Senin, 01 Oktober 2012

Zuzana: Tinggal Satu Langkah Lagi Aku Memeluk Islam

Zuzana: Tinggal Satu Langkah Lagi Aku Memeluk Islam 

Nama saya Zuzana. Saya dilahirkan pada tahun 1977 di Czechoslavia. Saya pikir kedua orang tua saya pernah di baptis, tetapi dikarenakan pengaruh komunis yang kuat di negara kami, maka mereka tidak pernah berbicara mengenai kepercayaan mereka. Ibu saya malah tidak percaya dengan keberadaan Tuhan. Ayah saya baru-baru ini menemui kepercayaan pada Tuhan. Dia menganut ajaran guru spiritual India yang disebut sebagai Sang Mat. Ajaran ini begitu menghormati para sufi dan urafa (sebagian guru mereka ialah Sham e Tabrizi, Kabir, Bulle Shah…dan lain-lain).


Saya dan saudara lelaki saya dibesarkan dalam suasana yang sama sekali non-agamis, sama seperti yang dialami oleh anak-anak lain saat itu. Percaya pada Tuhan dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan ketinggalan zaman, tidak sesuai dengan era sains dan teknologi. Di sekolah anak-anak diajar bahwa percaya pada Tuhan adalah hasil dari pikiran yang tidak matang orang-orang primitif. Konon pikiran ini menjelaskan keberadaan dan fenomena alam dengan kewujudan luar biasa yang adakalanya dikaitkan dengan petir dan sebagainya sebagai petunjuk ‘marah' sang Pencipta.

Ketika masih sekolah, (sebagai propaganda anti agama) kami diajar tentang gereja dan segala kejahatannya, mengenai memburu sihir, inkuisisi suci di Spanyol dan sebagainya. Syukurlah saya tidak pernah simpati dengan gereja Katolik. Konsep Trinitas juga tidak jelas dan membingungkan saya. Konsep ‘dosa asli' dirasakan tidak masuk akal.

Di balik ini, sebagai seorang anak kecil, saya pernah terpikir berkaitan "Permulaan" semua wujud, saya berpikir bagaimana semuanya bermula. Terbaring di atas kasur sebelum tidur, pikiran saya dipenuhi dengan segala persoalan yang tidak terjawab. Saya suka dengan ide orang yang lebih tua mengawasi kami. Saya pernah berdoa, dengan menggunakan "malaikat pelindung" memohon pelindungan ketika saya tidur.

Bertahun-tahun  berlalu, usia saya semakin bertambah, mungkin juga karena situasi pra komunis Czechoslavakia, saat setiap orang menikmati kebebasan dan perkara-perkara menarik yang datang dari Barat, musik Barat, fashion dan sebagainya. Saya mula melupakan ‘permulaan' dan berhenti memohon perlindungan dari malaikat untuk menjaga saya. Sebaliknya pikiran saya dipenuhi dengan fashion dan musik baru. Karena saya bukan dari keluarga kaya, banyak yang tidak dapat saya peroleh. Ini benar-benar mengecewakan saya. Saya hanyalah seorang anak gadis biasa Czechoslavakia, yang punya minat seperti anak-anak gadis lain di zaman saya. Seperti menyukai budaya hura-hura.

Sebenarnya saya tidak merasa gembira. Tempat yang sering saya kunjungi dan orang-orang yang saya temui, terasa semuanya dipenuhi dengan kedangkalan, ketamakan, egoisme dan materialisme. Tidak ada siapapun yang peduli dengan orang lain kecuali dirinya sendiri. Setiap orang berusaha mengeksploitasi orang lain sebanyak mungkin. Tidak ada tempat rasa peduli dan afeksi. Saya terus saja mengunjungi tempat-tempat tersebut. Sekalipun demikian saya tetap merasakan seperti orang asing.

Pada ketika itulah saya menamatkan pelajaran saya di Sekolah Tinggi dalam bidang ekonomi dan bekerja sebagai pembantu sebuah toko di Praque yang merupakan kota tujuan terkenal turis dari berbagai belahan dunia. Pemilik perusahaan tersebut adalah seorang doktor dari Iran. Sementara teman-teman sekerja saya sebagian dari Pakistan dan sebagian lagi dari Iran. Saat kami tidak punya pelanggan, kami sering saling berbincang. Adakalanya teman-teman tersebut berbicara mengenai Islam. Mula-mula timbul juga kewaspadaan, mengetahui bahwa mereka semua beragama Islam. Apa yang saya dengar tentang Islam sampai saat ini adalah ‘lagu lama' berkaitan Islam - bahwa Islam adalah agama ganas, tidak ada toleransi, agama ketinggalan zaman dan penganutnya kejam terhadap perempuan. Perempuan tidak punya hak dalam agama ini.

Masa di sekolah dasar dan sekolah tinggi, kami mempunyai pelajaran berkaitan Islam, tetapi ia tidak detil dan dipenuhi bias. Saya masih ingat pertama kali saya punya perasaan positif terhadap Islam, adalah saat pelajaran tentang orang-orang Spanyol di ekolah tinggi, ketika itu kami belajar mengenai Reconquista (era Spanyol mengalahkan muslim dan menguasai Spanyol tahun 1492). Profesor kami memberitahu bahwa ketika umat Islam memerintah di Sepanyol, Yahudi dan Kristen bebas mengamalkan kepercayaan mereka, tetapi ketika Spanyol menguasai negara tersebut, mereka memaksa penduduk di situ memeluk agama mereka, yaitu katolik. Pada masa itu terpikir dibenak saya, "Ada juga sisi positif tentang agama Islam…"

Inilah kali pertama saya menemui Muslim di tempat kerja. Saya begitu terkesan. Mereka merupakan orang yang baik perilaku dan berbudi bahasa. Bos kami tidak pernah membenarkan kaum perempuan melakukan kerja-kerja berat. Malah dia sendiri yang akan melakukannya. Begitu juga dengan rekan-rekan kerja yang lain, walaupun mereka mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari kami. Sebaliknya, manajer kami warga Czechoslavakia tidak pernah berlaku demikian. Dia adalah seorang playboy , rekan-rekan muslim kami juga tidak menyenanginya.

Selepas menemui mereka ini, timbul minat saya untuk mengkaji Islam. Saya jadi tertarik untuk mengetahui lebih banyak berkaitan Islam. Mesti ada sesuatu yang tidak benar. Andainya agama ini begitu buruk, mengapa mereka yang mengamalkan Islam begitu baik? Saya pernah bertanya kepada mereka tentang hak-hak perempuan dalam Islam, jihad dan banyak lagi. Dan apa saja yang saya pertanyakan kepada mereka, jawabannya masuk akal, transparan dan hati saya mudah menerimanya. Tidak lama kemudian, saya menikah dengan rekan sekerja dari Pakistan. Dia tidak mengetahui bahwa saya adalah seorang ateis. Dia ingat saya adalah seorang Kristen. Ianya merupakan peluang baik bagi saya untuk melihat sendiri bagaimana perilaku seorang suami muslim.

Saya sudah membaca buku ‘Not Without My Daughter' dan banyak lagi buku berkaitan dengan kasus perilaku buruk suami muslim terhadap isteri mereka sama ada mereka itu muslim atau tidak. Sebenarnya saya tidak merasa cemas. Saya bekerja dengannya, maka saya tahu dia adalah seorang yang baik. Saya teringat satu peristiwa, ketika itu saya baru bergabung dengan perusahaan tersebut. Saya baru bekerja dua minggu. Saya berbicara dengan ibu saya lewat telepon, rekan setugas (kini suami saya) kebetulan mendengar perbicaraan saya. Saya memberitahu ibu saya bahwa saya terlihat sehelai jaket cantik dan ingin membelinya tetapi saya belum punya uang yang mencukupi.

Dia menghampiri saya dan bertanya berapa harga jaket tersebut, lalu memberikan uang sebelum gaji saya tiba, malah lebih dari yang saya perlukan. Baik sekali jejaka ini! Dia pernah melakukan hal yang sama terhadap salah seorang pekerja perempuan di perusahaan ini. Malangnya orang tersebut adalah seorang penipu. Dia telah mengambil kesempatan dengan memberitahu bahwa ibunya sakit dan sedang dirawat di rumah sakit, maka dia memerlukan uang untuk operasi. Suami saya pun memberikan sejumlah uang kepadanya. Perempuan itu tidak pernah lagi kembali ketempat kerja. Suami sayalah yang terpaksa menggunakan uangnya untuk membayar kepada perusahaan.

Sebagai teman sekerja, dia memang seorang yang sopan, sebagai seorang suami, semoga Allah Swt merahmatinya, saya sungguh beruntung sekali mempunyai suami sepertinya. Malah rekan non muslim turut mengakui betapa dia adalah seorang yang istimewa.

Dia rajin membantu saya dengan kerja-kerja rumah, dia mengajar saya masak makanan Pakistan. Kadang-kadang dia yang memasak untuk saya. Ketika saya jatuh sakit, dialah yang merawat saya. Setelah berlalu 10 tahun perkahwinan, dia tidak pernah berubah…Alhamdulillah.

Dia sering bercerita kisah Nabi Muhammad Saw dan Ahlul Bait kepada saya. Saya mula jatuh cinta pada sosok pribadi yang memiliki moral tinggi. Lantas saya mengambil keputusan untuk mempelajari Islam. Saya pergi ke perpustakaan dan meminjam buku-buku berkaitan Islam. Ibu saya seorang yang berpikiran terbuka pernah menghadiahkan buku tentang Islam sebagai hadiah Natal. Sayangnya, buku-buku tersebut hanya membuat saya bingung. Ketika suami saya berbicara mengenai Islam dan sejarah Islam, ia begitu logis dan indah sekali. Saat saya membaca buku-buku tersebut, saya merasa tidak selesai dengan fakta-fakta yang terdapat dalamnya. Ia tidak masuk akal dan Islam tampak tidak murni. Saya merasa kecewa dan terpikir bahwa saya tidak harus mempercayai tulisan non muslim. Semua orientalis bias terhadap Islam (sekalipun benar). Kemudian hari saya baru mengetahui siapa yang bertanggungjawab terhadap apa yang ditulis oleh orientalis-orientalis tersebut.

Ketika itu saya masih belum dapat membedakan antara Syiah dan Sunni (waktu itu saya ketahui bahwa semuanya adalah Islam), hanya apa yang saya tahu ialah Syiah meyakini bahwa Allah sajalah yang layak memilih siapa pengganti Nabi Muhammad Saw dan Tuhan melantik Ali as sebagai penggantinya. Manakala Sunni percaya bahwa Nabi tidak memilih siapa dan umat yang membuat pilihan siapa yang akan menjadi khalifah. Suami saya tidak banyak berbicara tentang perbedaan-perbedaan ini, dia meninggalkan kepada saya untuk mencarinya sendiri. Saya tidak dapat menerima kepercayaan Sunni. Bagi saya, hal ini tidak masuk akal, bagaimana bisa perkara yang sedemikian penting diserahkan kepada orang biasa, karena Allah mengetahui segalanya.

Secara perlahan-lahan, saya mula memahami mengapa saya tidak senang dengan buku-buku tulisan orientalis. Banyak sekali peristiwa sejarah Islam di dalamnya yang telah didistorsikan. Oleh sebab itulah saya memilih untuk menjadi pengikut Imam Ali as karena dia yang dapat memimpin umat selepas kewafatan Rasulullah. Beliau yang menegakkan Sunnah Rasulullah dan memelihara Islam dari penyimpangan.

Sebelum penemuan-penemuan ini, suami saya sering membawa saya menemui bos kami, warga Iran. Dia mempunyai pengetahuan tentang Islam, dia turut memberikan jawaban-jawaban pada pertanyaan saya. Saya puas hati dengan jawabannya. Saya menikmati pembahasan-pembahasan dengannya. Dia juga adalah seorang yang ramah dan sopan, demikian juga isteri dan anaknya. Mereka merupakan contoh keluarga Islam yang baik.

Apa yang membuat saya belum dapat menerima Islam ialah seperti anda ketahui saya adalah seorang ateis, saya belum dapat merasakan kewujudan Tuhan. Saya harus mencarinya. Saya harus menyakini kewujudan Tuhan dalam hati saya. Pernah, saya berkata pada bos saya, "Saya ingin mencintai Tuhan." Saya pikir inilah keyakinan benar pada Tuhan, untuk mencintaiNya, untuk mencintaiNya lebih dari yang lain. Bos saya berkata, " Anda tidak tahu betapa gembiranya saya mendengarkannya." Saya membuat keputusan untuk mencari kewujudan Tuhan dalam buku. Apa yang mereka katakan mengenai-Nya. Bagaimana mereka menjelaskan berkaitan Tuhan. Saya menemukan sebuah buku. Bukan buku Islam. Tetapi ianya ditulis oleh seorang wanita, mungkin Kristen, dia menulis berkaitan 3 kepercayaan monoteisme dan bagaimana mereka memandang Tuhan. Ia begitu filosofis membahasanya, bagaimanapun saya bersyukur, karena saya mendapat ide tentang Tuhan. Saya lupa judul buku tersebut dan nama penulisnya. Bagaimanapun saya mempercayai kewujudan Tuhan.

Yang tinggal adalah langkah terakhir, saya mengucapkan syahadah. Mula-mulanya memang agak sulit. Saya mulai berpikir bagaimana reaksi orang lain, bagaimana pandangan mereka ketika saya mengenakan hijab. Saya memang memutuskan untuk mengenakan hijab dari awal karena saya tahu bahwa hal ini diharuskan ke atas muslimah. Suami saya membantu menangani kebimbangan saya. Dia bertanya kepada saya, "Anda yakin dengan Islam?" Saya menjawab "Ya". Dia berkata; "Jika anda menyakininya, apa yang menyebabkan anda ragu untuk memeluk agama Islam?"

Dia mengajak saya untuk bertemu bos kami dan mengucapkan syahadah. Suami saya menelepon bos kami, bos dan isterinya sangat gembira. Bos kami menyusun acara untuk kami, isterinya menyediakan makanan enak buat kami. Mereka juga memberikan hadiah kepada saya, sehelai selendang sutera yang terus saya gunakan selepas mengucapkan syahadah. Saya masih menyimpan selendang tersebut.

Sebelum memeluk agama Islam, saya ingin memberitahu perkara ini kepada kedua orang tua saya. Mereka hanya mengetahuinya selepas saya memeluk agama Islam karena saya tidak dapat menghubunginya. Mereka memahami saya, berkaitan selendang saya, bapa saya menceritakan bahwa ketika dia masih muda, wanita di tempatnya tinggal tidak pernah keluar rumah tanpa mengenakan selendang di atas kepala mereka (dia berasal dari Slovakia). Dia membelikan saya dua selendang saat pulang dari India dan ketika rekannya membawa selendang Pashima sekembalinya dari berbulan madu, ayah saya menelepon saya untuk datang ke tempat kerjanya. Dia meminta saya memilih selendang buat diri saya. Ayah saya ke India lagi, dan anda bisa tebak apa yang dia belikan untuk saya-selendang (saya kira saya harus membuka toko hijab).

Tidak ada anggota keluarga saya yang menimbulkan masalah buat saya. Saya masih diterima sebagai anggota keluarga. Kami saling memahami dan menghormati. Saya berharap mereka juga menjadi muslim. Semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka. Amin. (revert muslim)

 

0 komentar:

Posting Komentar