Rabu, 26 September 2012

Tadarus >> Dialog Ashab Al-Kahfi Dalam Mempertahankan Keimanannya

Tadarus; Dialog Ashab Al-Kahfi Dalam Mempertahankan Keimanannya

Iman kepada Allah merupakan sebuah modal yang menjadikan manusia senantiasa aktif dan berkembang. Dengan menyambungkan diri dengan Sang Pencipta alam, seseorang akan melihat kehidupan ini menjadi indah, namun pada saat yang sama ia tidak terikat dengan keindahan duniawi. Bahkan menjadikannya sebagai jembatan untuk mencapai kebahagiaan ukhrawi.


Di bawah naungan spiritual dan lezatnya keakraban dengan Allah, jiwa manusia akan bersemi dan segar. Ia tidak akan merasa lelah dan putus asa. Ia tidak akan disibukkan oleh hal-hal yang hina dan rendah. Dalam kondisi seperti ini kedudukan dan jabatan serta kelezatan duniawi tidak memiliki nilai abadi di matanya.

Al-Quran dalam ayat 9 sampai 26 surat al-Kahfi menceritakan tentang pemuda-pemuda yang beriman. Dengan resistensi dan keteguhannya mereka telah menghidupkan jiwa tauhid. Allah telah menambahkan petunjuk-Nya dan memberikan keyakinan kepada mereka. Pemuda-pemuda ini hidup di tengah-tengah suasana kekufuran, kesyirikan dan kebodohan. Mereka adalah para pendamping raja. Mereka menyaksikan masyarakat bersujud di hadapan rajanya dan sekolompok lainnya memberikan hadiah kepada tuhan-tuhannya yang tidak bernyawa. Perbuatan dan sikap-sikap masyarakat ini membuat hati mereka sesak dan tertekan. Akhirnya raja mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang bertauhid dan menyembah Allah. Raja memanggil mereka. Kepada satu sama lainnya orang-orang mukmin ini berkata, "Kita datang menghadap raja bersama-sama tapi tetap teguh dengan keyakinan kita dan tidak akan melepaskan keimanan kita."

Ketika raja melihat mereka, langsung berkata dengan suara keras, "Di istanaku kalian membicarakan tentang keesaan Tuhan?"

Maximilian menantu raja berkata, "Kami betul-betul telah berpikir tentang Tuhan Yang Esa. Tuhan kami adalah Pencipta langit dan bumi. Kami tidak akan menyeru tuhan selain Dia. Bila kami berbicara demikian, sungguh kami telah berbicara nyeleneh."

Raja memberikan peluang selama satu hari kepada mereka untuk meninggalkan agamanya dengan upaya bisa mendapatkan kembali segala fasilitas darinya sebagaimana sebelumnya.

Para pemuda pecinta Allah ini bermusyawarah bersama dan mengambil keputusan untuk meninggalkan lingkungan penuh kekufuran itu dan hijrah ke tempat lain supaya bisa menjaga keimanannya dan menyebarkan ideologi tauhid.

Allah berfirman, "Kami telah meneguhkan hati mereka dan mengilhami mereka bila kalian telah menjauh, maka berlindunglah ke goa dan Allah akan meluaskan rahmat-Nya untuk kalian serta membukakan jalan kemudahan dan keselamatan bagi kalian."

Mereka berjalan menuju goa dan tinggal di dalamnya, sementara anjingnya meluruskan kedua tangannya di depan pintu goa. Karena yakin akan pertolongan Allah, mereka berdoa seraya berkata, "Wahai Tuhan kami! berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)."

Dan Allah pun mengabulkan doa mereka dan menjadikan mereka tertidur selama bertahun-tahun.

Selanjutnya al-Quran menceritakan tentang kondisi dan lingkungan mereka:

"Dan kalian akan melihat matahari ketika terbit, condong dari goa mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam goa itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kalian tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya."

"(bila kamu melihat mereka) kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka meluruskan kedua lengannya di muka pintu goa. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka."

"Dan demikianlah Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah seorang di antara mereka: Sudah berapa lamakah kalian berada (disini?)" Mereka menjawab, "Kita berada (disini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi), "Tuhan kalian lebih mengetahui berapa lamanya kalian berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kalian untuk pergi ke kota dengan membawa uang perak kalian ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia membawa makanan itu untuk kalian, dan hendaklah ia berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan hal kalian kepada seorangpun."

"Karena bila mereka mengetahui kondisi kalian, maka mereka akan merajam kalian atau memaksa kalian untuk kembali kepada keyakinan dan agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama lamanya."

Di sini al-Quran mengisayaratkan tentang tidurnya Ashab Kahfi selama 309 tahun dan bangunnya mereka atas kehendak Allah. Allah memberitahukan tentang kepastian Hari Kiamat dan kembali bangkitnya manusia seraya berfirman, "Dan demikianlah Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan Hari Kiamat tidak ada keraguan padanya."

Setelah Ashab Kahfi bangun, mereka tidak hidup lama. Ketika mereka pergi ke kota untuk membeli makanan, mereka memahami bahwa dirinya bukan orang-orang yang hidup di zaman itu. Segala menunjukkan bahwa zaman telah lama berlalu dan tidak lagi kelihatan tanda-tanda kesyirikan dan kekufuran. Mereka meninggal dunia setelah menemukan mukjizat ilahi dan dari situlah mulai terjadi perselisihan di tengah-tengah masyarakat.

Sekelompok orang berkata, "Dirikan sebuah bangunan di atas (goa) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka."  Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata, "Sesungguhnya kami akan mendirikan sebuah rumah peribadatan di atasnya."

Kemudian Allah mengisyaratkan jumlah Ashab Kahfi dan lamanya mereka tidur dan berfirman, "Katakanlah, "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) mereka kecuali sedikit." Karena itu janganlah kamu (Muhammad) bertengkar tentang hal mereka, kecuali pertengkaran lahir saja dan jangan kamu menanyakan tentang mereka (pemuda-pemuda itu) kepada seorangpun di antara mereka."

"Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi)."

"Katakanlah, "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di goa); kepunyaan-Nya-lah semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya; tak ada seorang pelindungpun bagi mereka selain dari pada-Nya; dan Dia tidak mengambil seorangpun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan." (IRIB Indonesia / Emi Nur Hayati)

0 komentar:

Posting Komentar