kota Midwestern di mana Katolik merupakan minoritas yang tidak dipandang dan tidak popular! Lagi pula pendidikan protestan yang saya terima menyebabkan saya tidak dapat menerima keterasingan agamis, sebuah kepercayaan yang tidak sehat bahwa orang kudus yang mati punya upaya untuk membantu saya.
Di kolej, saya terus berfikir dan berdoa. Para pelajar sering membahas tentang agama dan saya mendengar berbagai ide. Seperti Yusuf Islam, saya juga belajar apa yang disebut agama orang-orang Timur seperti paham Buddhisme, Konfusisme dan Hinduisme. Semuanya tidak dapat membantu saya.
Saya bertemu seorang Muslim dari Libya. Dia memberitahu serba sedikit tentang Islam dan al-Quran. Dia memberitahu saya bahwa agama Islam adalah agama yang paling up-to-date. Saya pernah berpikir bahwa Afrika dan Timur Tengah adalah negara-negara terkebelakang, maka saya tidak dapat melihat Islam sebagai agama yang modern atau sesuai dengan zaman ini.
Keluarga saya membawa lelaki Muslim Libya ini ke acara Natal di gereja. Acara tersebut berlangsung dengan baik sekali. Pada akhir acara, dia bertanya, "Siapa yang menyusun aturan ini? Siapa yang mengajar kalian kapan untuk rukuk dan bertekuk lutut? Siapa yang mengajar anda untuk berdoa? Saya memberitahunya tentang sejarah gereja. Pada mulanya pertanyaan-pertanyaannya menimbulkan kemarahan saya, tetapi kemudian hal membuat saya berpikir.
Adakah orang yang mengatur acara penyembahan ini benar-benar layak untuk berbuat demikian? Bagaimana mereka bisa mengetahui bentuk penyembahan yang harus dilakukan? Adakah mereka menerima arahan dari langit?
Saya sadar sebenarnya saya tidak begitu mempercayai ajaran Kristen, tetapi saya tetap saja ke gereja. Saat perhimpunan membaca bagian yang saya anggap begitu karut, seperti Nicene Creed, saya mendiamkan diri, saya tidak turut membacanya. Saya rasa seperti alien dalam gereja, seperti orang asing.
Sebuah kejutan! Seseorang yang dekat dengan saya, punya masalah perkawinan. Dia ke gereja untuk mendapatkan nasihat. Pembantu pendeta menasihatinya malah mengambil kesempatan atas kehampaan dan kekecewaannya lalu membawanya ke motel dan memperkosanya.
Pada masa ini, saya masih belum berpikir secara teliti peran pendeta dalam kehidupan Kristen. Kini saya membuat keputusan untuk melakukannya. Sebagian besar percaya bahwa keampunan hanya bisa dilakukan dalam acara ‘Hubungan Suci'/perjamuan kudus tetapi pendeta yang telah dilantik harus memimpin acara ini. Tanpa pendeta maka tidak ada keampunan.
Saya kembali ke gereja, saya duduk dan melihat para pendeta yang berdiri di hadapan. Mereka kelihatan tidak lebih baik dari orang lain, malah sebagian kelihatan lebih parah. Sejauh mana benarnya sekelompok orang atau seseorang diperlukan untuk menjalin hubungan dengan Tuhan? Kenapa saya sendiri tidak bisa berhubung terus dengan Tuhan, dan menerima keampunan langsung dari-Nya?
Tidak lama kemudian, saya menemui terjemahan al-Quran di sebuah toko buku, sayapun membeli dan membacanya. Kadang-kadang saya membacanya, ini berlangsung selama 8 tahun. Pada masa yang sama saya turut meneliti agama lain.
Saya menjadi sadar dan takut pada dosa-dosa saya. Bagaimana saya bisa mengetahui bahwa Tuhan akan mengampuni saya. Saya tidak yakin dengan model Kristen, tidak mungkin cara Kristen itu dapat diterima. Dosa-dosa saya menjadi beban berat bagi saya. Saya tidak tahu bagaimana untuk bisa lari dari beban ini. Saya merindukan pengampunan.
Saya membaca dalam al-Quran surat al-Maidah ayat 84 yang artinya, "Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami memasukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang saleh."
Saya mulai menaruh harapan kepada Islam. Bagaimana saya dapat mencarinya? Saya melihat orang-orang Islam shalat dalam berita-berita televisi, dan saya tahu bahwa mereka mempunyai cara shalat yang khusus. Saya menemui sebuah buku yang menjelaskannya, sebuah buku yang ditulis oleh non muslim. Saya coba mengamalkannya. (saya tidak tahu apa-apa tentang wudhu) Saya shalat dengan cara tersebut secara rahasia selama bertahun-tahun.
Akhirnya selepas 8 tahun membeli Quran, saya membaca ayat 3, surat al-Maidah yang artinya, "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu nikmat Ku dan telah Ku ridhai Islam itu jadi agama bagimu."
Kini, saya sedar masih banyak yang perlu saya pelajari contohnya, bagaimana untuk mengerjakan shalat dengan benar. Karena Quran tidak memberi penjelasan yang detil. Masalahnya saya tidak punya kenalan Muslim.
Tidak seperti sekarang, dulu umat Islam tidaklah ramai seperti sekarang. Saya tidak tahu di mana untuk menemui mereka. Saya menemui nomor telepon masyarakat Islam dalam sebuah buku telepon. Saya pun menelepon, ada seorang lelaki yang menjawab, saya menjadi panik dan lantas meletakkan gagang telepon. Apa yang akan saya kata? Apakah jawaban mereka? Adakah mereka akan menaruh syak kepada saya? Mengapa mereka memerlukan saya?
Untuk beberapa bulan, saya menelepon masjid beberapa kali. Setiap kali saya menjadi panik dan meletakkan telepon. Seperti seorang penakut, saya menulis surat meminta informasi. Lelaki Muslim di masjid menelepon saya, kemudian menghantar pamflet berkaitan Islam. Saya memberitahunya bahwa saya ingin memeluk agama Islam. Tetapi dia memberitahu saya, "Tunggulah sampai anda benar-benar pasti." Saya merasa kecewa karena dia suruh saya menanti. Sekalipun demikian saya memahami bahwa apa yang dia kata benar. Saya haruslah mendapatkan kepastian. Sekali saya menerima Islam, tidak ada jalan kembali.
Saya menjadi begitu tertarik dengan Islam. Saya memikirkannya siang dan malam. Beberapa kali saya menyupir ke masjid (pada masa itu sebuah rumah lama diubah menjadi masjid) dan mengelilinginya beberapa kali dengan harapan saya dapat bertemu dengan muslim serta membayangkan apa yang terdapat dalam masjid tersebut.
Akhirnya, ketika saya sedang bekerja di dapur, tiba-tiba saya tahu bahwa saya adalah seorang Muslim. Seperti seorang penakut, saya menghantar surat ke masjid. Dalam surat itu saya menulis; Tiada Tuhan melainkan Allah, Nabi Muhammad adalah pesuruh-Nya. Saya ingin dihitung sebagai penganutnya.
Keesokkan harinya, lelaki Muslim itu menelepon saya dan saya melafazkan dua kalimat syahadah kepadanya. Dia memberitahu saya bahwa Allah Swt telah mengampuni dosa-dosa saya pada masa ini, dan saya seperti seorang bayi yang baru lahir ke dunia.

Saya merasakan beban dosa yang saya tanggung selama ini jatuh berguguran, saya menangis kegembiraan. Saya tidur sedikit malam itu, saya hanya bisa menangis dan berulang kali menyebut nama Allah. Pengampunan telah diberikan. Alhamdulillah. (IRIB Indonesia/ onislam.net)

Hanna: Ada Enam Perkara yang Mengantarku ke Jalan Lurus

Saya tidak pernah membayangkan diri saya sebagai seorang muslimah. Jika dua tahun lalu anda bertanya tentang Islam kepada saya, sudah pasti saya akan mencari kesalahan dalam Islam dan ajaran kerasnya. Ketika saya berusia 10 tahun, kakek saya yang menjadi misionaris lebih dari 40 tahun di tanah Muslim tidak mengizinkan saya sekalipun menyebut perkataan Muslim. Mereka memberitahu saya kisah-kisah menakutkan tentang bagaimana perilaku umat Islam terhadap Kristen dan non Muslim. Kononnya umat Islam menyiksa, memukul dan membunuh non Muslim.

Saya begitu takut, terutama selepas peristiwa 11 September. Hanya waktu yang menentukan kapan kelompok jihad menyerang kami di Michigan dan memaksa kepercayaan mereka ke atas kami. Keluarga Kristen saya hanya melihat kekerasan bila menyebut Islam. Mereka amat membenci Islam. Bagaimanapun kehidupan remaja saya dicemari dengan kesalahfahaman tentang Islam. Terdapat beberapa hal yang berlaku ke atas saya, menyebabkan pandangan saya terhadap Islam berubah.

Pertama, ketika itu saya berusia 14 tahun. Saya memisahkan diri dari ajaran Kristen, agama saya. Ayah saya seorang pastor dan menyiksa ibu saya. Selain itu ia mempunyai hubungan sulit dengan sekretarisnya. Saya melihat kekerasan dan kemunafikan dalam diri ayah saya. Apa yang lebih menyakitkan hati saya ialah melihat bagaimana anggota dan jemaat Kristen mengambil sikap terhadap ayah saya. Mereka sama saja ketika berbicara tentang Islam. Tapi dengan cara ini mereka memalukan nama Kristen. Saya menjadi amat kecewa dengan sebagian mereka yang menyebut dirinya Kristen tetapi gagal melaksanakan ajarannya. Orang yang tidak pernah membaca kitab suci dan sekadar menyerah atau patuh secara buta dengan apa yang diberitahu oleh pemimpin agama. Keimanan buta inilah yang tampak dalam masyarakat Kristen.

Saya sadar bahwa dalam setiap agama memang terjadi penyimpangan karena kita adalah manusia lemah. Saya merasakan bahwa agama Kristen bukanlah jalan buat saya. Injil telah diubah oleh tangan manusia dan sering kali diinterpretasi secara aneh. Oleh saya membuat keputusan untuk meninggalkannya.

Kedua, selama 8 tahun saya menghabiskan masa mencari agama. Saya bertemu dengan Wicca dan selama tiga tahun lebih saya mengikutinya. Sayangnya ia tidak dapat memberikan kepuasan bagi saya dalam menjalinkan hubungan saya dengan Yang Maha Kuasa. Saya sama sekali tidak setuju dengan konsep politeisme yang terdapat dalam Wicca. Jauh di sudut hati, saya adalah seorang monoteis. Dengan demikian saya meninggalkan jalan ini dan terus mencari kebenaran.

Ketiga, saya mengambil kelas agama dunia pada tahun pertama di sekolah tinggi dan untuk beberapa minggu saya mendengar ceramah berkaitan Islam. Sebenarnya pelajaran itu tidak begitu menarik hati saya, sehingga setengah tahun kemudian, itupun saat saya melihat kembali buku catatan saya. Guru yang mengajar saya adalah seorang pengajar katolik yang agak bias tetapi 95 persen dari apa yang saya pelajari adalah benar. Nota-nota tersebut merupakan garis panduan untuk pelajaran saya.

Keempat, saya diselamatkan saat saya memerlukannya. Saya telah lama tersesat di jalan pencarian kebenaran. Musim panas selepas kelas, saya mengambil narkotika dengan harapan dapat membuka mata dan mengisi ruh saya. Betapa bodohnya saya. Tuhan memberikan saya kesempatan untuk kali kedua. Peristiwa ini berlaku pada setelah hari Thanksgiving, pada bulan November. Saya meminum minuman keras. Saya berada di persimpangan antara dalam keadaan mabuk dan sadar. Saya menumpang bersama seorang teman dan mengemudi mobil untuk pulang ke rumah. Kami berada di jalan, saat seorang supir mabuk tidak memperdulikan lampu merah dan menabrak kami.

Sebuah mobil lagi terbang ke arah kami. Mobil kami terhempas dengan kuat ke celah dua pohon. Mobil kami hancur. Saya menjadi begitu takut, cemas menanti kematian. Kalau tak matipun, saya sadar bahwa saya akan dikenakan hukuman karena mengemudi memandu saat mabuk. Hukuman tersebut akan menyebabkan saya kehilangan hak untuk mendapat beasiswa dan seterusnya saya akan dikeluarkan dari sekolah tinggi. Peristiwa ini akan mencemari catatan bersih saya selama ini. Dan yang lebih buruk lagi, saya akan kehilangan kepercayaan dari ibu saya selepas lebih dari setahun bersih dari narkotika. Saya benar-benar tidak ingat apakah tabrakan itu kesalahan saya atau orang lain. Banyak saksi yang memberitahu bahwa tabrakan tersebut adalah kesalahan supir yang mabuk. Saya menarik nafas lega. Tapi saya masih harus menjalani ujian pemeriksaan penafasan untuk menentukan level kandungan alkohol yang terdapat dalam tubuh saya.

Saya masih di bawah usia dan telah menggunakan alkohol lebih dari batas yang dibenarkan UU. Saya mungkin telah mengambil vodka dua jam sebelum tabrakan. Dalam keadaan cemas dan takut, sebuah mukjizat telah menyelamatkan saya. Pemeriksaan yang dijalankan menunjukkan angka 0. Sungguh mustahil saat pegawai tersebut mengatakan diri saya bersih dari alkohol.

Malah saya diberitahu saya tidak mengalami cedera sedikitpun. Tabrakan itu sebenarnya bisa menyebabkan semua penumpang saya mati dan harus dirawat di rumah sakit. Saya selamat dan hanya mengalami luka kecil. Selepas itu saya tidak pernah lagi mengemudi saat mabuk. Beberapa bulan kemudian saya meninggalkan alkohol sama sekali. Saya dapat merasakan Tuhan telah menyelamatkan saya.

Kelima, Desember 2010. Saya menjalin hubungan dengan seorang muslim Syiah. Saya mula tertarik untuk mempelajari Islam. Saya belajar sedikit mengenai keyakinannya dan mula membaca buku. Buku-buku tersebut telah mengubah pandangan saya tentang Islam. Hati saya mula terbuka untuk Islam.

Keenam, Januari 2011, saya bertemu dan jatuh hati dengan seorang lelaki dari Saudi Arabia bermazhab Syiah, mahasiswa Universitas Western Michigan. (Alhamdulillah, dia kini adalah suami saya). Dia adalah seorang yang religius. Saya amat menghormati cara dia menjalani kehidupannya. Ketika dia menunaikan shalat, saya turut shalat bersamanya. Dialah yang menyebabkan timbul cinta saya kepada Islam. Kami banyak melakukan pembahasan berkaitan agama, filsafat dan teologi. Saya mula membaca secara serius berkaitan Islam, dan bertanya kepadanya berbagai persoalan.

Dia membawa saya ke kota Dearbon dan memperlihatkan kepada saya budaya Islam yang kental di kota ini. Saya senang sekali melihat wanita yang mengenakan hijab, tanda-tanda yang berbahasa Arab dan Inggris tertera di bangunan. Terdengar suara-suara yang mengunakan bahasa Arab di mana saja dan bau aroma makanan halal yang memenuhi ruang udara. Saya jatuh cinta dengan Islam. Beberapa bulan kemudian, di sebuah toko buku yang hanya memiliki 24 buku. Teman lelaki saya menemukan sebuah al-Quran berkulit biru dan keemasan. Dia membelikannya untuk saya. Melihatnya saja membuat saya damai. Semakin saya membaca, semakin dahaga rasanya. Kata-katanya seperti apa yang saya cari selama ini. Saya membacanya dalam bahasa Inggris, saat ini saya sedang belajar bahasa Arab supaya saya dapat mempelajari al-Quran dalam konteks aslinya.

Saya tidak pernah merasakan kepuasan seperti yang saya alami ketika ini. Semua peristiwa yang berlaku dalam hidup saya, yang indah dan yang buruk, terutama enam perkara yang telah saya sebutkan, telah membawa saya ke jalan yang lurus. Saya mengakui bahwa ektrimis muslim telah mengajar saya menjadi takut saat saya masih muda, telah hilang, sesat dan menyimpang dari Jalan Allah dalam upaya untuk menjustifikasi keinginan dan ketamakan mereka. Bukan kesalahan Allah, bukan kesalahan dalam Firman-Nya, tidak juga kesalahan Islam atau umatnya. Allah Swt senantiasa Maha Pengasih, Maha Berkuasa dan Maha Agung atas segala yang ada di alam semesta ini. (IRIB Indonesia/reverts muslim)